Minggu, 16 November 2014

Salah, bukan berarti harus menyerah




Ibarat sebuah kue yang sudah jadi tapi kurang manis, maka akan sulit untuk menambahkan gula. Sudah terlanjur. Namun, kita dapat menambahkan gula halus atau memakannya dengan teh manis. Paling tidak, kue tersebut masih dapat dinikmati.

Sudah terlanjur. Hal yang sudah terjadi. Masa lalu. Yang bisa dikatagorikan sebagai sebuah kesalahan. Tidak ada yang mau berbuat salah. Siapapun. Kalaupun ada, pasti ada masalah dengan manusia tersebut. Salah adalah teman pasti manusia dalam menjalankan kekhalifahannya. Hanya Nabi Muhammad yang terlindungi dari kesalahan, karena jika beliau berbuat salah maka Tuhanlah yang langsung meluruskannya melalui firmanNya.

Dalam mengambil keputusan, pilihannya akan berdampak pada benar atau salah. Seandainya kita tahu soal masa depan, pasti kita akan memilih hak-hal atau langkah-langkah yang benar untuk menghasilkan sesuatu sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, Tuhan menghadiahkan manusia sebuah otak yang harus digunakan untuk menganalisa permasalahan. Sehingga saat kita mengambil keputusan, kita bisa memprediksi sebuah jalan yang baik. Ini loh, menurut analisa dan pertimbangan saya, dengan beberbagai data-data dan informasi yang saya miliki.

Namun, dengan minimnya kita terhadap data-data dan informasi membuat kita ragu untuk melangkah. Apalagi, seandainya kita tidak memilikinya sama sekali. Maka langkah untuk memutuskan semakin berat, apalagi berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Seperti para pemimpin negeri ini, ditunda berdampak. Tidak ditunda, bisa dibilang labil. 

Dan apabila nasi sudah menjadi bubur, yang bisa berarti sudah diambil keputusan ternyata ada hal yang tidak sesuai dengan harapan. Pengorbanan sudah terjadi. Keseimbangan mulai goyah. Apa yang harus dilakukan? Balik mundur adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. Karena waktu itu berjalan ke depan, memang kekhawatiran untuk mengambil keputusan salah akan semakin menggerogoti. Belum lagi, rasa bersalah atas tatapan dari orang lain.

Tiada salahnya merenung sejenak, hadapi semua. Evaluasi dan mengakuinya. Sampaikan maaf dan tentukan langkah selanjutnya. Katanya 90% kekhawatiran itu tidak akan terjadi. Bayangan kita tentang masa depan biasa teramat berlebihan. Padahal, detik demi detik kita melangkah menuju masa depan.

Membuat salah adalah bagian dari pembelajaran. Berani mengambil resiko adalah sebuah mental yang harus ditempa. Karena hanya seorang pengambil resiko akan juga menemukan hal yang berhasil. Yang perlu ditambahkan adalah sebuah kegigihan. Sikap ini adalah hal yang harus dilatih dan langsung praktik.

Menurut Rhenald Kasali dalam bukunya Self Driving beberapa karakter pengambil resiko, orang-orang yang bersedia mengambil resiko ini umumnya 
  • Bersedia membayar biayanya. Biaya tersebut pengorbanan dan ketidaknyamanan.
  • Menerima konsekuensi namun seorang driver rela memperbaiki diri.
  • Tidak cari aman. Bukan orang-orang yang biasa bersenyembunyi dibalik selimut rasa aman
  • Menerima julukan-julukan sinis, mereka juga bisa saja menjadi sasaran dari mayoritas penonton yang biasanya justru terdiri dari orang-orang yang mencari aman.
Hal yang perlu diingat ialah kita selalu punya cara untuk belajar dari hal-hal yang salah pernah kita lakukan. Tidak berbuat salah, biasanya tidak pernah melakukan apa-apa.

Duren Sawit, 16 November 2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar