Senin, 10 November 2014

Bagaimana mendidik karaktermu?


Minggu kemarin, tanggal 9 November 2014 saya mengikuti seminar parenting yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Cinta di condet, seminar yang berlangsung sederhana namun memberikan kesan yang cukup dalam.

Seminar yang diisi oleh pembicara ibu Ida S Widayanti, beliau adalah pakar parenting yang juga penulis buku 'Mendidik karakter dengan karakter' dalam seminar tersebut dipaparkan betapa pentingnya masa anak-anak untuk menanamkan sebuah karakter baik, mulia dan berakhlak. Butuh kerja keras, dedikasi yang tinggi dan kemauan untuk menuju ke sana.

Kita membutuhkan ilmu untuk melakukan hal tersebut. Mencari tahu tentang tingkah pola anak, menyikapi masalah, mengatur emosi sampai pengaturan ucapan yang dapat mengarahkan seorang anak menjadi seseorang yang baik menurut yang kita inginkan. Sehingga karakter ini akan terus dibawa oleh si anak tersebut hingga ia dewasa.

Dunia anak-anak ternyata lebih luas dari pandangan orang dewasa. Miniatur orang dewasa berada pada anak-anak. Kali ini saya tidak fokus untuk jauh membahas mengenai pendidikan karakter pada anak-anak. Bukan karena saya belum pernah menjadi orang tua, hanya saja kemampuan saya untuk menganalisa hal tersebut teramat dangkal, lagipula saya belum menuntaskan membaca buku ibu Ida tersebut. Saya baru membaca 2 bab dan saya yakin hingga akhir halaman, buku tersebut akan sangat menarik. Silakan cari jika ingin merasakan kedalaman paparannya.

Kita dan orang tua

Mendidik sebuah karakter yang baik memang menjadi tugas orang tua. Tapi, tidak hanya itu, karakter dibentuk juga oleh lingkungan yang dihadapi seseorang. Baik lingkungan sekolah atau tempat dimana ia tinggal. Bagaimana dia berpikir, bersikap, menuntaskan masalah dan bahkan cara dia berbicara adalah cara seorang anak meniru saat dia tumbuh belajar dimasa kecilnya. Mereka bagaikan cermin, mengadopsi apapun secara mentah-mentah, dan jika kebablasan akan menjadi karakter yang abadi bagi mereka hingga mereka bertumbuh.


Lantas bagaimana jika orang tua kita memiliki keterbatasan soal mendidik anak. Mereka hidup dijamannya, dengan orientasi dan pola pendidikan yang berbeda. Saya sangat yakin dengan pola pendidikan yang pernah diterapkan oleh orang tua kita dahulu adalah memiliki tujuan terbaik bagi anak-anaknya. Mereka mempersiapkan anak-anaknya untuk dapat menghadapi hidup. Bisa jadi saat orang tua kita mendidik kita, belum ada yang dinamakan seminar parenting, buku-buku psikologi anak, passion atau mengenal berbagai macam kecerdasan. Bagi mereka membuat anaknya berpendidikan menjadi hal yang sudah luar biasa.  Sangat tergantung pada pemahaman mereka saat itu.

Namun, ada hal yang kemungkinan tidak sempurna yang dilahirkan dalam sebuah pola didik yang dilakukan oleh orang tua kita. Sehingga masih ada hal-hal yang tertinggal dan menyebabkan beberapa karakter buruk singgah dalam diri kita. Dan walaupun kita juga sudah menerapkan pola didik dengan ilmu dan teori terbaik yang sudah banyak ditemukan sekarang, saya yakin pasti ada ketidaksempurnaan terjadi. Karena, yang sedang kita bentuk adalah seorang anak manusia bukan tanah liat yang bisa dijadikan benda yang kita inginkan.

Bagaimana dengan karaktermu 

Jika saya disuruh mencatatkan kekurangan diri, maka dengan mudah saya membuatnya. Sebaliknya, jika saya disuruh mencatatkan kelebihan diri, saya butuh waktu untuk menganalisa dan menyakini berkali-kali untuk menyatakan benarkan itu bagian dari kelebihan saya.

Karakter tidak percaya diri itulah salah satu yang masih hinggap dalam keseharian saya. Dan saya menyadarinya. Masih banyak lagi hal yang saya rasa butuh berbaikan. Saya tidak tahu apakah karakter tersebut hasil pola asuh orang tua saya. Tapi saya percaya, orang tua saya tidak menginginkan anaknya kurang percaya diri. Namun, seperti yang saya bilang tadi, banyak faktor yang mempengaruhi sebuah karakter terbentuk.

Point yang ingin saya sampaikan ditulisan ini adalah bagaimana mendidik karakter saat kita sudah dewasa. Tentu saja tidak lagi harus bergantung pada orang tua kita. Hal yang utama untuk kita lakukan adalah dengan menyadari karakter apa yang menghambat kehidupan kita atau hal-hal yang membuat orang lain tidak nyaman. Kita berada di posisi bagaimana. Bercermin pada prilaku orang lain yang membuat kita tidak nyaman. Jangan-jangan kita mengadopsinya dan juga menjadi karakter kita.

Hal lain dengan memilih cara untuk men'drive diri kita mengarah pada perbaikan. Memang butuh kerja keras dan usaha. Saya masih dalam tahap awal sekali. Masih pada posisi perencanaan dan niat. Namun, berakrablah pada nilai-nilai yang baik, lingkungan dengan hubungan antar personalnya higienis, membiasakan mengarahkan pada hal-hal yang positif dan bacaan-bacaan yang memotivasi.

Dengan begitu, diri akan bergerak semangat untuk membentuk sebuah karakter baru yang lebih baik. Dan mengubah kebiasaan itu butuh waktu sampai terbentuk menjadi sebuah karakter. Semoga saya mempu merenungi lebih dalam tentang hakikat diri sehingga mampu menahan karakter buruk saya untuk saya kendalikan dan saya sangat berharap jika saya mampu merubahnya.

Duren Sawit. 10 November 2014






Tidak ada komentar:

Posting Komentar