Kamis, 26 Januari 2012

Fana Sejati Hati

Adakah keabadian rasa. Saat semua di kefanahan ini akan musnah. Maka, seindah-indahnya merekah di hati mengurai rasa, aku pun sadar bahwa tidak pernah ada makna cinta yang akan selamanya hinggap tanpa goyah.

Jadi adakah kesejatian rasa? Saat ini dan masa depan tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, termasuk sebuah perubahan. Sejatinya, perubahan adalah hal pasti dalam bergeraknya waktu. Namun, siapkan dengan perubahan yang begitu dratis pada tahap pemberian dan menunggu untuk menerima.

Wajar, kalaupun saat ini ada yang menyemai rasa bak raja pada kepercayaan. Aku menjadi ragu, bertahankan hingga nanti. Sebab ku tahu, perasaan dapat berubah. Begitupula dengan cinta, benci juga kekaguman. Semua ada umurnya.

Namun…
Katanya , keajaiban selalu ada, kalau ada ungkapan ‘kesejatian’ walaupun di debat berbagai cara, aku rasa pasti hal itu nyata. Tapi, entah menghampiri atau tidak. Dan kuharap “YA”.

Seperti itulah aku mencoba menghampirinya, menantikan surga. Tidak sementara walaupun kita berada dalam kefanahan.

DS, 26 January 2012
Kicau aneh saat pagi 

Senin, 23 Januari 2012

Hikmah

Hikmah. Itu yang saya tunggu dari apa yang telah terjadi pada saya. wajibnya, setiap insan di bumi ini pasti punya masalah. Itulah yang membuat cerita hidup menarik. Saat ini, saya coba berdiri diantara kerumitan sebuah jalan cerita.

Saya di penuhi tanya. Yang dari beberapa tanya itu hanya Allah yang tahu. Tuhan saya. Saya memang harus banyak berevalusasi diri, dari kemudahan hidup yang melumuri saya, mungkin tidak masalah untuk saya tersandung. Dari sebuah kelalaian saya sendiri. Sungguh, saya memang telah berusaha untuk tidak lalai. Tapi, inikah cara Tuhan untuk saya menyadari sebuah hakikat hidup. Saat saya tersandung kali ini, sakitnya belum seberapa dengan orang lain yang lebih malang. Seharusnya saya tetap menyemai syukur.

Saya kan tidak pernah tahu, apakah dari cara saya berpikir terbersit sombong, dari cara saya bicara terlintas riya, dari cara saya beribadah terselip pamrih duniawi dan saya benar-benar tidak pernah tahu. Inilah cara Tuhan menegur saya, agar saya lari padaNya merasakan pelukanNya. Hangat. Saya butuh itu.
Saat ini pun saya tahu, Allah tidak meninggalkan saya. Dia mengajari saya cara ‘membaca’ kesalahan saya. Dan dia menanamkan tenang hingga saat ini. Hikmah. Itu kah? Saya memang banyak bertanya padaNYA.

Bagaimanapun juga hanya Allah yang tahu mengenai diri saya. Atau nanti Allah tunjukan siapa saya sebenarnya. Sehingga saya mampu mengusahakan sebuah perbaikan dan menikmati buah hikmah sambil mengaguk-nganguk mengerti betapa kerdilnya saya. Betapa saya harus lebih menghargai kebaikan orang-orang di sekeliling saya dan menjaga kepercayaan, dan saya mengurangi lalai saya. Semoga.

DS, 23 Jan. 12

Minggu, 22 Januari 2012

Rumah Ramli Terbakar

Oleh : Ani Sudaryanti

Maskipun dengan satu warna, masih terlihat sebuah gambar rumah, jendelanya besar-besar, pintunya berukir, berlantai dua, garis-garis di setiap sudutnya tegas. Tidak terlalu bagus, masih bisa dibilang pantas untuk sebuah karya anak berumur 6 tahun. Namun, sesekali bu guru Sasti menatap serius hasil karya muridnya itu. Semua berwarna merah, hanya garis-garis tegas yang membuat karya tersebut bergambar rumah. Karya Ramli, muridnya yang memang pendiam dan tidak terlalu banyak berulah. Anak yang manis juga cerdas. Matanya menawan.

Ramli tidak buta warna, ia selalu mampu mengerjakan tugas mewarnai dengan baik. Bahkan, karya Ramli selalu menepati mading kelas. Yang membuat heran bu guru Sasti adalah jika Ramli di tugaskan menggambar rumah, maka hasilnya selalu di luar perkiraan. Kali ini Ramli mewarnainya penuh warna merah. Pernah juga karya Ramli tentang rumah yang semuanya berwarna hitam. Mengundang tanya, menimbulkan heran.

“Ini gambar rumah Ramli?” tanya bu guru Sasti. Anak bermata cemerlang itu mengangguk.

“Kok warnanya seperti ini sayang?”

“ semuanya warnanya merah, pintunya, jendelanya, mobilnya, kacanya, kamarnya, pokoknya merah” Jawabnya.

“bu guru kan tahu, rumah Ramli tidak seperti ini. Kenapa sayang?” bu guru Sasti menyamakan tinggi tubuhnya dengan Ramli. Mata mereka bertemu.

“Karena..karena...karena...”mata Ramli berpendar, selalu ada pesona di dalamnya. Sebuah cubitan kecil menyusup ke hati bu guru Sasti. Dia tidak sanggup hanya memandang dan menikmati mata kecil yang membulat itu. Sendu. Ditariknya tubuh Ramli kedalam pelukannya, meninggalkan heran lelaki kecil itu. Mengapa ibu gurunya begitu haru. Padahal, ia hanya bilang rumahnya akan berwarna merah saat papi dan maminya bertengkar, membanting pintu, berteriak, dan di mata Ramli yang mempesona itu, rumahnya akan berubah warna, menjadi merah lantas hitam seperti terbakar. Seperti terbakar. Katanya lagi.

“Sungguh bu guru, Ramli tidak bohong...!”
DS, 22 Jan. 12

Sabtu, 21 Januari 2012

Sambal Sum

Oleh : Ani Sudaryanti

Geger. Dari beberapa cara Sum mencari rejeki, membuat warung makan di ujung jalan perkampungan ini rupanya mejadi masalah rumit. Masalahnya seperti setitik, tapi dampaknya meluas hingga penjuru kampung. Apa yang salah? Sum hanya membuka warung makan yang sederhana, bahkan sangat sederhana, berupa meja dan beberapa bangku. Tidak berbeda dengan warung-warung lainnya. Tapi mengapa begitu membuat geger orang sekampung. Sum sendiri sebenarnya tidak habis pikir.

Menunya pun juga sederhana, menu yang biasa tersaji di rumah-rumah. Pecel lele, pecel ayam dengan lalapan, tempe goreng, tahu goreng, sedangkan nasinya hanya dua macam nasi putih dan nasi uduk. Simpel. Di warung lain juga ada. Nah, menurut kabar yang tersiar ke penjuru kampung, bahwa sambel Sum lah yang membuatnya istimewa.

“Bikinnya sambil megal-megol kali” bu parni sinis menanggapi. Saat pak Joko mengomentari sambal Sum. Ucapannya terlontar sambil melempar pemukul kasur seenaknya. Kesal. Lebih tepatnya cemburu pada Sum. Wanita yang telah menjanda. Umur Sum belum genap 30, tapi nasibnya sebagai istri sudah berakhir dua tahun yang lalu, tanpa anak. Suami Sum tewas saat mancing di sungai, dia terbawa air waktu banjir melanda. Saat itu semua orang kampung sangat iba melihat nasib Sum. Dia sangat goyah. Semua simpati. Dari ibu-ibu, bapak-bapak, hingga anak-anak. Sum tampak sangat terpuruk. Tapi itu hanya beberapa bulan. Saat Sum sadar bahwa hidup harus berlanjut, perutnya butuh makan dan kontrakkan harus tetap di bayar. Sum bangkit. Dia mau kerja apa saja. Buruh cuci, menjadi pembantu paruh waktu dan yang terakhir Sum buka warung makan di ujung jalan. Dan tampaknya Sum cocok untuk berjualan makanan.

“Loh, pak, apa bedanya dengan sambal ibu” kali ini dirumah pak RW, lagi-lagi mengenai sambal Sum itu. “Pokoknya beda, rasanya tuh, gimana ya bu, maknyoss!” pak RW sulit menggambarkan rasa sambal Sum, semakin menyulut api pada rumput kering.

Soal sambel Sum ini, tiba-tiba menjadi primadona gosip, lebih habat pedesnya dibanding tertangkapnya buronan KPK, lebih seru dibandingkan goyang ratu dangdut yang lagi kena cakal, lebih panas dibandingkan gosip perceraian artis di teve-teve, dan mengalahkan ribut-ribut di persidangan DPR. Kadang mencekam, mengemaskan dan buat penasaran.

Kalau ditanya rahasia keajiban sambal Sum, semua tidak mampu mengungkap. Semuanya sama, cabe, bawang, garam, tomat dan semuanya diulek pakai cobek yang terbuat dari batu kali. Ibu-ibu sekampung pun bisa buat sambal macam sambal Sum. Tapi, komentar para penikmat warung nasi Sum sangat lah membahana. Mungkin, kalau para pemburu kuliner kenal sambal Sum, semua akan menyerbunya. Sayang memang, berita mengenai enaknya sambal Sum baru sampai seantero kampung saja. Itu juga karena Sum baru buka warungnya sebulan kurang tiga hari.

**
Maka dilaksanakanlah investigasi kecil-kecilan mengenai sambal Sum. Ibu-ibu yang merasa bahwa kelezatan sambal Sum telah membuat keresahan tersendiri buat mereka. Memang mereka juga mengakui sambal Sum memang enak. Karena itulah, mereka tidak mau reputasi pembuat sambal di rumah di ambil oleh Sum. Para lelaki tiba-tiba tidak kerasan untuk makan di rumah. Kalau tidak makan siang, mesti makan malam –Sum buka warung dari siang hingga malam--. Hal ini teramat meresahkan. Para ibu menggaris bawahi kata me-re-sah-kan, bahkan mungkin bisa mencapai taraf menghawatirkan.

“Pake penglaris kali, biar warungnya laku, pake jampi-jampi”

“Wah, pasti cobeknya itu yang membawa berkah” ada yang tahu kalau cobek Sum adalah warisan neneknya. Cobek yang awet. Cobek yang terbuat dari batu kali asli, kalau dilihat beratnya kira-kira dua bayi berumur 9 bulan. Makanya, Sum tak pernah membawa cobeknya pulang dari warungnya. Cobeknya nangkring di warungnya itu.

“Yang jelas bukan karena sambel Sum yang enak, tapi muka Sum itulah penyedapnya” ini pendapat lain. Para hadirin manggut-manggut mengiyakan. Sum memang lencir, kulitnya putih, wajahnya bersih, punya lesung pipit, tidak kurus dan tidak gemuk. Pakai daster saja, Sum sudah terlihat cantik. Lah, tapi apa hubungannya antara cantik dengan enaknya sambal. Salah satu ibu mencoba membuat logika. Yang lain menggut-manggut lagi.

**
Setelah musyawarah yang tanpa di hadiri bapak-bapak ini, dapat diambil mufakat. Satu suara. Tindakan persuasif. Seperti serangan subuh di musim kampaye, agar mendulang suara. Salah satu perwakilan dari ibu-ibu ingin bertanya langsung atau melakukan study langsung bagaimana cara Sum meracik sambalnya.

“Kalau Sum tidak mau?”

“Kita labrak saja dia, jelas-jelas kalau warungnya tuh Cuma buat kedok menggaet lelaki kampung sini” sulut api cemburu. Terbakar dimana-mana. Di wajah-wajah yang tampak merah.

Tanpa perlawanan Sum pun bersedia mengajari para ibu-ibu untuk membuat sambal. Sebenarnya, telinga Sum sudah pekak dengan sindiran tajam yang tersiar dipenjuru kampung. Beginilah nasib seorang janda pikirnya, mau cari makan saja di tindas. Ditindas mata-mata cemburu, ditindas rasa benci, ditindas kecurigaan belum lagi di tindas dengan harga cabe yang melambung. Tapi Sum harus tangguh. Tidak ada masalah besar, walaupun nantinya dia memberi tahu rahasia membuat sambal, warung nya pasti akan tetap laris. Niatnya benar-benar tulus.

**
Dirumah-rumah di perkampungan ini, semuanya membuat sambal. Senin, selasa hingga kembali senin semuanya membuat sambal. Ibu-ibu terus membuat sambal. Tidak perduli harga cabe mencapai langit. Caranya sama, bahan-bahannya sama, persis seperti yang Sum ajarkan. Bahkan takaran dan jumlah cabe dan bawangnya sama pun sama. Semua dilakukan demi mempertahankan keutuhan rumah tangga. Membuat sambal menjadi keharusan buat mereka. Sambal mereka harus naik pamor seperti sambal Sum.

Justru yang terjadi di warung Sum bertambah ramai. Belum waktunya buka, para tukang ojek sudah mengantri, setelah itu para kuli bangunan, malamnya para bapak-bapak yang kerja kantoran, yang baru bisa berkunjung ke warung Sum saat malam. Semakin laris, sambal Sum semakin terkenal. Bahkan Sum sampai harus meperkerjakan adiknya dari kampung. Hanya pekerjaan membuat sambal saja yang tidak ditangani adik Sum. Sepenuhnya sambal dibuat oleh Sum tidak boleh yang lain.

Ibu-ibu semakin kesal. Usaha mereka tidak membuat para suami betah makan di rumah. Semua memilih sambal Sum. Tapi mereka tidak menyerah membuat sambal terus di lakukan, setiap hari. Sebagai perlawanan terhadap sambal Sum. Tapi geger semakin menjadi. Sambal mereka semakin hari semakin pedas, walaupun sudah dikurangi jumlah cabenya, sambal mereka semakin pedas tingkatannya. Akhirnya mereka menyerah. Bagaimanapun juga memang sambal Sum juara. Maknyoss! Kata pak Rw.

Sebenarnya bukan Sum salah mengajari membuat sambal. Satu hal yang Sum lupa ajarkan untuk para ibu di perkampungan ini. Sum selalu tersenyum saat membuat sambal, mengulek sambel penuh penghayatan walaupun kenyataannya Sum sangat lelah. Satu hal itu lah yang tidak dilakukan saat ibu-ibu membuat sambal. Mereka membuat sambal sambil melempar marah, menyekam cemburu dan menyimpan prasangka. Sambal mereka akan semakin merah, semakin pedas dan pada tingkatan akhirnya sambal mereka menjadi hambar. Lain dengan sambal Sum.

DS, 02 Jan. 12
22.26 WIB