Minggu, 14 Desember 2014

Jatuh Cinta



Jika rindu itu gelombang, maka ia bergemuruh. Dan jika cinta itu berwarna maka ia adalah pelangi. Begitu pula jika kasih adalah mendung maka ia menjelma menjadi hujan.

Jatuh cinta. Ia adalah bagian dari riak-riak rasa. Terjadi pada seorang insan yang tiba-tiba terikat pada sebuah pesona. Kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta dengan siapa. Tapi, kondisi jatuh cinta itu karena ada presepsi awal yang tertanam dalam benak anak manusia dalam hal mendefinisikan kekaguman.

Cinta memang bersifat universal, artinya tidak melulu dengan seseorang yang berbeda jenis. Namun, proses jatuh cinta adalah hal yang memang dialami semua orang. Seorang bayi yang baru lahir, akan jatuh cinta pada ibunya. Simplenya adalah ada pesona yang hadir pada sang bayi, yang saat itu dan ia pahami secara sederhana, ibunyalah yang telah memberikan rasa aman baginya. Bagaimanapun juga, proses jatuh cinta itu pasti karena sebuah sebab. Entah disadari atau tidak. Walaupun ada yang bilang kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta dengan siapa dan dengan cara bagaimana.

Cinta Merah Muda

Jatuh cinta adalah sebuah proses yang ajaib. Bisa dikatakan anugrah. Kondisi seseorang yang sedang jatuh cinta menimbulkan prilaku berragam. Menciptakan desiran pada hati dengan ritme degup detak jantung yang tidak stabil. Saya sedang tidak jatuh cinta. Namun, saya pernah merasakannya. Kesempatan ini, saya mengkhususkan menuliskan tentang betapa ajaibnya sebuah aktivitas jatuh cinta. Karena situasi ini sedang terjadi pada sahabat saya. Ia sedang jatuh cinta dan mendamba sangat dalam untuk bisa berdampingan dengan pria tersebut. 

Kondisi jatuh cinta itu menimbulkan banyak pertanyaan baginya. Apalagi cinta itu terjadi hanya kerena satu kali pertemuan. Tapi usai itu, dampak jatuh cintanya membuatnya sedikit limbung.  Prosesnya begitu cepat. Saya dan ia, pernah berfikir bahwa pada rentangan garis usia kami, jatuh cinta dapat ditakar dengan logika. Atau tidak akan mudah bagi kami untuk jatuh cinta lagi, karena usia kami jauh dari usia remaja, dimana usia tersebut tidak terlalu banyak menggunakan logika dalam hal menyukai sesuatu. Selain itu, kami sudah banyak memiliki pengalaman hidup. Sehingga dengan sekuat tenaga berharap jatuh cinta tidak mencincang hati menjadi serpihan kecil-kecil.

Dan ternyata salah. Tepatnya saya yang salah. Kerena hingga tulisan ini saya buat, sebuah keindahan dan keajaiban cinta baru ada pada sebuah film korea. Karena bagi saya proses jatuh cinta adalah sebuah kejadian pagi, sedangkan kita harus menghadapi siang dan malam kehidupan. Jatuh cinta adalah salah satu bagian dari aktivitas hidup. Ia adalah riak-riak rasa, satu dari sekian banyak rasa dalam kalbu seseorang manusia.

Namun, cinta bagi sahabat saya itu membuat saya merenung, cinta adalah fitrah yang tidak terbantahkan. Maka saya katakan padanya, nikmatilah rasa itu. Ekspresikan cinta dengan anggun, dengan aturan Tuhan terhadap yang mengikat kita agar selamat dari kejahatannya. Biasanya patah hati membuat berderai air mata, tapi ternyata bagi dia jatuh cinta membuatnya matanya basah. Dan yang membuat saya kagum, jatuh cinta yang terjadi padanya membuatnya semakin banyak memeluk sajadah. Kami sama-sama menyakini cinta adalah bagian tanda atau serangkaian pesan Tuhan yang ingin Dia sampaikan.

Jatuh cinta adalah kekuatan

Cinta adalah sebuah kekuatan dan akan berakhir pada sebuah tindakan pengorbanan. Maka karena hal itulah, saat tengah di mandikan sebuah rasa bernama cinta, setidaknya kita harus membangun pertahanan. Sehingga cinta tidak mengubur hati kita hidup-hidup. Yang membuatnya tidak bernafas saat jatuh cinta menjadi patah hati. Karena ada kalanya tangan bisa bertepuk hanya sebelah. Atau ada mata kunci yang hilang, sehingga ada ruang dalam hati kita belum bisa terbuka oleh seseorang yang tepat.

Karena walaupun ruangan di hati itu ingin sekali berpenghuni, nyatanya ia hanya bisa diisi oleh seseorang yang ditakdirkan Tuhan untuk mendiaminya selamanya. 

Jatuh cintalah berkali-kali

Seperti yang saya katakan tadi, jatuh cinta adalah pagi. Kondisi tanpa syarat. Bahkan bisa pada kondisi rasa yang klimaks. Oleh sebab itu, kondisi itulah yang bisa disebut buta dan mampu membuat seseorang mengabaikan apapun. Ada energi yang terjadi didalamnya. Dan saat kita melanjutkan ke bagian siang dan malam. Energi pagi seseorang yang sedang jatuh cinta memudar. Maka jika kondisi jatuh cinta dapat dibuat  berulang-ulang, lakukanlah.

Seorang anak akan jatuh cinta berkali-kali dengan orang tuanya. Suami yang jatuh cinta lagi pada istrinya lagi, begitu sebaliknya. Dan buat para single, jatuh cintalah dengan anggun. Sehingga dapat bertindak dengan aturan yang baik. Karena bisa jadi jatuh cinta adalah anugrah. Karena tidak semua orang dapat ditakdirkan jatuh cinta lagi.

DS, 14 Desember 2014

Catatan buat grup kepompong, yang malam ini ribut di grup. I love u, all. :)
This is for ms. Bunny.






Jumat, 05 Desember 2014

Sukses dan Bahagia



Jika kita tidak bermanfaat, maka kita akan dipunahkan alam semesta. Dan lebih menarik lagi dari yang ia temukan saat itu adalah sebuah barisan kata yang mengilhaminya bahkan 50 tahun setelahnya, sebuah pesan yang membuatnya merenung bahwa kalau kita curahkan waktu dan perhatian demi kepentingan sesama maka alam semesta akan mendukung kita, selalu, dan persis di saat-saat kritis.

Buckmister Fuller mendapatkan kata-kata tersebut saat dirinya berniat mengakhiri hidupnya di danau Michigan. Saat perasaan bersalah telah menghukum hari-harinya, usai kematian anaknya. Buckmister Fuller bukanlah seseorang yang tidak beruntung. Ia orang yang cerdas dan sukses namun rasa bahagia seakan terus menjauh.

Bagaimana mendifinisikan sebuah kesuksesan maka akan banyak persepsi soal itu. Masing-masing mendefinisikan berdasarkan sudut pandang berbeda. Satu sama lainpun bisa saling membantahnya. Sedangkan bagaimana soal bahagia? Saya rasa akan banyak definisi lagi tentang hal tersebut. Karena ukuran tingkat kepuasan hidup pun dirasakan berbeda diantara antar personal manusia. Bahagia adalah akhir dari sebuah banyak pinta, impian dan rasa yang begitu dicari dari sebuah proses kehidupan.

Dalam buku The 7 laws of happiness karya Arvan Pradiansyah, Sukses adalah mendapatkan apa yang kita inginkan, sementara bahagia adalah menginginkan apa yang anda dapatkan. Sukses dan bahagia adalah dua jalur jalan yang berbeda. Sukses lebih berdimensi fisik sementara kebahagiaan berdimensi spritual.

Untuk menjadi sukses kita perlu sebuah target, kerja keras dan dengan syarat. Sedangkan bahagia adalah hal yang bisa dimulai kapan saja. Bahagia bisa berada diantara keadaan berjuang. Diantara keringat-keringat yang diusahakan untuk sebuah kebaikan. Jika kita memutuskan bahagia dengan syarat, maka saat kita belum mendapatkan yang kita inginkan, bahagia akan menjadi angan-angan. Bahagia adalah sebuah keputusan hati. Sebuah keadaan yang diciptakan manusia itu sendiri. 

Apa yang kurang dari Buckmister Fuller, seorang ahli geodesic, kaya, cerdas dan dihormati. Namun, ia adalah seorang yang sempat ingin mengakhiri hidupnya. Dia belum menemukan bahagia diantara banyak pencapaiannya. Hingga akhirnya ia mampu menemukan kebahagiaan saat dirinya mengetahui cara untuk mengabdikan diri pada alam semesta. Karena menurutnya jika tidak manfaat, maka akan dipunahkan.

Saya mendapatkan cerita tentang Buckmister Fuller dari bapak Tung Desem waringin dari seminar yang beliau sampaikan yang bertajuk Succes Revolution, beliau adalah seorang pakar marketing.  Salah satu dari empat pembicara hebat yang hadir saat itu. Saya menyimpulkan dari yang beliau sampaikan bahwa saat menggapai sukses atau hal yang ingin kita capai, jangan lupa untuk tetap menyelipkan bahagia dengan syukur yang untuk hal yang telah ditangan. Bahagia dapat dimulai sekarang. Namun, syukur juga jangan membuat kita naif, untuk membuat langkah kita terdiam. Merasa tidak perlu lagi untuk bergerak mencapai sebuah keinginan.

Apa yang saya syukuri, apa yang harus saya pelajari dari kejadian ini sehingga besok menjadi lebih baik dan apa yang saya lakukan sekarang agar merasa lebih baik dan orang lain menjadi lebih baik. Deretan pertanyaan tersebut menjadi kunci untuk kita melakukan pergerakan untuk mencapai sebuah rasa bernama bahagia.

Karena human nature adalah do something. Sebenarnya jika kita lebih mendalami hukum alam, setiap gerakan kita akan mampu selaras. Dan jika kita mencoba memungkiri keadaan hukum alam maka kita tidak akan mampu mengimbangi keadaan hidup. Hal ini mengingatkan saya tentang hukum kekekalan energi, saya yakin segala kelelahan yang kita lakukan akan berdampak pada hidup kita kembali. Energi itu kekal, ia hanya berubah bentuk dan yang pasti akan kembali pada pemiliknya. Seperti kata Tuhan, akan ada balasan bagi sebuah tindakan, bahkan hanya sebesar dzarrah pun.

05 Desember 2014


Senin, 01 Desember 2014

Sempurna



Malam itu tergesa, pagi itu merangkak capat, sore hanya sekedar mengenalkan lembayung diufuk barat tanpa sempat berpamit pada detik yang bergerak tidak tahu rasa. Secangkir kopi, meminta udara menghantarkan aromanya memenuhi sendi kelelahan. Walaupun, kadang ia tidak juga bersahabat pada lambung yang meronta karena kafein yang mencari celah nyaman saat sudah melewati kerongkongan.

Pada suatu waktu, menatap hujan merupakan bagian dari kesempurnaan. Hujan yang riang. Melompat-lompat. Karena hujan menghantarkan harapan, seusai angin yang dingin dan basah pada kepalamu, ia tetap mampu mencatatkan pinta selesainya ia menempa bumi. Menembus celah-celah jalan yang semakin kuat dibuat manusia.

Tidak hanya hujan, bunga-bunga juga begitu mempesona. Warnanya mampu bagi sang pengagum melupakan sejenak riuh kabut dalam diri. Seakan tiada waktu habis untuk diri mengangankan untuk memilikinya. Dan jika malam-malam datang, bintang mengambil posisi menjadi primadona, saling berpendar. Meminjam cahaya satu sama lainnya. Sehingga saling berkelip bergantian. Bintang membuat malam sempurna.

Bintang, bunga dan hujan bukan aku. Bukan bagian dari sketsa yang pantas untuk dihadirkan dalam sebuah kanvas. Tidak mampu mewarnai pelangi pada langit yang kelabu. Aku meranggas pada sebuah ketidaksempurnaan yang menjelma berlahan menciumi benakku. Jika aku masih dipertemukan oleh bintang, bunga dan hujan, aku tidak perlu lagi sempurna.

Karena campuran kopi dan aromanya cukup memberitahukan diri bahwa hidup bagian dari cara meramu. Bukan terduduk pada sudut yang hanya membekaskan lebam pada hatimu. Tidak perlu sempurna untuk menjadi bahagia. Karena aku sudah menjadi sempurna dengan ketidaksempurnaan ini.

Duren Sawit, 01 Desember 2014