Minggu, 14 Desember 2014

Jatuh Cinta



Jika rindu itu gelombang, maka ia bergemuruh. Dan jika cinta itu berwarna maka ia adalah pelangi. Begitu pula jika kasih adalah mendung maka ia menjelma menjadi hujan.

Jatuh cinta. Ia adalah bagian dari riak-riak rasa. Terjadi pada seorang insan yang tiba-tiba terikat pada sebuah pesona. Kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta dengan siapa. Tapi, kondisi jatuh cinta itu karena ada presepsi awal yang tertanam dalam benak anak manusia dalam hal mendefinisikan kekaguman.

Cinta memang bersifat universal, artinya tidak melulu dengan seseorang yang berbeda jenis. Namun, proses jatuh cinta adalah hal yang memang dialami semua orang. Seorang bayi yang baru lahir, akan jatuh cinta pada ibunya. Simplenya adalah ada pesona yang hadir pada sang bayi, yang saat itu dan ia pahami secara sederhana, ibunyalah yang telah memberikan rasa aman baginya. Bagaimanapun juga, proses jatuh cinta itu pasti karena sebuah sebab. Entah disadari atau tidak. Walaupun ada yang bilang kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta dengan siapa dan dengan cara bagaimana.

Cinta Merah Muda

Jatuh cinta adalah sebuah proses yang ajaib. Bisa dikatakan anugrah. Kondisi seseorang yang sedang jatuh cinta menimbulkan prilaku berragam. Menciptakan desiran pada hati dengan ritme degup detak jantung yang tidak stabil. Saya sedang tidak jatuh cinta. Namun, saya pernah merasakannya. Kesempatan ini, saya mengkhususkan menuliskan tentang betapa ajaibnya sebuah aktivitas jatuh cinta. Karena situasi ini sedang terjadi pada sahabat saya. Ia sedang jatuh cinta dan mendamba sangat dalam untuk bisa berdampingan dengan pria tersebut. 

Kondisi jatuh cinta itu menimbulkan banyak pertanyaan baginya. Apalagi cinta itu terjadi hanya kerena satu kali pertemuan. Tapi usai itu, dampak jatuh cintanya membuatnya sedikit limbung.  Prosesnya begitu cepat. Saya dan ia, pernah berfikir bahwa pada rentangan garis usia kami, jatuh cinta dapat ditakar dengan logika. Atau tidak akan mudah bagi kami untuk jatuh cinta lagi, karena usia kami jauh dari usia remaja, dimana usia tersebut tidak terlalu banyak menggunakan logika dalam hal menyukai sesuatu. Selain itu, kami sudah banyak memiliki pengalaman hidup. Sehingga dengan sekuat tenaga berharap jatuh cinta tidak mencincang hati menjadi serpihan kecil-kecil.

Dan ternyata salah. Tepatnya saya yang salah. Kerena hingga tulisan ini saya buat, sebuah keindahan dan keajaiban cinta baru ada pada sebuah film korea. Karena bagi saya proses jatuh cinta adalah sebuah kejadian pagi, sedangkan kita harus menghadapi siang dan malam kehidupan. Jatuh cinta adalah salah satu bagian dari aktivitas hidup. Ia adalah riak-riak rasa, satu dari sekian banyak rasa dalam kalbu seseorang manusia.

Namun, cinta bagi sahabat saya itu membuat saya merenung, cinta adalah fitrah yang tidak terbantahkan. Maka saya katakan padanya, nikmatilah rasa itu. Ekspresikan cinta dengan anggun, dengan aturan Tuhan terhadap yang mengikat kita agar selamat dari kejahatannya. Biasanya patah hati membuat berderai air mata, tapi ternyata bagi dia jatuh cinta membuatnya matanya basah. Dan yang membuat saya kagum, jatuh cinta yang terjadi padanya membuatnya semakin banyak memeluk sajadah. Kami sama-sama menyakini cinta adalah bagian tanda atau serangkaian pesan Tuhan yang ingin Dia sampaikan.

Jatuh cinta adalah kekuatan

Cinta adalah sebuah kekuatan dan akan berakhir pada sebuah tindakan pengorbanan. Maka karena hal itulah, saat tengah di mandikan sebuah rasa bernama cinta, setidaknya kita harus membangun pertahanan. Sehingga cinta tidak mengubur hati kita hidup-hidup. Yang membuatnya tidak bernafas saat jatuh cinta menjadi patah hati. Karena ada kalanya tangan bisa bertepuk hanya sebelah. Atau ada mata kunci yang hilang, sehingga ada ruang dalam hati kita belum bisa terbuka oleh seseorang yang tepat.

Karena walaupun ruangan di hati itu ingin sekali berpenghuni, nyatanya ia hanya bisa diisi oleh seseorang yang ditakdirkan Tuhan untuk mendiaminya selamanya. 

Jatuh cintalah berkali-kali

Seperti yang saya katakan tadi, jatuh cinta adalah pagi. Kondisi tanpa syarat. Bahkan bisa pada kondisi rasa yang klimaks. Oleh sebab itu, kondisi itulah yang bisa disebut buta dan mampu membuat seseorang mengabaikan apapun. Ada energi yang terjadi didalamnya. Dan saat kita melanjutkan ke bagian siang dan malam. Energi pagi seseorang yang sedang jatuh cinta memudar. Maka jika kondisi jatuh cinta dapat dibuat  berulang-ulang, lakukanlah.

Seorang anak akan jatuh cinta berkali-kali dengan orang tuanya. Suami yang jatuh cinta lagi pada istrinya lagi, begitu sebaliknya. Dan buat para single, jatuh cintalah dengan anggun. Sehingga dapat bertindak dengan aturan yang baik. Karena bisa jadi jatuh cinta adalah anugrah. Karena tidak semua orang dapat ditakdirkan jatuh cinta lagi.

DS, 14 Desember 2014

Catatan buat grup kepompong, yang malam ini ribut di grup. I love u, all. :)
This is for ms. Bunny.






Jumat, 05 Desember 2014

Sukses dan Bahagia



Jika kita tidak bermanfaat, maka kita akan dipunahkan alam semesta. Dan lebih menarik lagi dari yang ia temukan saat itu adalah sebuah barisan kata yang mengilhaminya bahkan 50 tahun setelahnya, sebuah pesan yang membuatnya merenung bahwa kalau kita curahkan waktu dan perhatian demi kepentingan sesama maka alam semesta akan mendukung kita, selalu, dan persis di saat-saat kritis.

Buckmister Fuller mendapatkan kata-kata tersebut saat dirinya berniat mengakhiri hidupnya di danau Michigan. Saat perasaan bersalah telah menghukum hari-harinya, usai kematian anaknya. Buckmister Fuller bukanlah seseorang yang tidak beruntung. Ia orang yang cerdas dan sukses namun rasa bahagia seakan terus menjauh.

Bagaimana mendifinisikan sebuah kesuksesan maka akan banyak persepsi soal itu. Masing-masing mendefinisikan berdasarkan sudut pandang berbeda. Satu sama lainpun bisa saling membantahnya. Sedangkan bagaimana soal bahagia? Saya rasa akan banyak definisi lagi tentang hal tersebut. Karena ukuran tingkat kepuasan hidup pun dirasakan berbeda diantara antar personal manusia. Bahagia adalah akhir dari sebuah banyak pinta, impian dan rasa yang begitu dicari dari sebuah proses kehidupan.

Dalam buku The 7 laws of happiness karya Arvan Pradiansyah, Sukses adalah mendapatkan apa yang kita inginkan, sementara bahagia adalah menginginkan apa yang anda dapatkan. Sukses dan bahagia adalah dua jalur jalan yang berbeda. Sukses lebih berdimensi fisik sementara kebahagiaan berdimensi spritual.

Untuk menjadi sukses kita perlu sebuah target, kerja keras dan dengan syarat. Sedangkan bahagia adalah hal yang bisa dimulai kapan saja. Bahagia bisa berada diantara keadaan berjuang. Diantara keringat-keringat yang diusahakan untuk sebuah kebaikan. Jika kita memutuskan bahagia dengan syarat, maka saat kita belum mendapatkan yang kita inginkan, bahagia akan menjadi angan-angan. Bahagia adalah sebuah keputusan hati. Sebuah keadaan yang diciptakan manusia itu sendiri. 

Apa yang kurang dari Buckmister Fuller, seorang ahli geodesic, kaya, cerdas dan dihormati. Namun, ia adalah seorang yang sempat ingin mengakhiri hidupnya. Dia belum menemukan bahagia diantara banyak pencapaiannya. Hingga akhirnya ia mampu menemukan kebahagiaan saat dirinya mengetahui cara untuk mengabdikan diri pada alam semesta. Karena menurutnya jika tidak manfaat, maka akan dipunahkan.

Saya mendapatkan cerita tentang Buckmister Fuller dari bapak Tung Desem waringin dari seminar yang beliau sampaikan yang bertajuk Succes Revolution, beliau adalah seorang pakar marketing.  Salah satu dari empat pembicara hebat yang hadir saat itu. Saya menyimpulkan dari yang beliau sampaikan bahwa saat menggapai sukses atau hal yang ingin kita capai, jangan lupa untuk tetap menyelipkan bahagia dengan syukur yang untuk hal yang telah ditangan. Bahagia dapat dimulai sekarang. Namun, syukur juga jangan membuat kita naif, untuk membuat langkah kita terdiam. Merasa tidak perlu lagi untuk bergerak mencapai sebuah keinginan.

Apa yang saya syukuri, apa yang harus saya pelajari dari kejadian ini sehingga besok menjadi lebih baik dan apa yang saya lakukan sekarang agar merasa lebih baik dan orang lain menjadi lebih baik. Deretan pertanyaan tersebut menjadi kunci untuk kita melakukan pergerakan untuk mencapai sebuah rasa bernama bahagia.

Karena human nature adalah do something. Sebenarnya jika kita lebih mendalami hukum alam, setiap gerakan kita akan mampu selaras. Dan jika kita mencoba memungkiri keadaan hukum alam maka kita tidak akan mampu mengimbangi keadaan hidup. Hal ini mengingatkan saya tentang hukum kekekalan energi, saya yakin segala kelelahan yang kita lakukan akan berdampak pada hidup kita kembali. Energi itu kekal, ia hanya berubah bentuk dan yang pasti akan kembali pada pemiliknya. Seperti kata Tuhan, akan ada balasan bagi sebuah tindakan, bahkan hanya sebesar dzarrah pun.

05 Desember 2014


Senin, 01 Desember 2014

Sempurna



Malam itu tergesa, pagi itu merangkak capat, sore hanya sekedar mengenalkan lembayung diufuk barat tanpa sempat berpamit pada detik yang bergerak tidak tahu rasa. Secangkir kopi, meminta udara menghantarkan aromanya memenuhi sendi kelelahan. Walaupun, kadang ia tidak juga bersahabat pada lambung yang meronta karena kafein yang mencari celah nyaman saat sudah melewati kerongkongan.

Pada suatu waktu, menatap hujan merupakan bagian dari kesempurnaan. Hujan yang riang. Melompat-lompat. Karena hujan menghantarkan harapan, seusai angin yang dingin dan basah pada kepalamu, ia tetap mampu mencatatkan pinta selesainya ia menempa bumi. Menembus celah-celah jalan yang semakin kuat dibuat manusia.

Tidak hanya hujan, bunga-bunga juga begitu mempesona. Warnanya mampu bagi sang pengagum melupakan sejenak riuh kabut dalam diri. Seakan tiada waktu habis untuk diri mengangankan untuk memilikinya. Dan jika malam-malam datang, bintang mengambil posisi menjadi primadona, saling berpendar. Meminjam cahaya satu sama lainnya. Sehingga saling berkelip bergantian. Bintang membuat malam sempurna.

Bintang, bunga dan hujan bukan aku. Bukan bagian dari sketsa yang pantas untuk dihadirkan dalam sebuah kanvas. Tidak mampu mewarnai pelangi pada langit yang kelabu. Aku meranggas pada sebuah ketidaksempurnaan yang menjelma berlahan menciumi benakku. Jika aku masih dipertemukan oleh bintang, bunga dan hujan, aku tidak perlu lagi sempurna.

Karena campuran kopi dan aromanya cukup memberitahukan diri bahwa hidup bagian dari cara meramu. Bukan terduduk pada sudut yang hanya membekaskan lebam pada hatimu. Tidak perlu sempurna untuk menjadi bahagia. Karena aku sudah menjadi sempurna dengan ketidaksempurnaan ini.

Duren Sawit, 01 Desember 2014

Minggu, 23 November 2014

Bagi yang lemah, kau hanya perlu bergerak.



Suatu saat kita akan tahu, setiap pergerakkan kita sesungguhnya menghasilkan. Tiada yang sia-sia. Sekalipun banyak peluh dan gemerlap tujuan masih jauh dari jangkauan.
***
 Terjadi perseteruan antara kancil dan kura-kura. Dalam hutan belantara, kancil selalu mengejek kura-kura yang bergerak lambat. Mencari makanan, berpindah dari tempat yang satu dengan yang lainnya kura-kura bergerak terlihat sangat lambat. Itulah yang terpikir dalam benak kancil. Dia berpikir, mengapa Tuhan menciptakan makhluk semacam kura-kura. Terlihat sekali kura-kura sangat bersusah payah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan sering kali kura-kura menjadi incaran empuk para pemangsa. 


Kura-kura tidak pernah menghiraukan ucapan kancil. Kura-kura pikir itu adalah hidupnya. Mau lambat atau tidak, sama sekali bukan urusan kancil. Yang mengherankan buat dia, kenapa kancil begitu terganggu dan risau. Sehingga selalu sibuk sendiri untuk mengomentari hidupnya. Tapi kalau kancil setiap hari mengejeknya, hatinya juga terusik. 


Hingga suatu saat, kura-kura dan kancil bertengkar hebat. Adu argumen. Saling mengutarakan kelemahan masing-masing. Kura-kura juga sudah tidak tahan dengan ucapan sinis kancil tanpa sengaja menantangnya untuk berlomba lari. Mendengar hal tersebut, sontak kancil tertawa terpingkal-pingkal. Ini adalah humor paling lucu yang pernah dia dengar. Apakah kura-kura tidak bercermin dengan keadaannya. Bagi kancil, ini sangat lucu. 


Sebenarnya kura-kura menyesali ucapannya, menantang kancil untuk berlomba lari. Jika dilihat kemapuannya, memang sangat mustahil. Kura-kura sudah sangat menerima keadaannya. Terhadap apa yang dia terima dari Tuhan. Tidak menyesalinya. Namun, jika sudah terjebak emosi maka kura-kura merasa harus mempertahankan harga dirinya. Paling tidak ingin memberi pelajaran bagi sang kancil.

***
Cuaca hari ini sangat panas. Kura-kura membutuhkan tenaga lebih besar untuk menjalani perlombaan ini. Perlombaan ini harus dijalani, entah nanti menang atau kalah. Beberapa hari terakhir kura-kura terus mamacu dirinya untuk lebih bisa berlari cepat. Sedangkan kancil sama sekali tidak melakukan persiapan, ia hanya mamandang sinis apa yang dilakukan oleh sang kura-kura. Seperti dugaan kancil melesat dengan cepat, kura-kura mendapat posisi terbelakang. Cuaca kian terik. Kancil melihat keadaan kura-kura memperlambat larinya. Sepertinya perlombaan ini tidak harus dilakukan serius. Karena ia sudah tahu siapa pemenangnya.

Teriknya matahari membuat kancil memutuskan untuk berteduh pada sebuah pohon besar. Dengan menghitung waktu, beristirahat sejenak nampaknya tidak akan merubah hasil yang sudah dia perkirakan nanti. Lagipula, kura-kura masih berada jauh dibelakangnya. Pergerakannya sangat lambat. Bahkan sudah mulai terlihat kelelahan dengan adanya terik matahari yang cukup membakar.

Kelelahan mendera kura-kura, pergerakannya melambat. Ada keinginan ia menyerah, lagipula kalau dia kalah, maka hal itu adalah wajar. Semua juga tahu kalau ia memang lamban. Sampailah dia di depan pohon besar, nampak kancil sedang tertidur pulas. Godaan untuk berhenti semakin besar. Tapi ia punya prinsip, bahwa perlombaan ini harus selesai. Dengan gontai kura-kura terus berjalan. Sesekali melihat ke arah kancil yang masih terlelap. Mungkinkah kancil akan menyusulnya? Pertanyaan itu bergelayut terus dalam diri kura-kura.

Kura-kura terus bergerak. Lambat. Tapi menuju sebuah titik. Garis finish. Kadang merasa kancil akan datang tiba-tiba dengan kekuatan penuh dan menurutnya hal itu akan mudah membuat kancil memenangkan perlombaan ini. Namun, ia terus bergerak. Garis finish sudah terlihat. Beberapa penghuni hutan lainnya juga sudah menunggu. Semua tampak terkejut. Kura-kura dengan susah payah telah sampai di garis finish. Sedangkan kancil mulai tunggang langgang dibelakang. Berusaha mendahului kura-kura. Tapi hasil akhir ternyata dapat berubah dari perkiraannya. Kura-kura mampu mengalahkannya.

Kancil tertunduk malu. Ia merutuki kelalainnya. Dan kura-kura berkata pada kancil "kau hanya perlu bergerak, sehingga kemenangan akan mudah menghampiri."
Duren Sawit, 23 November 2014







Minggu, 16 November 2014

Salah, bukan berarti harus menyerah




Ibarat sebuah kue yang sudah jadi tapi kurang manis, maka akan sulit untuk menambahkan gula. Sudah terlanjur. Namun, kita dapat menambahkan gula halus atau memakannya dengan teh manis. Paling tidak, kue tersebut masih dapat dinikmati.

Sudah terlanjur. Hal yang sudah terjadi. Masa lalu. Yang bisa dikatagorikan sebagai sebuah kesalahan. Tidak ada yang mau berbuat salah. Siapapun. Kalaupun ada, pasti ada masalah dengan manusia tersebut. Salah adalah teman pasti manusia dalam menjalankan kekhalifahannya. Hanya Nabi Muhammad yang terlindungi dari kesalahan, karena jika beliau berbuat salah maka Tuhanlah yang langsung meluruskannya melalui firmanNya.

Dalam mengambil keputusan, pilihannya akan berdampak pada benar atau salah. Seandainya kita tahu soal masa depan, pasti kita akan memilih hak-hal atau langkah-langkah yang benar untuk menghasilkan sesuatu sesuai dengan harapan. Oleh karena itu, Tuhan menghadiahkan manusia sebuah otak yang harus digunakan untuk menganalisa permasalahan. Sehingga saat kita mengambil keputusan, kita bisa memprediksi sebuah jalan yang baik. Ini loh, menurut analisa dan pertimbangan saya, dengan beberbagai data-data dan informasi yang saya miliki.

Namun, dengan minimnya kita terhadap data-data dan informasi membuat kita ragu untuk melangkah. Apalagi, seandainya kita tidak memilikinya sama sekali. Maka langkah untuk memutuskan semakin berat, apalagi berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Seperti para pemimpin negeri ini, ditunda berdampak. Tidak ditunda, bisa dibilang labil. 

Dan apabila nasi sudah menjadi bubur, yang bisa berarti sudah diambil keputusan ternyata ada hal yang tidak sesuai dengan harapan. Pengorbanan sudah terjadi. Keseimbangan mulai goyah. Apa yang harus dilakukan? Balik mundur adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. Karena waktu itu berjalan ke depan, memang kekhawatiran untuk mengambil keputusan salah akan semakin menggerogoti. Belum lagi, rasa bersalah atas tatapan dari orang lain.

Tiada salahnya merenung sejenak, hadapi semua. Evaluasi dan mengakuinya. Sampaikan maaf dan tentukan langkah selanjutnya. Katanya 90% kekhawatiran itu tidak akan terjadi. Bayangan kita tentang masa depan biasa teramat berlebihan. Padahal, detik demi detik kita melangkah menuju masa depan.

Membuat salah adalah bagian dari pembelajaran. Berani mengambil resiko adalah sebuah mental yang harus ditempa. Karena hanya seorang pengambil resiko akan juga menemukan hal yang berhasil. Yang perlu ditambahkan adalah sebuah kegigihan. Sikap ini adalah hal yang harus dilatih dan langsung praktik.

Menurut Rhenald Kasali dalam bukunya Self Driving beberapa karakter pengambil resiko, orang-orang yang bersedia mengambil resiko ini umumnya 
  • Bersedia membayar biayanya. Biaya tersebut pengorbanan dan ketidaknyamanan.
  • Menerima konsekuensi namun seorang driver rela memperbaiki diri.
  • Tidak cari aman. Bukan orang-orang yang biasa bersenyembunyi dibalik selimut rasa aman
  • Menerima julukan-julukan sinis, mereka juga bisa saja menjadi sasaran dari mayoritas penonton yang biasanya justru terdiri dari orang-orang yang mencari aman.
Hal yang perlu diingat ialah kita selalu punya cara untuk belajar dari hal-hal yang salah pernah kita lakukan. Tidak berbuat salah, biasanya tidak pernah melakukan apa-apa.

Duren Sawit, 16 November 2014



Senin, 10 November 2014

Bagaimana mendidik karaktermu?


Minggu kemarin, tanggal 9 November 2014 saya mengikuti seminar parenting yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Cinta di condet, seminar yang berlangsung sederhana namun memberikan kesan yang cukup dalam.

Seminar yang diisi oleh pembicara ibu Ida S Widayanti, beliau adalah pakar parenting yang juga penulis buku 'Mendidik karakter dengan karakter' dalam seminar tersebut dipaparkan betapa pentingnya masa anak-anak untuk menanamkan sebuah karakter baik, mulia dan berakhlak. Butuh kerja keras, dedikasi yang tinggi dan kemauan untuk menuju ke sana.

Kita membutuhkan ilmu untuk melakukan hal tersebut. Mencari tahu tentang tingkah pola anak, menyikapi masalah, mengatur emosi sampai pengaturan ucapan yang dapat mengarahkan seorang anak menjadi seseorang yang baik menurut yang kita inginkan. Sehingga karakter ini akan terus dibawa oleh si anak tersebut hingga ia dewasa.

Dunia anak-anak ternyata lebih luas dari pandangan orang dewasa. Miniatur orang dewasa berada pada anak-anak. Kali ini saya tidak fokus untuk jauh membahas mengenai pendidikan karakter pada anak-anak. Bukan karena saya belum pernah menjadi orang tua, hanya saja kemampuan saya untuk menganalisa hal tersebut teramat dangkal, lagipula saya belum menuntaskan membaca buku ibu Ida tersebut. Saya baru membaca 2 bab dan saya yakin hingga akhir halaman, buku tersebut akan sangat menarik. Silakan cari jika ingin merasakan kedalaman paparannya.

Kita dan orang tua

Mendidik sebuah karakter yang baik memang menjadi tugas orang tua. Tapi, tidak hanya itu, karakter dibentuk juga oleh lingkungan yang dihadapi seseorang. Baik lingkungan sekolah atau tempat dimana ia tinggal. Bagaimana dia berpikir, bersikap, menuntaskan masalah dan bahkan cara dia berbicara adalah cara seorang anak meniru saat dia tumbuh belajar dimasa kecilnya. Mereka bagaikan cermin, mengadopsi apapun secara mentah-mentah, dan jika kebablasan akan menjadi karakter yang abadi bagi mereka hingga mereka bertumbuh.


Lantas bagaimana jika orang tua kita memiliki keterbatasan soal mendidik anak. Mereka hidup dijamannya, dengan orientasi dan pola pendidikan yang berbeda. Saya sangat yakin dengan pola pendidikan yang pernah diterapkan oleh orang tua kita dahulu adalah memiliki tujuan terbaik bagi anak-anaknya. Mereka mempersiapkan anak-anaknya untuk dapat menghadapi hidup. Bisa jadi saat orang tua kita mendidik kita, belum ada yang dinamakan seminar parenting, buku-buku psikologi anak, passion atau mengenal berbagai macam kecerdasan. Bagi mereka membuat anaknya berpendidikan menjadi hal yang sudah luar biasa.  Sangat tergantung pada pemahaman mereka saat itu.

Namun, ada hal yang kemungkinan tidak sempurna yang dilahirkan dalam sebuah pola didik yang dilakukan oleh orang tua kita. Sehingga masih ada hal-hal yang tertinggal dan menyebabkan beberapa karakter buruk singgah dalam diri kita. Dan walaupun kita juga sudah menerapkan pola didik dengan ilmu dan teori terbaik yang sudah banyak ditemukan sekarang, saya yakin pasti ada ketidaksempurnaan terjadi. Karena, yang sedang kita bentuk adalah seorang anak manusia bukan tanah liat yang bisa dijadikan benda yang kita inginkan.

Bagaimana dengan karaktermu 

Jika saya disuruh mencatatkan kekurangan diri, maka dengan mudah saya membuatnya. Sebaliknya, jika saya disuruh mencatatkan kelebihan diri, saya butuh waktu untuk menganalisa dan menyakini berkali-kali untuk menyatakan benarkan itu bagian dari kelebihan saya.

Karakter tidak percaya diri itulah salah satu yang masih hinggap dalam keseharian saya. Dan saya menyadarinya. Masih banyak lagi hal yang saya rasa butuh berbaikan. Saya tidak tahu apakah karakter tersebut hasil pola asuh orang tua saya. Tapi saya percaya, orang tua saya tidak menginginkan anaknya kurang percaya diri. Namun, seperti yang saya bilang tadi, banyak faktor yang mempengaruhi sebuah karakter terbentuk.

Point yang ingin saya sampaikan ditulisan ini adalah bagaimana mendidik karakter saat kita sudah dewasa. Tentu saja tidak lagi harus bergantung pada orang tua kita. Hal yang utama untuk kita lakukan adalah dengan menyadari karakter apa yang menghambat kehidupan kita atau hal-hal yang membuat orang lain tidak nyaman. Kita berada di posisi bagaimana. Bercermin pada prilaku orang lain yang membuat kita tidak nyaman. Jangan-jangan kita mengadopsinya dan juga menjadi karakter kita.

Hal lain dengan memilih cara untuk men'drive diri kita mengarah pada perbaikan. Memang butuh kerja keras dan usaha. Saya masih dalam tahap awal sekali. Masih pada posisi perencanaan dan niat. Namun, berakrablah pada nilai-nilai yang baik, lingkungan dengan hubungan antar personalnya higienis, membiasakan mengarahkan pada hal-hal yang positif dan bacaan-bacaan yang memotivasi.

Dengan begitu, diri akan bergerak semangat untuk membentuk sebuah karakter baru yang lebih baik. Dan mengubah kebiasaan itu butuh waktu sampai terbentuk menjadi sebuah karakter. Semoga saya mempu merenungi lebih dalam tentang hakikat diri sehingga mampu menahan karakter buruk saya untuk saya kendalikan dan saya sangat berharap jika saya mampu merubahnya.

Duren Sawit. 10 November 2014






Kamis, 29 Mei 2014

Bosan, Bosan dan Bosan

By. Ani Sudaryanti


Bohong, jika ada seseorang tidak pernah merasakan bosan. Kondisi bosan itu adalah hal yang sangat mungkin terjadi pada siapapun. Hanya saja setiap individu memiliki keadaan yang berbeda satu sama lainnya. 

Kebosanan biasanya berdampak pada perilaku keseharian. Sekuat apapun diri menekan rasa bosan, hal itu pasti berdampak. Dampaknya bisa besar atau kecil. Indikasi kebosanan terjadi adalah pada sesuatu yang biasanya kita anggap menyenangkan menjadi berubah menyebalkan. Terus berada dalam kondisi tersebut membuat kita terasa tercekik. Jika kebosanan terjadi pada sebuah aktivitas atau pekerjaan, timbul perasaan tidak berguna atau tidak bermanfaat jika terus melakukan kegiatan itu. Kehilangan arti. Sehingga tercipta kesimpulan, aktivitas yang useless.

Antusias yang menurun, sikap yang berubah tidak ramah, lebih banyak diam (melamun), atau tindakan yang berseberangan dari sikap pribadi sehari-hari. Keadaan tersebut bisa tergolong dampak kebosanan.

Kita kehilangan makna dari sebuah kegiatan yang dilakukan terus menerus itu. Menjadi kehilangan kemampuan dalam menerjemahkan suatu aktivitas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bosan adalah sudah tidak suka lagi karena sudah terlalu sering atau banyak; jemu. Atau menurut peter toohey, kebosanan merupakan sebuah mekanisme penyesuaian diri.

Terjemahkan apa yang kamu rasa

Mampu menilai diri, menerjemahkan keadaan yang dirasa adalah sebuah kemampuan yang luar biasa. Tapi harus dengan keadaan jujur. Terkadang personal berusaha untuk bahagia. Atau kondisi agar 'terlihat' bahagia. Ada keadaan yang manipulasi perasaan. Jika kita tidak mampu menerjemahkan perasaan dalam keadaan apa? bagaimana kita mampu memberikan solusi terhadap apa yang mengganjal di pikiran. 

Menerjemahkan perasaan ini, tidak perlu disampaikan ke orang lain, jika itu terasa berat. Tapi, sampaikan perasaan hati pada diri sendiri. Termasuk perasaan bosan. Bisa jadi keadaan bosan adalah sebuah sinyal pada diri untuk merenung lebih jauh, apa sebenarnya yang sedang kita lakukan. Karena dalam kondisi bosan, biasanya pikiran akan kosong. Pada saat itulah pikiran dapat diisi dengan renungan. Namun, juga harus berhati-hati, kondisi kosong tadi juga bisa di masuki hal-hal yang negatif. 

Hempaskan Kebosanan

Tidak ada cara untuk mencegah datangnya bosan. Dari profesi apapun, dari tingkatan bawah hingga atas, kebosanan adalah hal yang manusiawi. Para psikologi mengatakan kebosanan terjadi karena kurangnya stimulus intelektual, aktivitas yang sama atau sebuah tekanan. Sehingga posisi seseorang akan terengah-engah dengan tekanan yang terus bertubi-tubi untuk dia hadapi. Yang diperlukan adalah berhenti sejenak. Menarik nafas panjang, mengumpulkan hal-hal yang positif sebagai bahan bakar jika memang rutinitas itu adalah hal yang tidak mungkin ditinggalkan.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah melakukan kegiatan yang lebih ringan dari aktivitas tersebut atau mencari tantangan baru. Penguasaan keahlian lain, menciptakan hobi baru atau menekuni kembali hobi yang terabaikan karena selama ini kita tenggelam dalam aktivitas keseharian, yang justru saat ini membuat kita bosan. 

Jika bosan menyelesaikan pekerjaan di kantor, tidak ada salahnya membawa pekerjaan itu ke rumah, cafe atau perpustakaan. Dimana saja. Yang terpenting ada suasana baru. Tidak monoton dan statis.

Bosan tidak mampu kita hindari. Tapi bosan dapat kita hempas dengan cara kita. Dan yang terbaik, saat bosan adalah saat kita merenung. Membuat pertanyaan pada diri sendiri, apa sebenarnya yang kita lakukan? Dan untuk apa? 

Berhenti sejenak. Marilah kita temukan jawabannya.

Minggu, 25 Mei 2014

Soal Rumit Yang Sulit


Pernah terlintas dalam angan saya terucap, bagaimana jika saya menjalani hidup saya dengan melintasi usia saya dengan 'menutup mata', mengabaikan hal yang terjadi. Apalagi hal-hal yang rumit dan sulit. Sehingga jika datang masa-masa itu, saya ingin lari untuk tidak menghadapinya. Tapi, apakah bisa? Kembali saya berpikir, kalau saya menutup mata, maka saya juga akan melewatkan pemandangan indah dan kejadian mengagumkan saat sebuah proses rumit tersebut saya jalani. Karena, saya memiliki keyakinan kalau ada banyak hal indah yang terselip dalam permasalahan hidup.

Singkirkan Atau Sembunyikan

Manusia memiliki tipe berbeda dalam menghadapi sebuah kerumitan atau masalah, termasuk saya, namun ada kondisi yang menyebabkan seseorang mampu menghadapi sebuah persoalan. Misalnya latar belakang pendidikan, lingkungan, keluarga dan kondisi keseharian yang biasa seseorang hadapi, hal tersebut menjadikan dia memiliki sikap berbeda dalam menghadapi permasalahan yang rumit.

Ada yang menyimpulkan 'masalah ini terlalu rumit' maka saya sembunyikan atau urutkan dia pada posisi yang terbawah untuk dipikirkan. Ada juga yang menyimpulkan 'masalah ini terlalu sepele' maka dia sembunyikan pada bawah karpet, seperti debu yang disapu. Tapi, perlu di ketahui bahwa tingkat penilaian sepele dan rumit, satu dengan lainnya berbeda. Bisa saja saya bilang itu penting walau rumit. Tapi, bagi orang lain hal itu terlalu sepele untuk diselesaikan. Tapi, apakah bijak jika terus menerus lari dari hal-hal yang rumit? Mau tidak mau hal itu harus dihadapi. 

Kita tidak bisa terus menerus menyembunyikan hal yang rumit dan sepele pada balik karpet, karena suatu saat baik cepat atau lambat, karpet tersebut akan diangkat. Dan pasti akan kita akan terkejut dengan apa yang kita tanam di sana. Mungkin kita akan melihat sebuah habitat baru. Bisa jadi hal yang mengerikan. --hanya imajinasi :)

Pending (Tunda Saja)

Pilihan lain saya hal yang rumit adalah lakukan penundaan. Memang ada beberapa permasalahan yang rumit butuh waktu untuk dipikirkan. Dengan tujuan agar dapat diselesaikan melalui keputusan yang tepat. Butuh pertimbangan, tanya sana, tanya sini dan kumpulkan data. Saya sering melakukannya, yaitu mengumpulkan data. Agar hal yang rumit dapat  terurai dengan data yang kita kumpulkan. Setidaknya kita harus mempunyai waktu ideal kapan hal itu terselesaikan. 

Namun, ada juga melakukan penundaan, karena hal masalah yang rumit itu agar tersingkir dahulu. Tidak ada batas waktu menyelesaian, dan diam-diam berharap masalah itu terlupakan. Bagaimana menurut anda tentang sikap ini? 

Hadapi

Jika kita sudah mengambil keputusan dan ditempatkan pada 'posisi' banyaknya hal yang rumit, hal yang paling tepat adalah hadapi. Mau menutup mata, tutup telinga, masalah itu sudah di depan mata. Hal yang mungkin dilakukan adalah penundaan. Tapi, penundaan dengan jeda waktu yang wajar. Pertimbangkan bahwa orang lain diluar sana sedang menunggu keputusan kita.

Keputusan yang tepat pada waktu yang tepat itu bagus. Keadaan tersebut butuh intuisi dan keahlian tersendiri, dengan adanya hal yang rumit, saatnya diri untuk berlatih membuat keputusan. Soal salah, itu hal biasa. Jika tidak bertindak, memang kita tidak akan membuat salah. Namun, ada kemungkinan membuat hal yang benar juga. 

Saya menuliskan ini, jika suatu saat saya menghadapi hal yang rumit. Saya harus kembali membuka tulisan ini. Keberanian saya harus terus dipupuk, bukan melangkah dengan menutup mata. Karena tidak semua hal yang rumit dan sulit mampu kita hindari. Apalagi di masukan kedalam kotak pandora.




Kamis, 15 Mei 2014

Label, Slogan dan Saya


Jika saya melihat suatu label produk dengan banyaknya barisan huruf-huruf, maka saya merasa pikiran saya digiring untuk sepaham dengan tulisan tersebut. Itu bagi produk yang benar-benar asing buat saya atau saya butuh penjelasan kegunaan produk tersebut, maka saya akan membacanya dengan detail. 

Berbeda jika saya sudah mengenal produk tersebut dan menggunakannya, justru saya yang 'melebeli' produk tersebut. Artinya saya punya penilaian sendiri, bisa sama dengan yang tertulis dalam labelnya atau mungkin akan jauh berbeda dari paparan narasi yang ada.

Saya sedang tidak ingin membahas tentang label suatu produk. Saya menuliskan sedikit tentang perenungan yang ada dalam pikiran saya. Tanpa kita sadari, manusia pada dasarnya suka juga memberikan label pada manusia lainnya. Entah sahabat, keluarga, teman atau musuh sekalipun. Kita memberikan label secara tidak kentara pada mereka atau unek-unek tidak terungkap. Baiklah, mungkin kita akan berdalih 'tidak sengaja' atau  'tidak bermaksud' karena melebeli atau menilai seseorang dengan sebuah kesimpulan, apalagi kesimpulan buruk adalah sebuah tindakan buruk sangka. Atau suuzhon.

Pengalaman dalam diri saya, pernah ada rekan saya, jika saya berhubungan dengannya, tidak ada ruang untuk diskusi atau bincang panjang. Yang menang adalah pendapatnya. Yang terbaik adalah keinginannya. Bukan berarti pendapat saya terbaik. Paling tidak, saya hanya ingin ada sedikit celah untuk memberikan pendapat. Tapi yang saya rasakan adalah mustahil. Karena hal tersebut sering terjadi, maka saya 'melabeli' hubungan kami, hanya akan menimbulkan arus yang rumit. 

Atau juga, ada sahabat saya yang selalu telat jika ada janji pertemuan. Dan itu selalu, hampir 90 % terjadi kalau kami membuat rencana pertemuan. Karena intensitasnya 'sering', jadi saat akan bertemu dengannya. Saya akan tahu dia pasti telat. Padahal tidak juga bukan?

Kondisi 'melebeli' ini, adalah kondisi diluar keinginan saya. Kesimpulan itu terjadi begitu saja. Hal-hal yang akhir ini saya coba renungi. Bisa saja orang lain menaruh 'label' pada sosok saya yang memang jauh dari sempurna ini.

Siapa Saja Bisa Berubah 

Satu hal yang saya lupa tentang hal 'melebeli', hal ini bisa berarti bahwa kita menilai seseorang dengan sepihak saja. Padahal yang mampu menilai manusia luar dan dalam itu hanya Tuhan. Tidak juga para psikologi yang memiliki ilmu untuk menilai prilaku seseorang. 

Bisa saja pada pertemuan selanjutnya dengan teman saya yang selalu telat itu, hal yang ajaib terjadi. Dia datang lebih awal dan justru saya yang datang terlambat. Itu sangat mungkin. Siapa tahu saja dia memang punya misi untuk merubah diri soal komitmen memegang janji. Yang mungkin saja, azzamnya dia hanya di simpan dihatinya.

Apakah tidak malu, bagi saya jika sudah meletakkan label itu? Bisa-bisa ada label besar di dahi saya yang bersikap apatis karena tindakan buruk orang lain. Maka saya menggaris bawahi, mencatak tebal dan miring, bahwa semua orang dapat berubah. Termasuk diri saya. Harus lebih banyak melihat sisi terang dibanding sisi gelap. 

Maka saya merenung, 'melabeli' adalah kondisi dimana diri bermain dengan pikiran-pikiran kita. Sedangkan sumber kita bahagia atau tidak diri kita adalah berasal dari sebuah pikiran. Terkadang kita tersesat dan sesak karena berada dalam pikiran yang hanya itu-itu saja. Jika kita sudah terlanjur 'melabeli' seseorang rubahlah kondisi itu. Seperti hal yang masih saya lakukan bahwa apapun bisa berubah. 

Labelkan Diri

Dalam tindakan memberikan label ada hal yang positif. Seperti pemberian label pada sebuah produk, dengan slogan 'kecap nomer satu', setiap pembaca slogan tersebut pasti berharap kecap yang berlabel tersebut benar-benar nomer satu. Tentu saja dari segi kualitas. Pastinya setiap label tersebut terkandung harapan atau doa. Semua orang yang menikmati kecap tersebut juga berpendapat bahwa kualitas kecap tersebut memang nomer satu. Tidak hanya sekedar label belaka.

Bagaimana kalau diri kita 'melabeli' diri untuk menjadi positif dalam pencapaian hidup. Memberikan label sebagai bentuk motivasi perbaikan-perbaikan. Misalnya, saya adalah orang yang periang. Hal tersebut tentunya, akan kita usahakan untuk benar-benar terjadi. Kalaupun ada kesulitan menuju ke sana, setidaknya kita bergerak mengarah padanya. Sehingga label itu akan terjadi menjadi diri kita tanpa rekayasa. 

Pemberian label itu menjadi satu pecut untuk diri kita dalam mewujudkan impian atau keinginan diri, sehingga ada sinkron antara label dengan kualitas. Sekarang lempar banyaknya label pada orang lain, tapi jika label itu berkata positif, tidak ada salahnya di koleksi. Namun, jika label itu mengikat pikiran kita untuk selalu memberikan nilai negatif, sebaiknya kita koreksi diri. Siapa tahu banyak label negatif dalam dahi kita.


Senin, 12 Mei 2014

Sombong berbaju angkuh yang menyamar

Semenjak waktu seakan tidak lagi berkawan, ia terus memburu di setiap gelak tawa, yang bahkan air mata aku biarkan dibawa angin. Mungkin ada yang bilang Jonggrang terlalu sombong untuk menerima cinta Bandung bondowoso, tapi seterpesonanya ia pada lelaki itu, mana ada seorang diri mampu bersanding dengan musuh.

Sombong itu benar-benar samar. Bahkan pada seseorang yang lemah. Maka berhati-hatilah aku terhadap diri yang mulai mengagumi masa lalu yang sudah berlalu, mengagumi kepandaian yang perlu diusahakan dari pijakan yang teramat banyak dan membuat terengah-engah. Dari kata-kata yang melontarkan banyak bincang tentang keakuan, saya dan hamba.

Atau pada gelar manusia dan pengalaman yang menjadi catatan takdir, menceritakan pada pihak selain aku, seolah diri menjelma bijak. Entah, datang dari mana itu, mengenai kisah atau kata-kata puitis bagai orang-orang yang kaya akan pemikiran. Tapi justru, tersamar diri tidak mampu mengakui kelemahan dan masih sangat butuh rangkulan. Terutama rangkulan Tuhan.

Maka aku keluar dari keterpurukan diri, dari rasa sombong yang membuat Jongrang menjadi batu. Berkilah bahwa diri mampu membungkus pikiran dari sikap itu. Berkata dengan teramat samar, bahwa kesembongan atau merasa paling baik justru menyembunyikan diri dari cahaya nyata dan aku hanya mampu melihat cahaya imitasi.

Jika gading tidak ada yang retak, maka dari sekian perjalanan kebaikan, banyak sekali retak-retak diri yang sesungguhnya jauh dari mampu untuk dibilang hebat, tapi seakan ingin dibilang hebat. Lantas, nanti setelah hebat. Mau apa dan gimana?

Terbangun aku dari mimpi yang hanya menghantarkan imajinasi, menjadi hebatlah karena memang Tuhan yang menghebatkan. Bukan karena malunya kita mengakui ketidakcerdasan kita, tidak bijaknya diri dan berkatalah bahwa diri ini memang butuh perbaikan pada setiap detiknya.

Yang terpenting bukan dimana kamu berpijak, tapi bagaimana cara kamu berpijak. Masih tersematkah rasa sombong diantara kaki-kakimu yang lemah itu. Aku mengerti setiap saat mungkin kita menciptakan samar angkuh yang membuat silau. Tapi nyatanya kita lemah.






Selasa, 06 Mei 2014

Sayap Cinta Sahabat

     

     Kecendrungan seseorang untuk berada dalam lingkungan yang membuatnya nyaman. Ia akan berlama-lama disana, mengumbar cerita suka, duka, tertawa atau kecewa. Lingkungan itu bernama persahabatan. Dimana masing-masing individu yang dilahirkan unik, masing-masing melipir membentuk sebuah kelompok –bisa dua orang atau lebih- yang tanpa sengaja bisa saling mengerti nada-nada diantaranya, walau dengan bunyi yang berbeda.

       Selain keluarga, saya memiliki sebuah keindahan hidup lainnya yaitu sahabat. Sahabat adalah nama-nama yang kita simpan dalam ruang hati kita. Dia yang biasanya kita ingat jika diperlukan berbagi cerita. Entah duka atau suka. Nama seorang sahabat selalu berada di peringkat teratas pada setiap persentase pengiriman pesan singkat, whatsapp, atau blackberry messenger. Kabar mereka selalu kita rindukan. Jika pertemuan terjadi, tidak cukup waktu untuk berbagi cerita. Walaupun, cerita yang terlontar itu-itu saja.

Lemon tea persahabatan

     Secangkir persahabatan tidak selalu menyuguhkan sebuah minuman manis. Karena persahabatan dibentuk oleh kondisi yang bisa bermuara sebutan takdir. Saya bertemu dengannya, adalah sebuah takdir. Allah punya kehendak. Tapi jangan lupa kalau  manusia dilengkapi dengan sifat egois. Saya menyakini manusia mempunyai sifat itu. Hanya saja, satu dengan yang lainnya memiliki dominan yang berbeda dalam prilaku.Ada yang mengendalikannya dengan bijak atau mengumbarnya tanpa disadarinya sama sekali.

      Ikatan kuat persahabatan, selalu dilengkapi dengan rindu. Jika masih tidak ada rindu dalam sebuah hubungan persahabatan, berarti persahabatan itu harus dipertanyakan. Karena dalam hati seseorang bisa di buat banyak kamar untuk ditempati banyak nama sahabat. Itu mengapa Allah, menitipkan kebaikan mengasihi.

      Persahabatan itu adalah sebuah hubungan yang harus diperbaharui terus menerus kualitasnya. Sebuah kebersamaan manusia pasti ada asam manisnya. Laiknya, sendok dan piring suka berdenting. Hal yang perlu diingat dalam hubungan persahabatan, bahwa memperlakukan ia dengan empati penuh. Bersahabat bukan berarti menjadi tempat sampah gratis unek-unek apa pun. Tapi, sahabat adalah kondisi yang berimbang untuk saling membagi kisah. Tidak berat sebelah. Perlakukan ia sebagaimana inginnya kita diperlakukan. Siapkan telinga, siapkan nasihat, dan tidak melupakan dia saat memang ia harus tahu hal-hal yang terpenting dalam hidup kita. Menekan egoisme. Dengan adanya dia, kita sungguh berarti, karena dia dengan senang hati mengangkat kita menjadi sahabatnya. Walapun, tidak harus selalu dengan sebuah iklar persabatan.

Sahabat itu mengerti

       Saya menempatkan sahabat istimewa dalam hati saya. Berbagai karakter telah menjadi sahabat saya. Maka setiap perlakukan satu dengan yang lainnya berbeda. Saya tidak membeda-bedakan. Tapi secara naluri keadaan itu terjadi. Dan ternyata masing-masing tetap menjadi nyaman, bahkan sampai bilangan sepuluh tahun lebih.

        Menjadi warning buat kita, baik-baik sajakah persahabatan dengan umur yang jangka panjang lama itu? Tidak juga. Perumpaannya sama seperti menjaga gelas kramik. Ada yang menjaga gelas kramik dengan memajangnya, membersihkannya setiap hari dan menyimpannya. Ada pula yang hanya menyimpannya di dalam kerdus. Karena khawatir pecah jika di pajang atau ada pula yang terus menatapnya lekat, karena terpesona akan keindahan lukisan di atasnya.

      Begitulah, cara pandang seorang individu dalam menjaga persahabatannya itu. Sebaik-baiknya usaha manusia, pasti ditemukan celah. Memilki sahabat, membuat seakan dia adalah milik kita seutuhnya. Padahal, seorang sahabat pasti memiliki kehidupan pribadinya sendiri. Terkadang kita melupakan itu. Yang kita tahu, sahabat selalu ada untuk kita. Sehingga berevolusilah cinta persahabatan menjadi posesif.

      Saya memandang cinta posesif ini dari sudut berbeda. Bukan menekan. Tapi saya melihat bagian dari rasa sayang para sahabat saya dengan saya. Keadaan itu membuat saya takjub. Sangat. Ada halnya membuat saya tidak nyaman, namun sahabat itu memahami masalah kita pada saat dia sedang bijak. Atau memberi nasehat dalam keadaan tidak tertekan. Namun, jika keadaan posesifnya mereka membuat saya tidak nyaman yang teramat, tidak ada salahnya disampaikan. Toh, dia sudah ditasbihkan menjadi sahabat. Jangan menyimpannya menjadi menggunung, karena alasan tidak enak atau takut menyakiti.

      Persahabatan itu anugrah. Kita menjadi kita saat bersamanya. Itulah sahabat. Tetaplah menjadi sayapnya, yang dapat melambungkan asanya menjadi lebih tinggi. 

DS. 6 Mei 2014

Rabu, 23 April 2014

Perayaan Waktu

Sebuah perayaan, menurut saya adalah kegiatan kita ‘ngeh’ akan datangnya suatu moment. Sehingga dengan perayaan itu, moment itu menjadi hal yang tidak terlupakan. Dan patut dibuat memori keindahan untuk membingkainya dalam sejarah hidup.

                Dipenghujung 2013, sama seperti tahun penghujung tahun sebelumnya, perayaan akan meletup-letup dimana-mana. Tapi, karena kegiatan yang terus berlangsung setiap tahunnya itu menjadi tidak spesial lagi. Hal yang sama, manusia tumpah ruah dijalan-jalan, terompet berteriak dimana-mana walaupun pukul 00.00 belum datang. Dan yang membuat mengganggu adalah suara petasan. Karena saat itu, saya sedang meringkuk hangat dalam selimut, menjadi terbangun.

                Saya sedang tidak membuat tulisan protes sebuah perayaan penyambutan tahun baru. Tidak juga membahas mengenai sejarah tahun baru dan berkaitan dengan kayakinan apapun. Walaupun, saya secara pribadi tidak menyambut dengan khusus datangnya tahun baru. Saya hanya menikmati moment liburan, yang biasanya bersamaan dengan tahun baru. Bagi saya tahun baru, hanyalah soal bergesernya waktu. Semakin mendekatkan diri kita pada masa depan. Sebenarnya, moment bergeraknya kita pada masa depan terjadi setiap detik, setiap jam, setiap hari yang jika diakumulasikan menjadi satuan bernama tahun. Disaat itulah, manusia di bumi ini melakukan semacam ritual bernama perayaan. Keadaan setiap hari inilah yang terkadang tidak disadari bahwa hidup dimakan usia, sehingga sebenarnya kita baru ‘ngeh’ saat angka tahun berubah.

Saya dalam tahun yang tertinggal

                Usai tahun baru dirayakan, para manusia dengan bijak akan menyampaikan pengharapan atau sebuah doa. Namun, sayangnya perayaan tahun baru tidak banyak dilakukan dengan bijak pula. Walaupun saya tidak tergolong orang bijak, tidak ada salahnya juga kalau  saya pun ingin melempar pengharapan. Dan pengharapan saya, sama dengan pengharapan banyak orang. Tentu saja menjadi lebih baik. Saya punya rincian pengharapan, kalau ditulis disini nanti blog ini penuh dengan list keinginan saya. Jadi hal itu saya simpan saja dalam hati saya yang terdalam.

Namun secara garis besar, saya ingin bukan sekedar move on tapi move up. Meningkatkan kapasitas diri. Baik dari segi yang terlihat seperti material, maupun spiritual –baca dewasa. Dan tentu saja, sebagai seorang muslim, saya ingin menjadi terbaik dalam menjalankan kekhalifahan di dunia fana ini.

                Sejenak saya mencoba merinci, apa rencana saya di tahun depan. Justru, yang mekelebatan di benak saya adalah hal-hal yang telah terjadi ditahun yang sudah tertinggal itu. Ternyata banyak kebodohan-kebodohan kecil yang memang pantas di tertawakan, hingga kesalahan besar yang seharusnya disesali dengan tangisan.

                Keadaan tersebut pada saat ini, bergelayut berat di hati saya. Oleh sebab itu, saya menuliskan ini pada catatan kali ini. Karena menurut saya, menulis menjadi terapi bagi beratnya beban hati. Membuat hati saya lebih sehat, dan mengontrol tindakan saya selanjutnya. Tidak  hanya sebuah tingkah saya yang menjadi muhasabah diri, tapi ternyata sudah banyak sekali pelajaran keindahan yang Allah hadirkan disetiap detik hidup saya. Seharusnya saya mampu menangkapnya dengan sempurna, sehingga saya tahu mengapa saya dilahirkan. Sebenarnya, itu adalah point penting dalam hidup.
               
Catatan bintang dalam tahun yang tertinggal
               
                Saya hidup karena sebuah pemberian. Sejak kelahiran saya, setelah saya renungi hidup saya sejatinya adalah pemberian dan belas kasih. Orang tua, saudara, kerabat dan sahabat. Dan utama dalam kehidupan ini adalah pemberian Allah. Keadaan yang sangat pantas, jika saya juga melakukan sebuah tindakan yang sama terhadap lingkungan.

                Pada tahun lalu, banyak sekali pemandangan yang mengharu biru tertanam dalam jiwa saya, buku-buku yang saya baca, kisah hidup nyata yang terpampang jelas di hadapan saya. Semua berbicara tentang tiada kerugian dalam hal memberi. Apapun itu, bahkan dari sebuah doa yang tersamar untuk orang lain. Saya merasakan keadaan ini, menjadi magis yang terus bergelora dalam dada saya. Mengingatkan saya untuk berlaku hal yang sama. Sesungguhnya dengan memberi, kita justru menerima lebih.

                Dan sepertinya kita baru menyadari kalau waktu bergerak menjadi tua saat sebuah terompet dan petasan berlomba-lomba memekakan telinga, padahal setiap detik diri kita sesungguhnya meninggalkan masa lalu pada setiap detiknya. Seperti yang saya rasakan saat ini.


Senin, 27 Januari 2014

Cara Tuhan memberitahukan 'Siapa Kita'






Kita perlu bertemu beberapa kejadian, agar Tuhan memberitahukan siapa diri kita sesungguhnya.

                Kenapa saya bisa mendapatkan kata-kata seperti di atas, tanpa saya kutip dari manapun atau mendengar nasehat orang lain. Kata-kata itu tiba-tiba muncul, langsung dalam benak saya. Mengapa? Tidak muncul secara tiba-tiba laik magic, kita mampu memunculkan sesuatu dalam benak karena ada backgroud sebuah kejadian. Dan saya percaya saat itu Tuhan sedang menegur saya dengan kata-kata saya sendiri.

                Taruhlah, saat kau berazam sesuatu, misalnya “saya akan selalu tersenyum”, azam atau niat yang sederhana itu, ternyata diuji. Benar tidak kau bisa melakukannya. Bisa jadi, sebuah kejadian akan merebut senyummu itu. Padahal dengan semangat luar biasa, telah dicatatkan azam tersebut seperti prasasti. Tapi, itu dia. Selalu ada ujian yang dari hal yang kau tancapkan.

                Kehidupan ini kan sementara, tapi karena hidup kita yang sementara ini yang menjadi penentu kehidupan dimasa depan (baca : akhirat), bagi yang mempercayai hal tersebut, maka kebaikan akan menjadi modal kehidupan selanjutnya. Pernah terbesit  sekilas dalam lintasan pikiran saya, menjadi orang baik itu tidak mudah, buktinya saya tidak juga lulus menjadi orang baik sebenar-benarnya. Tapi, saat menjadi orang jahat itu juga tidak mudah, buktinya saya selalu merasa tersiksa dengan tingkah laku saya yang menurut saya menyakitkan orang lain. Pernyataan barusan, janganlah terlalu dipercaya, hal itu terjadi karena kualitas atau kapasitas diri saya yang kurang memadai untuk benar-benar menjadi orang baik. Saya harus mencari bekal dan modal lebih banyak, untuk pondasi azam yang saya niatkan.

                Jadi saat kita mempunyai tekad menjadi pemaaf, suatu saat diri kita akan dipertemukan dengan kejadian untuk menguji bagaimana seriusnya kita memberikan maaf itu, bukan hanya di kata tapi merasuk hingga jiwa. Juga saat kita berazam untuk menjadi pribadi yang ikhlas, sabar atau pemberi inspirasi.

                Setiap pemahaman kita, tentang kebaikan hanya akan sekedar menjadi teori sebelum kita mampu mempraktikannya. Dalam pengalaman saya, keadaan salah merasa terus terjadi di hati saya, dan sebelah hati saya yang lain berkata tentang nasihatnya. Tapi, emosi ini kadang terkalahkan. Saya larut dengan hal yang saya rasa benar. Sehingga, saya tetap berada dalam lubang hitam, membuat saya kalah dengan bendera putih. Saya tidak kuasa dengan perasaan yang terjadi, akibat sebuah kejadian yang saya alami. Saya menjadi objek penderita parah. Terzolimi. Padahal hal itu belum tentu benar terjadi. Karena, setiap kejadian ini terjadi karena Tuhan sedang menguji siapa sebenarnya kita.

                Maka butuh nila setitik untuk merusak susu sebelanga. Jangan terlalu prontal saat emosi menguasai kita. Saat itu, kita tidak pernah tahu tingkah laku kita benar bijak atau tidak.

Januari 2014.