Kamis, 28 November 2013

Bagaimana kalau (anak) kita tidak dapat membaca?

Oleh : Ani Sudaryanti

Saya menemukan buku di Gramedia kelapa gading, judulnya The man who forgot how to read,  peneribitnya PT. Elex Media Komputindo, cerita di buku tersebut adalah true strory dari seorang pengarang cerita detektif bernama Howard Engel yang tiba-tiba di suatu pagi tidak lagi mampu membaca aksara pada surat kabar di tangga masuk rumahnya. Hal tersebut terjadi karena dia mengalami stroke dan mengalami kondisi langka yang di sebut alexia sine agraphia.

Menjadi menarik buat saya, mengapa saya membeli buku tersebut, saya hanya membayangkan bagaimana rasanya kalau bagi kita tidak mampu lagi merangkai huruf atau tidak mampu mengenali huruf-huruf menjadi sebuah informasi. Yang terlihat justru tulisan yang mirip dengan tulisan kuno, yang tidak pernah kita kenal sama sekali. Buat saya, sangat menyedihkan. Apalagi, kalau membaca adalah sebuah kesenangan.

Bisa mambaca adalah penting

Bisa membaca itu penting, maksudnya membaca huruf-huruf yang dirangkai menjadi kalimat dan bisa menerjemahkan menjadi informasi yang bisa kita cerna. Bagi saya, dengan membaca saya mampu melihat dunia lebih luas dibandingkan tempat yang saya pijak, maka terima kasih tidak terhingga buat yang berjasa mengajari kita membaca.

Melihat masa lalu lagi, bagaimana saya belajar membaca. Saya mulai mengenal huruf pada saat saya sekolah dasar. Saat kelas satu, saya belum benar-benar bisa membaca, kelas 2 saya membaca baru dengan mengeja, jadi saat itu membaca  adalah ‘siksaan’ karena saya belum dapat manfaat membaca.  Bermasalah dengan membaca membuat saya tidak ‘lancar’ pula mengikuti pelajaran. Dan Alhamdulillah keadaan ini bukan terjadi pada saya saja, beberapa teman sekelas juga. Bukan artinya saya membela diri kalau saya adalah murid yang paling bodoh. Pada saat itu, membaca dan belajar membaca dimulai saat sekolah dasar. Dan kurikulum saat itu belum seberat tahun sekarang . Sahingga saya masih bisa enjoy dengan masa sekolah saya dahulu.

Kapan belajar membaca

Di tempat saya bekerja, di sebuah lembaga penyelenggara pendidikan sekolah dasar,  walaupun saya bukan guru, saya sering di sodori pertanyaan dari calon orang tua murid yang menanyakan apakah membaca adalah syarat untuk masuk sekolah dasar. Memang, dimana tempat saya bekerja, membaca, menulis dan berhitung (CALISTUNG), bukan menjadi syarat untuk masuk sekolah dasar kita. Hanya kematangan dan siap sekolah menjadi syaratnya. Biasanya, wajah calon orang tua tersebut terlihat lega, mungkin di karenakan anaknya yang masih TK itu belum bisa membaca lancar.

Informasi dari mereka juga, banyak sekolah yang menyaratkan tas Calistung menjadi dasar di terima di sebuah sekolah.  Walaupun saat ini, sudah ada larangan tes semacam itu bagi siswa masuk sekolah dasar. Maka berlomba-lombalah sekolah Taman Kanak-kanak untuk mencetak anak bisa membaca, dan mengabaikan faktor psikologis anak atau pembentukan karakter siap sekolah dasar. 

Sebaliknya, bagi guru menjadi dilema tersendiri,  jika seorang anak belum bisa membaca saat masuk sekolah dasar, adalah mengimbangi beban kurikulum yang menurut saya semakin berat. Sehingga bagi guru kelas satu, menjadi kendala sendiri dan perlu ekstra waktu dan taktik menangani kelemahan ini. Apalagi, mengajari bahasa inggris pada siswa yang baru beradaptasi dengan sekolah dasar, yang isinya bukan sekedar main seperti di sekolah taman kanak-kanak, ada target kurikulum.

Pada usia prasekolah, mempersiapkan anak dengan memberikan stimulus atau rangsangan motorik untuk kemampuan berbahasa adalah factor yang penting. Dengan berbahasa, sang anak akan mampu menyampaikan apa yang ia rasakan atau memahami kesepakatan dalam memulai belajar.
Di kota-kota besar, para orang tua yang memiliki kemampuan ekonomi lebih atau terlalu sibuk untuk memberikan perhatian , akan berusaha keras mengejar ketertinggalan, namun semua itu tergantung juga dengan kemampuan sang anak, yang menurut saya usia mereka masih usia bermain. 

Apalagi, melihat jauh dipelosok negeri ini, atau daerah terpencil, yang sekolah menjadi barang mahal. Baru bisa membaca pada kelas empat atau lima sekolah dasar, adalah hal yang lumrah. Mengingat sekolah adalah barang mahal dan minat untuk kesana juga tidak banyak. Sedangkan fasilitas dan guru berkualitas jarang ditemui di sana. Tapi kurikulum yang diterapkan seluruh nusantara adalah sama. 

Apakah yang salah dengan keadaan ini? Saya sendiri masih belum paham, selama ini saya masih menjadi sosok pengamat saja, karena saya bekerja lekat dengan dunia pendidikan. Hanya kadang-kadang mengendap saja dalam pikiran, makanya tulisan ini terbit.

Bagaimana membuat anak-anak tertarik belajar membaca

Sebagai orang dewasa, tentu mengerti bagaimana proses belajar. Hal yang utama dalam mudahnya kita belajar adalah daya tarik kita pada sebuah ilmu. Demikian pula dengan anak-anak, dengan membuat mereka tidak terpaksa untuk belajar membaca, membuat proses tersebut menjadi mudah. Mungkin hal ini dapat dicoba adalah menanamkan di benak mereka bahwa membaca sama asiknya dengan bermain. Atau seringlah bacakan dongeng dengan buku berada ditangan kita, yang ceritanya bersambung, sehingga timbul penasaran kalau dongeng tersebut kita bacakan terpenggal. Sehingga mereka tertarik untuk mencari tahu bagaimana cara membaca. 

Trik lainnya, kenalkan mereka dengan beragam buku. Kalau mereka menyukai komik, biarkan dulu. Karena dalam komik juga ada aksaranya. Awalnya saya sangat menyukai membaca karena dahulu ayah dan ibu saya suka membelikan majalah BOBO, yang menurut saya menarik dari segi warna dan cerita dongengnya. Soal anak nanti memiliki kecenderungan jenis bacaan, itu kita pikirkan nanti.

Harapan saya, semoga anak-anak Indonesia mampu untuk membaca. Tapi tidak juga, membuat belajar membaca menjadi monster yang menakutkan buat mereka. Dunia mereka tetap bermain, selami dunia mereka. Walaupun sebenarnya, dunia pendidikan sekarang sepertinya kurang ramah.

Positifnya,anggaplah keadaan seperti ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Saatnya punya taktik dan pilihan untuk tetap mengimbanginya, apalagi untuk anak-anak dengan transisi dari taman kanak-kanak menuju sekolah dasar. Menyenangkan bukan, kalau anak-anak diusia awal sekolah dasar sudah dapat membaca tapi tidak menjadikan membaca hal yang menakutkan. Dan wajah mereka semakin indah jika ceria.

DS, 15 November 2013
Terinspirasi dari bincang ringan dengan ibu Nunung Hartinah, A.P dan Ibu Dariah, S.pdi (Guru kelas 1 SDIT Ibnu Sina)