Kamis, 29 Mei 2014

Bosan, Bosan dan Bosan

By. Ani Sudaryanti


Bohong, jika ada seseorang tidak pernah merasakan bosan. Kondisi bosan itu adalah hal yang sangat mungkin terjadi pada siapapun. Hanya saja setiap individu memiliki keadaan yang berbeda satu sama lainnya. 

Kebosanan biasanya berdampak pada perilaku keseharian. Sekuat apapun diri menekan rasa bosan, hal itu pasti berdampak. Dampaknya bisa besar atau kecil. Indikasi kebosanan terjadi adalah pada sesuatu yang biasanya kita anggap menyenangkan menjadi berubah menyebalkan. Terus berada dalam kondisi tersebut membuat kita terasa tercekik. Jika kebosanan terjadi pada sebuah aktivitas atau pekerjaan, timbul perasaan tidak berguna atau tidak bermanfaat jika terus melakukan kegiatan itu. Kehilangan arti. Sehingga tercipta kesimpulan, aktivitas yang useless.

Antusias yang menurun, sikap yang berubah tidak ramah, lebih banyak diam (melamun), atau tindakan yang berseberangan dari sikap pribadi sehari-hari. Keadaan tersebut bisa tergolong dampak kebosanan.

Kita kehilangan makna dari sebuah kegiatan yang dilakukan terus menerus itu. Menjadi kehilangan kemampuan dalam menerjemahkan suatu aktivitas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bosan adalah sudah tidak suka lagi karena sudah terlalu sering atau banyak; jemu. Atau menurut peter toohey, kebosanan merupakan sebuah mekanisme penyesuaian diri.

Terjemahkan apa yang kamu rasa

Mampu menilai diri, menerjemahkan keadaan yang dirasa adalah sebuah kemampuan yang luar biasa. Tapi harus dengan keadaan jujur. Terkadang personal berusaha untuk bahagia. Atau kondisi agar 'terlihat' bahagia. Ada keadaan yang manipulasi perasaan. Jika kita tidak mampu menerjemahkan perasaan dalam keadaan apa? bagaimana kita mampu memberikan solusi terhadap apa yang mengganjal di pikiran. 

Menerjemahkan perasaan ini, tidak perlu disampaikan ke orang lain, jika itu terasa berat. Tapi, sampaikan perasaan hati pada diri sendiri. Termasuk perasaan bosan. Bisa jadi keadaan bosan adalah sebuah sinyal pada diri untuk merenung lebih jauh, apa sebenarnya yang sedang kita lakukan. Karena dalam kondisi bosan, biasanya pikiran akan kosong. Pada saat itulah pikiran dapat diisi dengan renungan. Namun, juga harus berhati-hati, kondisi kosong tadi juga bisa di masuki hal-hal yang negatif. 

Hempaskan Kebosanan

Tidak ada cara untuk mencegah datangnya bosan. Dari profesi apapun, dari tingkatan bawah hingga atas, kebosanan adalah hal yang manusiawi. Para psikologi mengatakan kebosanan terjadi karena kurangnya stimulus intelektual, aktivitas yang sama atau sebuah tekanan. Sehingga posisi seseorang akan terengah-engah dengan tekanan yang terus bertubi-tubi untuk dia hadapi. Yang diperlukan adalah berhenti sejenak. Menarik nafas panjang, mengumpulkan hal-hal yang positif sebagai bahan bakar jika memang rutinitas itu adalah hal yang tidak mungkin ditinggalkan.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah melakukan kegiatan yang lebih ringan dari aktivitas tersebut atau mencari tantangan baru. Penguasaan keahlian lain, menciptakan hobi baru atau menekuni kembali hobi yang terabaikan karena selama ini kita tenggelam dalam aktivitas keseharian, yang justru saat ini membuat kita bosan. 

Jika bosan menyelesaikan pekerjaan di kantor, tidak ada salahnya membawa pekerjaan itu ke rumah, cafe atau perpustakaan. Dimana saja. Yang terpenting ada suasana baru. Tidak monoton dan statis.

Bosan tidak mampu kita hindari. Tapi bosan dapat kita hempas dengan cara kita. Dan yang terbaik, saat bosan adalah saat kita merenung. Membuat pertanyaan pada diri sendiri, apa sebenarnya yang kita lakukan? Dan untuk apa? 

Berhenti sejenak. Marilah kita temukan jawabannya.

Minggu, 25 Mei 2014

Soal Rumit Yang Sulit


Pernah terlintas dalam angan saya terucap, bagaimana jika saya menjalani hidup saya dengan melintasi usia saya dengan 'menutup mata', mengabaikan hal yang terjadi. Apalagi hal-hal yang rumit dan sulit. Sehingga jika datang masa-masa itu, saya ingin lari untuk tidak menghadapinya. Tapi, apakah bisa? Kembali saya berpikir, kalau saya menutup mata, maka saya juga akan melewatkan pemandangan indah dan kejadian mengagumkan saat sebuah proses rumit tersebut saya jalani. Karena, saya memiliki keyakinan kalau ada banyak hal indah yang terselip dalam permasalahan hidup.

Singkirkan Atau Sembunyikan

Manusia memiliki tipe berbeda dalam menghadapi sebuah kerumitan atau masalah, termasuk saya, namun ada kondisi yang menyebabkan seseorang mampu menghadapi sebuah persoalan. Misalnya latar belakang pendidikan, lingkungan, keluarga dan kondisi keseharian yang biasa seseorang hadapi, hal tersebut menjadikan dia memiliki sikap berbeda dalam menghadapi permasalahan yang rumit.

Ada yang menyimpulkan 'masalah ini terlalu rumit' maka saya sembunyikan atau urutkan dia pada posisi yang terbawah untuk dipikirkan. Ada juga yang menyimpulkan 'masalah ini terlalu sepele' maka dia sembunyikan pada bawah karpet, seperti debu yang disapu. Tapi, perlu di ketahui bahwa tingkat penilaian sepele dan rumit, satu dengan lainnya berbeda. Bisa saja saya bilang itu penting walau rumit. Tapi, bagi orang lain hal itu terlalu sepele untuk diselesaikan. Tapi, apakah bijak jika terus menerus lari dari hal-hal yang rumit? Mau tidak mau hal itu harus dihadapi. 

Kita tidak bisa terus menerus menyembunyikan hal yang rumit dan sepele pada balik karpet, karena suatu saat baik cepat atau lambat, karpet tersebut akan diangkat. Dan pasti akan kita akan terkejut dengan apa yang kita tanam di sana. Mungkin kita akan melihat sebuah habitat baru. Bisa jadi hal yang mengerikan. --hanya imajinasi :)

Pending (Tunda Saja)

Pilihan lain saya hal yang rumit adalah lakukan penundaan. Memang ada beberapa permasalahan yang rumit butuh waktu untuk dipikirkan. Dengan tujuan agar dapat diselesaikan melalui keputusan yang tepat. Butuh pertimbangan, tanya sana, tanya sini dan kumpulkan data. Saya sering melakukannya, yaitu mengumpulkan data. Agar hal yang rumit dapat  terurai dengan data yang kita kumpulkan. Setidaknya kita harus mempunyai waktu ideal kapan hal itu terselesaikan. 

Namun, ada juga melakukan penundaan, karena hal masalah yang rumit itu agar tersingkir dahulu. Tidak ada batas waktu menyelesaian, dan diam-diam berharap masalah itu terlupakan. Bagaimana menurut anda tentang sikap ini? 

Hadapi

Jika kita sudah mengambil keputusan dan ditempatkan pada 'posisi' banyaknya hal yang rumit, hal yang paling tepat adalah hadapi. Mau menutup mata, tutup telinga, masalah itu sudah di depan mata. Hal yang mungkin dilakukan adalah penundaan. Tapi, penundaan dengan jeda waktu yang wajar. Pertimbangkan bahwa orang lain diluar sana sedang menunggu keputusan kita.

Keputusan yang tepat pada waktu yang tepat itu bagus. Keadaan tersebut butuh intuisi dan keahlian tersendiri, dengan adanya hal yang rumit, saatnya diri untuk berlatih membuat keputusan. Soal salah, itu hal biasa. Jika tidak bertindak, memang kita tidak akan membuat salah. Namun, ada kemungkinan membuat hal yang benar juga. 

Saya menuliskan ini, jika suatu saat saya menghadapi hal yang rumit. Saya harus kembali membuka tulisan ini. Keberanian saya harus terus dipupuk, bukan melangkah dengan menutup mata. Karena tidak semua hal yang rumit dan sulit mampu kita hindari. Apalagi di masukan kedalam kotak pandora.




Kamis, 15 Mei 2014

Label, Slogan dan Saya


Jika saya melihat suatu label produk dengan banyaknya barisan huruf-huruf, maka saya merasa pikiran saya digiring untuk sepaham dengan tulisan tersebut. Itu bagi produk yang benar-benar asing buat saya atau saya butuh penjelasan kegunaan produk tersebut, maka saya akan membacanya dengan detail. 

Berbeda jika saya sudah mengenal produk tersebut dan menggunakannya, justru saya yang 'melebeli' produk tersebut. Artinya saya punya penilaian sendiri, bisa sama dengan yang tertulis dalam labelnya atau mungkin akan jauh berbeda dari paparan narasi yang ada.

Saya sedang tidak ingin membahas tentang label suatu produk. Saya menuliskan sedikit tentang perenungan yang ada dalam pikiran saya. Tanpa kita sadari, manusia pada dasarnya suka juga memberikan label pada manusia lainnya. Entah sahabat, keluarga, teman atau musuh sekalipun. Kita memberikan label secara tidak kentara pada mereka atau unek-unek tidak terungkap. Baiklah, mungkin kita akan berdalih 'tidak sengaja' atau  'tidak bermaksud' karena melebeli atau menilai seseorang dengan sebuah kesimpulan, apalagi kesimpulan buruk adalah sebuah tindakan buruk sangka. Atau suuzhon.

Pengalaman dalam diri saya, pernah ada rekan saya, jika saya berhubungan dengannya, tidak ada ruang untuk diskusi atau bincang panjang. Yang menang adalah pendapatnya. Yang terbaik adalah keinginannya. Bukan berarti pendapat saya terbaik. Paling tidak, saya hanya ingin ada sedikit celah untuk memberikan pendapat. Tapi yang saya rasakan adalah mustahil. Karena hal tersebut sering terjadi, maka saya 'melabeli' hubungan kami, hanya akan menimbulkan arus yang rumit. 

Atau juga, ada sahabat saya yang selalu telat jika ada janji pertemuan. Dan itu selalu, hampir 90 % terjadi kalau kami membuat rencana pertemuan. Karena intensitasnya 'sering', jadi saat akan bertemu dengannya. Saya akan tahu dia pasti telat. Padahal tidak juga bukan?

Kondisi 'melebeli' ini, adalah kondisi diluar keinginan saya. Kesimpulan itu terjadi begitu saja. Hal-hal yang akhir ini saya coba renungi. Bisa saja orang lain menaruh 'label' pada sosok saya yang memang jauh dari sempurna ini.

Siapa Saja Bisa Berubah 

Satu hal yang saya lupa tentang hal 'melebeli', hal ini bisa berarti bahwa kita menilai seseorang dengan sepihak saja. Padahal yang mampu menilai manusia luar dan dalam itu hanya Tuhan. Tidak juga para psikologi yang memiliki ilmu untuk menilai prilaku seseorang. 

Bisa saja pada pertemuan selanjutnya dengan teman saya yang selalu telat itu, hal yang ajaib terjadi. Dia datang lebih awal dan justru saya yang datang terlambat. Itu sangat mungkin. Siapa tahu saja dia memang punya misi untuk merubah diri soal komitmen memegang janji. Yang mungkin saja, azzamnya dia hanya di simpan dihatinya.

Apakah tidak malu, bagi saya jika sudah meletakkan label itu? Bisa-bisa ada label besar di dahi saya yang bersikap apatis karena tindakan buruk orang lain. Maka saya menggaris bawahi, mencatak tebal dan miring, bahwa semua orang dapat berubah. Termasuk diri saya. Harus lebih banyak melihat sisi terang dibanding sisi gelap. 

Maka saya merenung, 'melabeli' adalah kondisi dimana diri bermain dengan pikiran-pikiran kita. Sedangkan sumber kita bahagia atau tidak diri kita adalah berasal dari sebuah pikiran. Terkadang kita tersesat dan sesak karena berada dalam pikiran yang hanya itu-itu saja. Jika kita sudah terlanjur 'melabeli' seseorang rubahlah kondisi itu. Seperti hal yang masih saya lakukan bahwa apapun bisa berubah. 

Labelkan Diri

Dalam tindakan memberikan label ada hal yang positif. Seperti pemberian label pada sebuah produk, dengan slogan 'kecap nomer satu', setiap pembaca slogan tersebut pasti berharap kecap yang berlabel tersebut benar-benar nomer satu. Tentu saja dari segi kualitas. Pastinya setiap label tersebut terkandung harapan atau doa. Semua orang yang menikmati kecap tersebut juga berpendapat bahwa kualitas kecap tersebut memang nomer satu. Tidak hanya sekedar label belaka.

Bagaimana kalau diri kita 'melabeli' diri untuk menjadi positif dalam pencapaian hidup. Memberikan label sebagai bentuk motivasi perbaikan-perbaikan. Misalnya, saya adalah orang yang periang. Hal tersebut tentunya, akan kita usahakan untuk benar-benar terjadi. Kalaupun ada kesulitan menuju ke sana, setidaknya kita bergerak mengarah padanya. Sehingga label itu akan terjadi menjadi diri kita tanpa rekayasa. 

Pemberian label itu menjadi satu pecut untuk diri kita dalam mewujudkan impian atau keinginan diri, sehingga ada sinkron antara label dengan kualitas. Sekarang lempar banyaknya label pada orang lain, tapi jika label itu berkata positif, tidak ada salahnya di koleksi. Namun, jika label itu mengikat pikiran kita untuk selalu memberikan nilai negatif, sebaiknya kita koreksi diri. Siapa tahu banyak label negatif dalam dahi kita.


Senin, 12 Mei 2014

Sombong berbaju angkuh yang menyamar

Semenjak waktu seakan tidak lagi berkawan, ia terus memburu di setiap gelak tawa, yang bahkan air mata aku biarkan dibawa angin. Mungkin ada yang bilang Jonggrang terlalu sombong untuk menerima cinta Bandung bondowoso, tapi seterpesonanya ia pada lelaki itu, mana ada seorang diri mampu bersanding dengan musuh.

Sombong itu benar-benar samar. Bahkan pada seseorang yang lemah. Maka berhati-hatilah aku terhadap diri yang mulai mengagumi masa lalu yang sudah berlalu, mengagumi kepandaian yang perlu diusahakan dari pijakan yang teramat banyak dan membuat terengah-engah. Dari kata-kata yang melontarkan banyak bincang tentang keakuan, saya dan hamba.

Atau pada gelar manusia dan pengalaman yang menjadi catatan takdir, menceritakan pada pihak selain aku, seolah diri menjelma bijak. Entah, datang dari mana itu, mengenai kisah atau kata-kata puitis bagai orang-orang yang kaya akan pemikiran. Tapi justru, tersamar diri tidak mampu mengakui kelemahan dan masih sangat butuh rangkulan. Terutama rangkulan Tuhan.

Maka aku keluar dari keterpurukan diri, dari rasa sombong yang membuat Jongrang menjadi batu. Berkilah bahwa diri mampu membungkus pikiran dari sikap itu. Berkata dengan teramat samar, bahwa kesembongan atau merasa paling baik justru menyembunyikan diri dari cahaya nyata dan aku hanya mampu melihat cahaya imitasi.

Jika gading tidak ada yang retak, maka dari sekian perjalanan kebaikan, banyak sekali retak-retak diri yang sesungguhnya jauh dari mampu untuk dibilang hebat, tapi seakan ingin dibilang hebat. Lantas, nanti setelah hebat. Mau apa dan gimana?

Terbangun aku dari mimpi yang hanya menghantarkan imajinasi, menjadi hebatlah karena memang Tuhan yang menghebatkan. Bukan karena malunya kita mengakui ketidakcerdasan kita, tidak bijaknya diri dan berkatalah bahwa diri ini memang butuh perbaikan pada setiap detiknya.

Yang terpenting bukan dimana kamu berpijak, tapi bagaimana cara kamu berpijak. Masih tersematkah rasa sombong diantara kaki-kakimu yang lemah itu. Aku mengerti setiap saat mungkin kita menciptakan samar angkuh yang membuat silau. Tapi nyatanya kita lemah.






Selasa, 06 Mei 2014

Sayap Cinta Sahabat

     

     Kecendrungan seseorang untuk berada dalam lingkungan yang membuatnya nyaman. Ia akan berlama-lama disana, mengumbar cerita suka, duka, tertawa atau kecewa. Lingkungan itu bernama persahabatan. Dimana masing-masing individu yang dilahirkan unik, masing-masing melipir membentuk sebuah kelompok –bisa dua orang atau lebih- yang tanpa sengaja bisa saling mengerti nada-nada diantaranya, walau dengan bunyi yang berbeda.

       Selain keluarga, saya memiliki sebuah keindahan hidup lainnya yaitu sahabat. Sahabat adalah nama-nama yang kita simpan dalam ruang hati kita. Dia yang biasanya kita ingat jika diperlukan berbagi cerita. Entah duka atau suka. Nama seorang sahabat selalu berada di peringkat teratas pada setiap persentase pengiriman pesan singkat, whatsapp, atau blackberry messenger. Kabar mereka selalu kita rindukan. Jika pertemuan terjadi, tidak cukup waktu untuk berbagi cerita. Walaupun, cerita yang terlontar itu-itu saja.

Lemon tea persahabatan

     Secangkir persahabatan tidak selalu menyuguhkan sebuah minuman manis. Karena persahabatan dibentuk oleh kondisi yang bisa bermuara sebutan takdir. Saya bertemu dengannya, adalah sebuah takdir. Allah punya kehendak. Tapi jangan lupa kalau  manusia dilengkapi dengan sifat egois. Saya menyakini manusia mempunyai sifat itu. Hanya saja, satu dengan yang lainnya memiliki dominan yang berbeda dalam prilaku.Ada yang mengendalikannya dengan bijak atau mengumbarnya tanpa disadarinya sama sekali.

      Ikatan kuat persahabatan, selalu dilengkapi dengan rindu. Jika masih tidak ada rindu dalam sebuah hubungan persahabatan, berarti persahabatan itu harus dipertanyakan. Karena dalam hati seseorang bisa di buat banyak kamar untuk ditempati banyak nama sahabat. Itu mengapa Allah, menitipkan kebaikan mengasihi.

      Persahabatan itu adalah sebuah hubungan yang harus diperbaharui terus menerus kualitasnya. Sebuah kebersamaan manusia pasti ada asam manisnya. Laiknya, sendok dan piring suka berdenting. Hal yang perlu diingat dalam hubungan persahabatan, bahwa memperlakukan ia dengan empati penuh. Bersahabat bukan berarti menjadi tempat sampah gratis unek-unek apa pun. Tapi, sahabat adalah kondisi yang berimbang untuk saling membagi kisah. Tidak berat sebelah. Perlakukan ia sebagaimana inginnya kita diperlakukan. Siapkan telinga, siapkan nasihat, dan tidak melupakan dia saat memang ia harus tahu hal-hal yang terpenting dalam hidup kita. Menekan egoisme. Dengan adanya dia, kita sungguh berarti, karena dia dengan senang hati mengangkat kita menjadi sahabatnya. Walapun, tidak harus selalu dengan sebuah iklar persabatan.

Sahabat itu mengerti

       Saya menempatkan sahabat istimewa dalam hati saya. Berbagai karakter telah menjadi sahabat saya. Maka setiap perlakukan satu dengan yang lainnya berbeda. Saya tidak membeda-bedakan. Tapi secara naluri keadaan itu terjadi. Dan ternyata masing-masing tetap menjadi nyaman, bahkan sampai bilangan sepuluh tahun lebih.

        Menjadi warning buat kita, baik-baik sajakah persahabatan dengan umur yang jangka panjang lama itu? Tidak juga. Perumpaannya sama seperti menjaga gelas kramik. Ada yang menjaga gelas kramik dengan memajangnya, membersihkannya setiap hari dan menyimpannya. Ada pula yang hanya menyimpannya di dalam kerdus. Karena khawatir pecah jika di pajang atau ada pula yang terus menatapnya lekat, karena terpesona akan keindahan lukisan di atasnya.

      Begitulah, cara pandang seorang individu dalam menjaga persahabatannya itu. Sebaik-baiknya usaha manusia, pasti ditemukan celah. Memilki sahabat, membuat seakan dia adalah milik kita seutuhnya. Padahal, seorang sahabat pasti memiliki kehidupan pribadinya sendiri. Terkadang kita melupakan itu. Yang kita tahu, sahabat selalu ada untuk kita. Sehingga berevolusilah cinta persahabatan menjadi posesif.

      Saya memandang cinta posesif ini dari sudut berbeda. Bukan menekan. Tapi saya melihat bagian dari rasa sayang para sahabat saya dengan saya. Keadaan itu membuat saya takjub. Sangat. Ada halnya membuat saya tidak nyaman, namun sahabat itu memahami masalah kita pada saat dia sedang bijak. Atau memberi nasehat dalam keadaan tidak tertekan. Namun, jika keadaan posesifnya mereka membuat saya tidak nyaman yang teramat, tidak ada salahnya disampaikan. Toh, dia sudah ditasbihkan menjadi sahabat. Jangan menyimpannya menjadi menggunung, karena alasan tidak enak atau takut menyakiti.

      Persahabatan itu anugrah. Kita menjadi kita saat bersamanya. Itulah sahabat. Tetaplah menjadi sayapnya, yang dapat melambungkan asanya menjadi lebih tinggi. 

DS. 6 Mei 2014