Rabu, 24 Oktober 2012

Rona Merah Ping



 Oleh : Ani Sudaryanti


Lekaki berwajah kertas itu tiba tiga puluh menit sebelum Ping datang. Langit berwarna abu-abu. Hanya kilatan-kilatan cahaya merias wajah pucat langit. Lambat laun hujan menitahkan manusia untuk sejenak berdiam. Memberi tahu bahwa mereka punya cara untuk bicara.

 Dua cangkir masih mengepul saat hujan riuh bercanda di luar sana . Menyisakkan embun di kaca café. Cuma mawar taman yang menggangguk tertepa angin.  Mereka duduk tepat bersampingan dengan jendela tapi tidak juga mempu menyerap bau basah tanah yang hampir langka diantara gedung-gedung yang kokoh.

 “Tampaknya hujan akan bertahan lama” Ping menegakkan kepalanya. Membelai lembut rambut hitamnya sembari melepas pandangan jauh menembus jendela café. Pikirannya mengembara merentas jauh entah kemana. Lelaki di depannya lebih suka mengomentari cuaca hari ini. Sebenarnya mendung di hadapannya sudah hampir luruh.

 Hilir udik pelayan mebuat ricuh lantai. Sautan sepatu mereka menciptakan nada gembira bagi pemilik café. Ini tandanya pengunjung memutuskan untuk menunggu hujan sambil menikmati kopi. Alunan kenny G membelah kebekuan, tapi tidak pada hati Ping.

             Lelaki bernama Pras menatap Ping dalam. Dia ingin menjebak mata Ping untuk terpenjara di matanya. Tapi sia-sia, Ping masih mengembarakan pandangannnya keluar.
          “Kita harus bertemu Pras!”
          “Tapi Ping…aku..”
          “Sibuk?” Tidak ada lagi kata untuk mengemukakan alasan. Pras dengan usahanya mencoba menghadiri undangan Ping. Dan kala mereka bertemu Ping seperti boneka di dalam etalase. Diam.
***

Pras, lelaki berwajah kertas. Tidak juga menyuruhnya menetap pada hatinya. tidak juga meminta ping untuk menjadi pendampingnya. Tapi, yang membuat Ping geram adalah Pras tidak juga melepasnya pergi. setidaknya Ping bisa membaca dari segenap perhatiannya pada Ping. Mulai berpikir, mungkin itu hanya dugaannya saja.

Pras tidak pernah mengatakan sebuah kata pada kepastian masa depan mereka. Apalagi sebuah kata cinta. Ah tidak pernah atau memang belum. Dipertemuan ke sekian kalinya ini, Ping ingin menyampaikan kepada Pras. Menumpahkan penasaraannya selama ini. Menelornya bagai muntahan peluru tanpa tuan yang tidak mengenal musuhnya.

Pras, apakah aku ada dalam rencana masa depanmu?

apakah benar-benar kau menaruh harapan pada pundakku atau pernahkah kau memintaku untuk mengangguk  yang membuatmu munyunggingkan senyuman senang.

Pras, mengapa kau begitu lambat bahkan sangat lambat…

Ping masih menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu. Dia hanya memberikan dirinya sedikit waktu, mungkin sampai hujan di luar sana reda. Ping kembali menatap wajah Pras, lukisan senyum tipis terpampang di depannya. Ping membalas, lalu membuang wajahnya pada cangkirnya. Segelas capucino, ada pahit yang menari diantara manisnya gula dan coklat. Seperti itukah hubungannya dengan pras.
          “Kau sakit Ping?” Tanya pras mulai menangkap gelagat cemas dari mata Ping. Ping menarik nafasnya panjang. Menyilangkan kakinya dan kembali memaksakan senyum. Ini kah waktunya untuk bebicara? harus saatnya atau dia harus melepas senyum khas Pras selama-lamanya.
          Menyesalkah nantinya dia?
          “Pras…?’
          “Ya…?”
Wajah Pras  bagai anak kecil yang merindukan maianan. Polos. Sebenarnya wajah itu lah yang membuatnya semakin membeci situasi tersebut. Wajah Pras layaknya kertas rapuh yang mudah terbakar, apalagi oleh tatapan mata ping. Pras tahu benar kalau wanita di depannya itu sedang dalam keadaan tidak baik. Perasaannya mengatakan hal itu. Sejak dua hari lalu Ping memaksanya untuk bertemu. Namun, hingga detik ini tidak ada kata yang berarti selain dia dan Ping menikmati hujan yang mulai bertingkah di luar sana .

                “Ibu tahu kalau Pria yang benama Pras itu calon hatimu, Ping . Tapi ibu tidak pernah mendengar dia memintamu atau paling tidak menjanjikan sesuatu tentang pernikahan kepada ibu.” Wajah ping mengeras. Ibunya benar. Pras bahkan tidak pernah mengatakan itu padanya apalagi pada ibunya.

“Jika ada yang lebih baik dan sudah mengutarakan niatnya untuk menikahimu, kenapa harus Pras yang tidak juga bersuara” Ibu menambahinya. Ping masih diam. Dia tidak mau menyalahkan ibunya. Karena tidak ada nada ketidaksukaan ibunya terhadap pria yang bekerja di sebuah perusahaan periklanan itu. lantas, haruskah dia menyalahkan Pras atas sikapnya itu.

Tidak! seharunya Ping menyalahkan dirinya sendiri. Membiarkan dirinya dimainkan ombak di tengah lautan hati Pras. Sudah dua pekan ini Ping disinggahi kebimbangan. Dimas. Seorang yang di bawa ibunya untuk lebih mengenal Ping . Tentu saja dengan misi menjodohkan mereka. Dan tanpa persutujuan Ping, Dimas telah membawa keluarganya menemui Ping . Lalu tanpa basa-basi dan seenaknya mereka mulai merancang sebuah pesta.

Tidak ada yang salah dengan Dimas. Dia pria baik, lembut juga pendiam. Hampir sama dengan Pras. Mungkin hanya makhluk-makhluk pendiamlah yang mampu memnyemai cinta di hati Ping . Berbeda dengan Pras, dia lebih bisa mengokokohkan pendiriannya pada sebuah kepastian. Memang seharusnya begitu. Lelaki harus yang pertama mengatakannya. Menariknya pada persembunyian dan mengatakan pada dunia bahwa dia akan menjadi miliknya. Tapi, jika harus wanita lebih dulu. Bagaimana kah?

“ Ping , kau membuatku menunggu?” Pras meremas tisunya. Sejak tadi hingga hujan hampir reda, Ping hanya menggantung pertanyaannya. Jika Pras mengatakan kepastiannya saat ini, mungkin Ping akan mudahnya melupakan Dimas. Bahkan dia tidak perduli dengan hubungan antara dia dan keluarga Dimas. Tapi…

“Kau menyesal menemuiku, Pras?” Seperti tertohok. Nada suara Ping memang mulai meninggi. atau lebih tepatnya suara yang bercampur emosi gemas. Kini saatnya Pras yang membuang pandangannya keluar jendela. Kecewa. 
Lagi-lagi dia  menyesal. Jika melihat wajahnya bak kertas pucat. Pras memang tidak tahu benar apa yang becokol di pikiran gadis itu. Seharusnya dia tidak seketus itu.

“Maafkan aku, Pras…”
“Tak mengapa…hanya saja…” Handpone Ping ribut. Bukan waktunya yang tepat jika meladeni dering itu.

“Jawab dulu” Pras sepertinya perduli dengan denting ponsel Ping . Ping menatap layar ponselnya. Masih membiarkan itu bernyanyi.

Katakan sesuatu, pras, kau lihat ibuku mulai mencari putrinya. Dia minta aku bersikap. tapi kau tidak juga bersikap. Aku harus bagaimana Pras?

 Apa susahnya berkata. Minta sikap detik ini, mengoceh sejadinya lantas menunggu Pras menyingkapinya. Nyatanya, Cuma kejengkelan yang memenuhi hati Ping .

                      **                     
          Wajahnya sudah merona. Rambutnya yang hitam jatuh mengenai lehernya. Seuntas senyum berhias mematung di depan cermin. Tidak ada lagi wajah kertas, yang hanya bisa di caci dalam diam.

          Ping hanya butuh sebuah kisah. Bukan. Bukan hanya itu. Seorang wanita hanya butuh ending dari kisahnya. Yang di butuhkan wajah kertas itu adalah penunggu berita sebagai pelengkap cerita. Yang mampu mewarnai hidup dari kisah yang absurd. Dan dia bukan sebuah koleksi yang di tunggui collector macam Pras. Sama sekali bukan.
***

          Menjanjikan dia sebuah cinta, seperti memancahkan tiang rapuh. Hanya belaian angin saja merobahkannya.

          Pras menatap bungkusan itu. Sebuah cincin yang tidak sempat di berikannya pada perempuan terakhir yang pernah dimilikinya. Tepat saat hujan kemarin, di sebuah café. Mereka berdua sepakat saling meninggalkan. sebuah ikatan yang abstrak, yang hanya bisa di ratapi mereka.


DS, 25 Juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar