Kamis, 25 Juni 2015

Cahaya Hati, Lentera Amanah.


Seorang wanita mulia mendapatkan pesan dari suaminya, ia mendapatkan 30.000 dinar, untuk ia simpan dan pergunakan sebagai mana mestinya. Usai itu, suaminya pergi ke medan jihad hingga tidak kembali beberapa lama.

Amanah padanya tidak hanya dinar tersebut, tapi jabang bayi yang bersemayam di rahimnya. Untuk jangka waktu yang lama, sang penitip amanah tidak juga kembali. Tanggung jawab itu, dia emban dengan baik. Diasuh dan didiknya putra semata wayangnya. Dilihat potensi sang belahan jiwa, dia titipkan pada banyak alim ulama. Mimpinya menjadikan putranya menguasai ilmu kebaikan. Kerena, keshalihan putranya tersebut adalah investasi terbaik baginya.

Sepanjang waktu yang beranjak senja, putranya memiliki ketertarikan yang luar biasa terhadap fiqh. Semakin hari, terlihat begitu cemerlangnya separuh jiwanya itu, banyak yang terpesona dengan ilmu yang membuatnya bangga membuncah.

Seusai itulah, tidak ragu bagi sang ibu untuk memberikan hadiah belipat-lipat kepada ahli ilmu yang membimbing putranya. Ia begitu dermawan. Diberikan berlebihan dari harta dinar titipan suaminya. Bahkan hingga kinipun, sang suami belum juga pulang.

Sang ibu tidak segan-segan untuk menghabiskan hartanya, demi bait per bait ilmu yang didapat oleh sang putra.  Hingga beberapa waktu lamanya, diusia senja sang suami datang padanya. Namun, terbesit kekhawatiran, bagaimana jika sang suami menanyakan amanah 30.000 dinar pada 30 tahun yang lalu. Sedangkan tiada tersisa sedikit pun ditangannya.

Selagi sang ibu mencari jawab atas tanya itu, sang suami menghadiri majelis ilmu. Seorang syaikh yang dilingkari oleh tua, muda, kaya dan miskin. Bahkan wajahnya tidak juga tidak bisa ia lihat dengan jelas. Maka ditanyakannya pada orang sekitar, penjelasannya membuatnya takjub. Membuatnya melelehkan air mata keharuan.

Terburu-burulah ia menemui istrinya, memeluknya. Syaikh yang dilihatnya adalah putranya. Namanya Rabi’ah putra Farrukh. Maka diucapkanlah oleh istrinya, “manakah yang kausukai, uang 30.000 dinar atau ilmu dan kehormatan yang telah dicapai putramu?”

Maka diakuinya bahwa harta 30.000 dinar telah ia habiskan demi kebutuhan putranya. Namun, Farrukh berkata “Demi Allah, bahkan ini lebih aku sukai daripada dunia seisinya”.

Amanah Diri

Selembar jiwa ini bersemayam dalam tubuh sempurna. Dia dilengkapi dengan degup jantung, paru-paru yang dipenuhi oksigen tanpa bayar, panca indera yang mampu menyalurkan keindahan dunia fana. Entah, ia kurus, gemuk, hitam, kuning, cantik, tampan, mempesona ataupu tidak. Ia tetap sebuah karunia yang mahakarya.

Ia diciptakan dilingkupi oleh amanah. Setiap tarikan nafas ini adalah episode mancari jawab. Sebuah jawab dari tanya di akhirat kelak. Dan mampukah jawab itu terlontar dengan sempurna. Kita belajar dari ummu Rabiah soal menjaga amanah. Dinarnya adalah amanah. Namun putranya juga amanah. Menjadikan shalih seorang putra adalah hak baginya.

Ummu Rabi'ah tahu bagaimana memperlakukan sebuah amanah. Dinar yang sirnah karena pencapaian ilmu bagi putranya, adalah jawab dari sebuah amanah sang suami. 

Ilmu adalah cahaya

Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tak mengetahui? Sesungguhnya, Ulul Albablah yang dapat mengambil pelajaran. (Q.s. Az. Zumar :9)

Mencari tahu dan berilmu adalah hak. Dengannya segala kerumitan menjadi mudah. Temaram menjadi terang. Dengan berilmu, mudahlah seorang diri memilah mana baik dan tidak. Ilmu pula yang menenggelamkan keputusasaan. Karena dengan berilmu kita mampu mengenal jauh Tuhan kita. Sehingga tahu bagaimana amanah ini harus dijalankan.

Kita perlu peluh dalam mengkaji ilmu. Anak desa rela mengayuh sepeda hanya untuk menguasi huruf-huruf untuknya bisa membaca. Menguasai sebuah ilmu diperlukan kegigihan sejati. Berilmu dunia bisa begitu masyur. Bagaimana dengan ilmu tentang akhlak dan aturan hidup sebuah titah amanah Illahi (Al Qur'an). Karena dalam keimanan, tiada pemisahan antara urusan dunia ataupun akhirat. 

Dan sebagaimana janjiNya terhadap anak yang mampu menguasai Al Qur’an. Mahkota akan disematkan bagi kedua orang tuanya. Sebab itulah, betapa dinar dunia tidak mampu menandingi seorang anak yang berilmu. Karena hanya bagi orang yang berilmulah pula yang mampu mengerti untuk tidak meninggalkan sebuah generasi pelupa amalan Al Qur’an.

Oleh sebab itu, pendidikan islami adalah sebuah sindikat kebaikan. Konspirasi kesalehan. Disana tersaji bagian-bagian untuk mendapatkan amal jariah. Ini berlaku bagi siapapun yang rela mengusahakannya, walaupun ia hanya sekedar pembersih pelataran dimana ilmu itu ditimba.

Karena tangisan penyesalan, bukanlah jawaban dari sebuah amanah. Walaupun, kita hidup sebenarnya hanya untuk mampu mencari jawab dari segala amanah yang melekat.

Duhai Robbi. Kami mohon cahaya pada hati kami, cahaya ilmu, cahaya amanah, penerang jalan kami di dunia dan akhirat. Generasi Qur’ani adalah beranda surga. Tidak mengapa, walau baru melihat berandanya saja.

Duren sawit, 25 Juni 2015.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar