Senin, 01 Desember 2014

Sempurna



Malam itu tergesa, pagi itu merangkak capat, sore hanya sekedar mengenalkan lembayung diufuk barat tanpa sempat berpamit pada detik yang bergerak tidak tahu rasa. Secangkir kopi, meminta udara menghantarkan aromanya memenuhi sendi kelelahan. Walaupun, kadang ia tidak juga bersahabat pada lambung yang meronta karena kafein yang mencari celah nyaman saat sudah melewati kerongkongan.

Pada suatu waktu, menatap hujan merupakan bagian dari kesempurnaan. Hujan yang riang. Melompat-lompat. Karena hujan menghantarkan harapan, seusai angin yang dingin dan basah pada kepalamu, ia tetap mampu mencatatkan pinta selesainya ia menempa bumi. Menembus celah-celah jalan yang semakin kuat dibuat manusia.

Tidak hanya hujan, bunga-bunga juga begitu mempesona. Warnanya mampu bagi sang pengagum melupakan sejenak riuh kabut dalam diri. Seakan tiada waktu habis untuk diri mengangankan untuk memilikinya. Dan jika malam-malam datang, bintang mengambil posisi menjadi primadona, saling berpendar. Meminjam cahaya satu sama lainnya. Sehingga saling berkelip bergantian. Bintang membuat malam sempurna.

Bintang, bunga dan hujan bukan aku. Bukan bagian dari sketsa yang pantas untuk dihadirkan dalam sebuah kanvas. Tidak mampu mewarnai pelangi pada langit yang kelabu. Aku meranggas pada sebuah ketidaksempurnaan yang menjelma berlahan menciumi benakku. Jika aku masih dipertemukan oleh bintang, bunga dan hujan, aku tidak perlu lagi sempurna.

Karena campuran kopi dan aromanya cukup memberitahukan diri bahwa hidup bagian dari cara meramu. Bukan terduduk pada sudut yang hanya membekaskan lebam pada hatimu. Tidak perlu sempurna untuk menjadi bahagia. Karena aku sudah menjadi sempurna dengan ketidaksempurnaan ini.

Duren Sawit, 01 Desember 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar