Senin, 03 Desember 2012

Lempar Senyum, Berbagi Tawa





Oleh. Ani Sudaryanti

Mengapa senyuman Monalisa begitu terkenal? Padahal hanya sebuah senyuman.  Senyuman misterius yang diabadikan oleh Leonardo Da vinci, senyuman yang menimbulkan rasa penasaran, konon banyak sekali penelitian mengenai sosok wanita di abad ke-16 Masehi itu. Bagaimana Monalisa tersebut, dan siapa sebenarnya wanita itu.

Bagaimana dengan senyuman Lady Diana, sebuah senyum yang disebut sideways,  yaitu cara tersenyum dengan kepala sedikit menunduk, mata menatap tajam namun diarahkan sedikit ke bawah. Konon saat orang lain melihat senyuman Lady Diana  akan merasa perasaan iba. Lain halnya dengan  Bill Clinton, dia juga menggunakan senyuman untuk menarik simpati, senyuman  khas Drop-Jaw. Dimana senyuman ini ditandai dengan rahang yang sedikit diturunkan untuk berpura-pura merasakan kebahagian. 

Untuk itu, sebenarnya senyum memiliiki banyak interprestasi pemaknaan. Selain bernilai positif, tersenyum juga memiliki penerkaan yang luas. Sebagai contoh –walaupun tidak ilmiah dan tidak berlaku untuk orang kebanyakan, ini menurut pemahaman orang jawa— senyuman bisa berarti sebuah teguran kesalahan. Misalnya, pada tingkatan sebuah hirarki, seorang pada posisi terrendah akan memaknai teguran dengan dimarahi, sedangkan tingkat menengah teguran dapat dimaknai dengan diajak bicara dan pada tingkat tertinggi, pimpinan hanya perlu tersenyum untuk melakukan terguran. Dimana saat senyuman tersebut ditujukan padanya, ajudan atau bawahannya akan mengerti kesalahannya. Teguran melalui senyuman tersebut hanya dapat dipahami oleh para pimpinan di tingkat lini atas.

Apapun pemaknaan sebuah senyuman, sesungguhnya hal yang terpenting dalam melempar senyuman, adalah sebuah senyuman yang tulus. Senyuman yang tulus melibatkan otot-otot yang mengelilingi mulut dan mata. Ketika tersenyum, biarkan pergerakan senyum tersebut sampai kemata. Senyuman tulus dapat menghadiahkan keadaan menyenangkan bagi orang-orang di sekitar kita. Seymour St. John, pernah berkata mengenai John F Kennedy yaitu ketika John. F Kennedy  melempar senyumannya, dia dapat memikat seekor burung jatuh dari pohon. Dan dengan senyuman pula, Nabi Muhammad SAW terkenal dengan prilaku terbaiknya. Pesona akhlaknya dapat menarik jutaan manusia untuk mengikuti ajarannya, bahkan bartahun-tahun setelah kematiannya.  

Ukir senyum dan tawa diwajahmu

Wajah adalah pancaran jiwa. Sebuah senyuman, selain berdampak bagi orang lain juga berdampak luar biasa bagi kesehatan jiwa.  Jika kita bertemu dengan orang yang berwajah berseri-seri dan penuh dengan senyuman, maka secara otomatis kita akan membalas senyuman tersebut. Dan jiwa akan merasakan senang akan keramahan orang itu.  Seperti yang dikatakan oleh Mark Twain, tidak seorangpun dapat menahan serangan tawa. Senyuman dan tertawa ternyata dapat menular.

                Dalam buku The Magic of Charm yang di tulis oleh Brian Tracy & Ron Arden, ada lima cara untuk memesona dan salah satunya adalah penerimaan. Cara untuk mengungkapkan penerimaan yang utuh adalah dengan sangat sederhana, yaitu tersenyum. Tersenyum dan tertawa adalah indikator yang jelas tentang seberapa besar kita menikmati kebersamaan dengan seseorang.

                Dalam hadistnya, Rasullah saw berkata “Senyumanmu untuk saudara muslimmu adalah sedekah “(HR. Tirmidzi).  Senyuman adalah komunikasi ringan yang harus berdasar dari hati. Senyum dapat mendatangkan cinta kasih, senyuman juga dapat menenangkan jiwa.  Seperi hadist lainnya, rosullulloh saw besabda, “ Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang bermuka masam di depan saudara-saudaranya.” (HR. Ad. Dailamy).

                Bagaimana kalau kita berada dalam lingkungan yang orang-orang didalamnya selalu berwajah masam, apakah kita akan betah berada di dalamnya? Sepertinya keadaan tersebut pastinya akan membuat kita tersisksa dan stress. Masalah yang kita hadapipun seakan bertambah bobotnya. Sedangkan jika kita hadapi sebuah permasalahan dengan wajah tersenyum dan di bumbui aroma humor, mungkin permasalahan tersebut terasa lebih mudah untuk dihadapi dan terasa ringan, walaupun tidak serta merta selesai. Sebuah pepatah mengatakan, senyum adalah cara untuk menyelesaikan masalah, dan diam adalah cara untuk menghindari masalah. 

Jika kita melihat orang lain tersenyum, padahal mungkin orang tersebut sedang dalam keadaan tidak baik. Sesungguhnya, orang tersebut sedang dalam usaha menanamkan kesabaran dalam sanubarinya. Berusaha menatap permasalahan dengan berpikir positif. Karena, sepertinya tidak mudah melakukan hal tersebut. Tersenyum atau tidak tersenyum pemasalahan akan tetap bergulir. Jika kita terus merasa  terjebak dengan  perasaan tidak beruntung. Yakinlah, kehidupan akan seperti  berada dalam ketidaknyamanan. Otomatis, rasa bersyukur kita semakin terkikis. Sedangkan  dengan kita bersyukur, Tuhan tidak akan segan-segan untuk menambah kenikmatan-kenikmatannya untuk terus mengalir  ke hidup kita. Selain itu, dengan tertawa dan tersenyum, kesehatan  secara psikis dan fisik akan tetap terjaga.

Dalam kesehatan fisik, tersenyum memiliki manfaat cukup banyak. Senyuman yang tulus dapat  mengurangi resiko serangan jantung. Mengapa? Misalnya,  Saat kita sedang dalam keadaan stres, menyebabkan endothelium rusak sehingga kolestrol dalam darah meningkat. Dengan tersenyum, ketegangan jantung akan berkurang. Tubuh menjadi rileks.  

Sedangkan saat kita sedang bahagia atau tertawa, dalam tubuh kita akan meproduksi hormon endorphine, dimana senyawa kimia dalam tubuh yang bertindak sebagai morphine, yaitu sebuah hormon untuk penghilang rasa sakit. Dalam suatu penelitian disebutkan bahkan tertawa mampu meningkatkan sistim kekebalan tubuh hingga 40 persen.  Itulah dampak luar biasa sebuah senyuman.

Sketsa senyum di kanvas hidupmu

                Untuk bahagia kita tidak harus memiliki semua kesenangan hidup atau kelapangan urusan, berusaha tersenyum akan menetralkan kemuraman. Pasti ada efek positif dalam tersenyum, bukan senyum yang berasal dari halusinasi dan tiba-tiba tersenyum begitu saja. Seperti yang dilakukan oleh orang yang berada dalam gangguan jiwa –baca orang gila.  Senyum sehat –bagi orang normal—sangat penting, bahkan pangeran Charles pernah berkata “ Rasa humorlah yang membuat saya tetap waras. Saya mungkin sudah lama dimasukan ke rumah sakit jiwa kalau saya tidak mampu melihat sisi lucu dalam hidup ini”. Jadi masih tetap mau waras kan? 

Tersenyum sendiri mampu untuk menciptakan pesona. Wajah tanpa senyum dan selalu muram, membuat banyak sekali terkaan orang lain terhadapnya, mungkin dia selalu dipenuhi masalah.  Sehingga secara tidak langsung prasangka negatif akan mudah tercetus dari yang melihatnya.   Menurut Paul Ekman, salah satu alasan kita tertarik pada wajah yang tersenyum adalah karena ia benar-benar dapat mempengaruhi sistim otonom kita. Kita akan mudah tersenyum ketika melihat wajah orang yang tersenyum  dan ini melepaskan endorphine ke dalam sistem kita. Maka jika kita dikelilingi oleh orang yang tidak bahagia maka kita akan cenderung menjadi murung. 

Menurut Dr. Lucille Namehow, seorang pakar penuaan dari Amerika Serikat, mengemukakan bahwa senyuman dapat mengendurkan urat syaraf yang tegang pada syaraf. Sehingga dapat mengurangi kerutan pada wajah. Untuk tersenyum kita hanya membutuhkan 17 otot saja, sedangkan saat marah kita membutuhkan 30 otot. Sehingga dengan banyak tersenyum kita mempu meningkatkan pesona keramahan dan kerendahan hati. Juga menceminkan akhlak terbaik seperti yang di contohkan Nabi Muhammad Saw.

Apapun nama senyuman itu.

Jika banyak  istilah mengenai  senyuman, seperti senyuman sinis, senyuman palsu, atau senyuman tulus. Apapun senyuman itu, semua tergantung niat pemiliknya. Namun, jika senyuman itu tulus, tentu saja akan meninggalkan jejak manfaat .  Tersenyumlah dengan menarik bibir 2 cm kekanan dan kekiri lantas menahannya selama 7 detik. Senyuman yang tidak tiba-tiba ‘mati’.  Atau tersenyumlah dengan tanpa aturan apapun.
Saat menjalani sebuah sekenario kehidupan yang memang harus kita hadapi, sebenarnya ada dua jalan yang harus kita pilih. Belari mencari tempat sembunyi atau tetap berada di sana dan menghadapi. Karena berlari atau tidak, hal tersebut akan tetap terjadi. Saat menghadapi hal yang tidak mudah, ada sebuah istilah hadapilah dengan senyuman. Bisakah?  Yang terpenting adalah tetaplah tersenyum, biar bisa bernilai bersedekah. Karena sebenarnya setiap kebaikan tidak ada balasan kecuali kebaikan juga.

 Selama bintang masih indah, matahari pagi masih hangat dan karunia Tuhan bergitu besar. Tetaplah tersenyum. 

DS, 2 Desember 2012