Minggu, 23 November 2014

Bagi yang lemah, kau hanya perlu bergerak.



Suatu saat kita akan tahu, setiap pergerakkan kita sesungguhnya menghasilkan. Tiada yang sia-sia. Sekalipun banyak peluh dan gemerlap tujuan masih jauh dari jangkauan.
***
 Terjadi perseteruan antara kancil dan kura-kura. Dalam hutan belantara, kancil selalu mengejek kura-kura yang bergerak lambat. Mencari makanan, berpindah dari tempat yang satu dengan yang lainnya kura-kura bergerak terlihat sangat lambat. Itulah yang terpikir dalam benak kancil. Dia berpikir, mengapa Tuhan menciptakan makhluk semacam kura-kura. Terlihat sekali kura-kura sangat bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan sering kali kura-kura menjadi incaran empuk para pemangsa. 


Kura-kura tidak pernah menghiraukan ucapan kancil. Kura-kura pikir itu adalah hidupnya. Mau lambat atau tidak, sama sekali bukan urusan kancil. Yang mengherankan buat dia, kenapa kancil begitu terganggu dan risau. Sehingga selalu sibuk sendiri untuk mengomentari hidupnya. Tapi kalau kancil setiap hari mengejeknya, hatinya juga terusik. 


Hingga suatu saat, kura-kura dan kancil bertengkar hebat. Adu argumen. Saling mengutarakan kelemahan masing-masing. Kura-kura juga sudah tidak tahan dengan ucapan sinis kancil tanpa sengaja menantangnya untuk berlomba lari. Mendengar hal tersebut, sontak kancil tertawa terpingkal-pingkal. Ini adalah humor paling lucu yang pernah dia dengar. Apakah kura-kura tidak bercermin dengan keadaannya. Bagi kancil, ini sangat lucu. 


Sebenarnya kura-kura menyesali ucapannya, menantang kancil untuk berlomba lari. Jika dilihat kemapuannya, memang sangat mustahil. Kura-kura sudah sangat menerima keadaannya. Terhadap apa yang dia terima dari Tuhan. Tidak menyesalinya. Namun, jika sudah terjebak emosi maka kura-kura merasa harus mempertahankan harga dirinya. Paling tidak ingin memberi pelajaran bagi sang kancil.

***
Cuaca hari ini sangat panas. Kura-kura membutuhkan tenaga lebih besar untuk menjalani perlombaan ini. Perlombaan ini harus dijalani, entah nanti menang atau kalah. Beberapa hari terakhir kura-kura terus mamacu dirinya untuk lebih bisa berlari cepat. Sedangkan kancil sama sekali tidak melakukan persiapan, ia hanya mamandang sinis apa yang dilakukan oleh sang kura-kura. Seperti dugaan kancil melesat dengan cepat, kura-kura mendapat posisi terbelakang. Cuaca kian terik. Kancil melihat keadaan kura-kura memperlambat larinya. Sepertinya perlombaan ini tidak harus dilakukan serius. Karena ia sudah tahu siapa pemenangnya.

Teriknya matahari membuat kancil memutuskan untuk berteduh pada sebuah pohon besar. Dengan menghitung waktu, beristirahat sejenak nampaknya tidak akan merubah hasil yang sudah dia perkirakan nanti. Lagipula, kura-kura masih berada jauh dibelakangnya. Pergerakannya sangat lambat. Bahkan sudah mulai terlihat kelelahan dengan adanya terik matahari yang cukup membakar.

Kelelahan mendera kura-kura, pergerakannya melambat. Ada keinginan ia menyerah, lagipula kalau dia kalah, maka hal itu adalah wajar. Semua juga tahu kalau ia memang lamban. Sampailah dia di depan pohon besar, nampak kancil sedang tertidur pulas. Godaan untuk berhenti semakin besar. Tapi ia punya prinsip, bahwa perlombaan ini harus selesai. Dengan gontai kura-kura terus berjalan. Sesekali melihat ke arah kancil yang masih terlelap. Mungkinkah kancil akan menyusulnya? Pertanyaan itu bergelayut terus dalam diri kura-kura.

Kura-kura terus bergerak. Lambat. Tapi menuju sebuah titik. Garis finish. Kadang merasa kancil akan datang tiba-tiba dengan kekuatan penuh dan menurutnya hal itu akan mudah membuat kancil memenangkan perlombaan ini. Namun, ia terus bergerak. Garis finish sudah terlihat. Beberapa penghuni hutan lainnya juga sudah menunggu. Semua tampak terkejut. Kura-kura dengan susah payah telah sampai di garis finish. Sedangkan kancil mulai tunggang langgang dibelakang. Berusaha mendahului kura-kura. Tapi hasil akhir ternyata dapat berubah dari perkiraannya. Kura-kura mampu mengalahkannya.

Kancil tertunduk malu. Ia merutuki kelalainnya. Dan kura-kura berkata pada kancil "kau hanya perlu bergerak, sehingga kemenangan akan mudah menghampiri."
Duren Sawit, 23 November 2014







Minggu, 16 November 2014

Salah, bukan berarti harus menyerah




Ibarat sebuah kue yang sudah jadi tapi kurang manis, maka akan sulit untuk menambahkan gula. Sudah terlanjur. Namun, kita dapat menambahkan gula halus atau memakannya dengan teh manis. Paling tidak, kue tersebut masih dapat dinikmati.

Sudah terlanjur. Hal yang sudah terjadi. Masa lalu. Yang bisa dikatagorikan sebagai sebuah kesalahan. Tidak ada yang mau berbuat salah. Siapapun. Kalaupun ada, pasti ada masalah dengan manusia tersebut. Salah adalah teman pasti manusia dalam menjalankan kekhalifahannya. Hanya Nabi Muhammad yang terlindungi dari kesalahan, karena jika beliau berbuat salah maka Tuhanlah yang langsung meluruskannya melalui firmanNya.

Dalam mengambil keputusan, pilihannya akan berdampak pada benar atau salah. Seandainya kita tahu soal masa depan, pasti kita akan memilih hak-hal atau langkah-langkah yang benar untuk menghasilkan sesuatu sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, Tuhan menghadiahkan manusia sebuah otak yang harus digunakan untuk menganalisa permasalahan. Sehingga saat kita mengambil keputusan, kita bisa memprediksi sebuah jalan yang baik. Ini loh, menurut analisa dan pertimbangan saya, dengan beberbagai data-data dan informasi yang saya miliki.

Namun, dengan minimnya kita terhadap data-data dan informasi membuat kita ragu untuk melangkah. Apalagi, seandainya kita tidak memilikinya sama sekali. Maka langkah untuk memutuskan semakin berat, apalagi berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Seperti para pemimpin negeri ini, ditunda berdampak. Tidak ditunda, bisa dibilang labil. 

Dan apabila nasi sudah menjadi bubur, yang bisa berarti sudah diambil keputusan ternyata ada hal yang tidak sesuai dengan harapan. Pengorbanan sudah terjadi. Keseimbangan mulai goyah. Apa yang harus dilakukan? Balik mundur adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. Karena waktu itu berjalan ke depan, memang kekhawatiran untuk mengambil keputusan salah akan semakin menggerogoti. Belum lagi, rasa bersalah atas tatapan dari orang lain.

Tiada salahnya merenung sejenak, hadapi semua. Evaluasi dan mengakuinya. Sampaikan maaf dan tentukan langkah selanjutnya. Katanya 90% kekhawatiran itu tidak akan terjadi. Bayangan kita tentang masa depan biasa teramat berlebihan. Padahal, detik demi detik kita melangkah menuju masa depan.

Membuat salah adalah bagian dari pembelajaran. Berani mengambil resiko adalah sebuah mental yang harus ditempa. Karena hanya seorang pengambil resiko akan juga menemukan hal yang berhasil. Yang perlu ditambahkan adalah sebuah kegigihan. Sikap ini adalah hal yang harus dilatih dan langsung praktik.

Menurut Rhenald Kasali dalam bukunya Self Driving beberapa karakter pengambil resiko, orang-orang yang bersedia mengambil resiko ini umumnya 
  • Bersedia membayar biayanya. Biaya tersebut pengorbanan dan ketidaknyamanan.
  • Menerima konsekuensi namun seorang driver rela memperbaiki diri.
  • Tidak cari aman. Bukan orang-orang yang biasa bersenyembunyi dibalik selimut rasa aman
  • Menerima julukan-julukan sinis, mereka juga bisa saja menjadi sasaran dari mayoritas penonton yang biasanya justru terdiri dari orang-orang yang mencari aman.
Hal yang perlu diingat ialah kita selalu punya cara untuk belajar dari hal-hal yang salah pernah kita lakukan. Tidak berbuat salah, biasanya tidak pernah melakukan apa-apa.

Duren Sawit, 16 November 2014



Senin, 10 November 2014

Bagaimana mendidik karaktermu?


Minggu kemarin, tanggal 9 November 2014 saya mengikuti seminar parenting yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Cinta di condet, seminar yang berlangsung sederhana namun memberikan kesan yang cukup dalam.

Seminar yang diisi oleh pembicara ibu Ida S Widayanti, beliau adalah pakar parenting yang juga penulis buku 'Mendidik karakter dengan karakter' dalam seminar tersebut dipaparkan betapa pentingnya masa anak-anak untuk menanamkan sebuah karakter baik, mulia dan berakhlak. Butuh kerja keras, dedikasi yang tinggi dan kemauan untuk menuju ke sana.

Kita membutuhkan ilmu untuk melakukan hal tersebut. Mencari tahu tentang tingkah pola anak, menyikapi masalah, mengatur emosi sampai pengaturan ucapan yang dapat mengarahkan seorang anak menjadi seseorang yang baik menurut yang kita inginkan. Sehingga karakter ini akan terus dibawa oleh si anak tersebut hingga ia dewasa.

Dunia anak-anak ternyata lebih luas dari pandangan orang dewasa. Miniatur orang dewasa berada pada anak-anak. Kali ini saya tidak fokus untuk jauh membahas mengenai pendidikan karakter pada anak-anak. Bukan karena saya belum pernah menjadi orang tua, hanya saja kemampuan saya untuk menganalisa hal tersebut teramat dangkal, lagipula saya belum menuntaskan membaca buku ibu Ida tersebut. Saya baru membaca 2 bab dan saya yakin hingga akhir halaman, buku tersebut akan sangat menarik. Silakan cari jika ingin merasakan kedalaman paparannya.

Kita dan orang tua

Mendidik sebuah karakter yang baik memang menjadi tugas orang tua. Tapi, tidak hanya itu, karakter dibentuk juga oleh lingkungan yang dihadapi seseorang. Baik lingkungan sekolah atau tempat dimana ia tinggal. Bagaimana dia berpikir, bersikap, menuntaskan masalah dan bahkan cara dia berbicara adalah cara seorang anak meniru saat dia tumbuh belajar dimasa kecilnya. Mereka bagaikan cermin, mengadopsi apapun secara mentah-mentah, dan jika kebablasan akan menjadi karakter yang abadi bagi mereka hingga mereka bertumbuh.


Lantas bagaimana jika orang tua kita memiliki keterbatasan soal mendidik anak. Mereka hidup dijamannya, dengan orientasi dan pola pendidikan yang berbeda. Saya sangat yakin dengan pola pendidikan yang pernah diterapkan oleh orang tua kita dahulu adalah memiliki tujuan terbaik bagi anak-anaknya. Mereka mempersiapkan anak-anaknya untuk dapat menghadapi hidup. Bisa jadi saat orang tua kita mendidik kita, belum ada yang dinamakan seminar parenting, buku-buku psikologi anak, passion atau mengenal berbagai macam kecerdasan. Bagi mereka membuat anaknya berpendidikan menjadi hal yang sudah luar biasa.  Sangat tergantung pada pemahaman mereka saat itu.

Namun, ada hal yang kemungkinan tidak sempurna yang dilahirkan dalam sebuah pola didik yang dilakukan oleh orang tua kita. Sehingga masih ada hal-hal yang tertinggal dan menyebabkan beberapa karakter buruk singgah dalam diri kita. Dan walaupun kita juga sudah menerapkan pola didik dengan ilmu dan teori terbaik yang sudah banyak ditemukan sekarang, saya yakin pasti ada ketidaksempurnaan terjadi. Karena, yang sedang kita bentuk adalah seorang anak manusia bukan tanah liat yang bisa dijadikan benda yang kita inginkan.

Bagaimana dengan karaktermu 

Jika saya disuruh mencatatkan kekurangan diri, maka dengan mudah saya membuatnya. Sebaliknya, jika saya disuruh mencatatkan kelebihan diri, saya butuh waktu untuk menganalisa dan menyakini berkali-kali untuk menyatakan benarkan itu bagian dari kelebihan saya.

Karakter tidak percaya diri itulah salah satu yang masih hinggap dalam keseharian saya. Dan saya menyadarinya. Masih banyak lagi hal yang saya rasa butuh berbaikan. Saya tidak tahu apakah karakter tersebut hasil pola asuh orang tua saya. Tapi saya percaya, orang tua saya tidak menginginkan anaknya kurang percaya diri. Namun, seperti yang saya bilang tadi, banyak faktor yang mempengaruhi sebuah karakter terbentuk.

Point yang ingin saya sampaikan ditulisan ini adalah bagaimana mendidik karakter saat kita sudah dewasa. Tentu saja tidak lagi harus bergantung pada orang tua kita. Hal yang utama untuk kita lakukan adalah dengan menyadari karakter apa yang menghambat kehidupan kita atau hal-hal yang membuat orang lain tidak nyaman. Kita berada di posisi bagaimana. Bercermin pada prilaku orang lain yang membuat kita tidak nyaman. Jangan-jangan kita mengadopsinya dan juga menjadi karakter kita.

Hal lain dengan memilih cara untuk men'drive diri kita mengarah pada perbaikan. Memang butuh kerja keras dan usaha. Saya masih dalam tahap awal sekali. Masih pada posisi perencanaan dan niat. Namun, berakrablah pada nilai-nilai yang baik, lingkungan dengan hubungan antar personalnya higienis, membiasakan mengarahkan pada hal-hal yang positif dan bacaan-bacaan yang memotivasi.

Dengan begitu, diri akan bergerak semangat untuk membentuk sebuah karakter baru yang lebih baik. Dan mengubah kebiasaan itu butuh waktu sampai terbentuk menjadi sebuah karakter. Semoga saya mempu merenungi lebih dalam tentang hakikat diri sehingga mampu menahan karakter buruk saya untuk saya kendalikan dan saya sangat berharap jika saya mampu merubahnya.

Duren Sawit. 10 November 2014