Minggu, 11 Desember 2011

SUDUT PANDANG

Oleh : Ani Sudaryanti

Kita bisa berada di situasi dan ruangan yang sama, tapi pada saat yang bersamaan pula penilaian personal di dalamnya melahirkan cerita yang beragam. Saat mati listrik misalnya, orang akan mengalami berbagai kondisi, apalagi mati listriknya tepat tengah malam. Ada yang merutuki, ada yang tetap terlelap tak perduli atau mencari lilin untuk setitik cahaya. Pernah dengar hal ini? Dari pada mengutuk gelap lebih baik berusaha menyalahkan lilin walau hanya satu.

Kawan saya pernah datang dengan kecewa pada hal yang terjadi padanya, dia bercerita dengan terengah-engah menahan amarah dalam dadanya. Saya mendengarkan dan tidak menyela sedikitpun, karena saya tahu tidak ada yang bisa dinasehati jika sedang marah. Yang menjadi menarik bagi saya bahwa saya pun pernah diperlakukan seperti itu, dan saya menanggapinya dengan biasa saja. Atau mungkin saya dalam keadaan mood bagus sedangkan dia tidak. Namun, pelajaran yang saya dapat mengenai hal itu, adalah sudut pandang kami berbeda padahal kasus yang kita alami sama.

Atau juga kondisi yang berbalik, saya bisa kecewa berat dengan masalah sepele, dan orang lain bisa bilang “Cuma gitu doang!”
Dan semua orang memiliki sudut, tempat dimana dia harus memulai menilai. Itulah fungsi mengapa kita diharuskan menghormati pendapat orang lain.

Cara Pandang

Saya baru saja menyelesaikan membaca sebuah buku catatan yang ditulis oleh Dr. Dino Patti DJalal, buku yang saya pinjam dari kawan baik saya, memang saya tidak begitu menyukai intrik politik, tapi terlepas itu buku yang di tulis beliau menyangkut politik atau tidak, setidaknya buku beliau memberikan saya gambaran mengenai keadaan istana yang selama ini hanya menjadi cerita dongeng bagi saya. Saya menggunakan sudut pandang pak Dino untuk menilai tentang pemimpin dunia selain SBY yang menjadi peran utama di dalamnya, seperti Mahathir Muhammad yang memilih menjadi Mahathir kecil dibandingkan di samakan dengan big Soekarno, mantan perdana menteri Junichiro Koizumi yang merupakan pemimpin yang tangguh, Tony Blair yang menurut pak Dino pandai mengambil hati dan lainnya yang membuat saya menilai pemimpin tersebut berdasarkan catatan yang pak Dino buat. Menggunakan sudut pandang beliau.

Sebenarnya, memahami sudut pandang orang lain mengenai sesuatu hal itu membuat kita akan kaya rasa, jika kita melakukan sebuah keputusan besar, mencoba menyelami sudut pandang seseorang –walaupun tidak sepenuhnya bisa—kita bisa sangat berhati-hati atau sebaliknya bisa sangat mantap menjalankannya.

Contoh lain, seorang motivator mandapat banyak penggemar bisa dikarenakan hasil pemikiran mereka mampu membuat pada audiens terpana, atau menyetujuinya. Mereka merasa sudut pandang yang mereka kemukakan merupakan jalan keluar dari keterpurukan mereka selama ini. Para motivator mampu menanamkan sudut pandang positif yang berdampak hal yang mengagumkan.

Sekarang saya sedang mengelola sudut pandang saya, agar tetap berada di jalur positf, tapi juga tidak mengabaikan intuisi negatif yang tiba-tiba berkelebat di hati saya. Mungkin, itu adalah cara saya mendeteksi kejanggalan. Ya! Agar semua berimbang.

DS, 11 Des. 11
Pukul 21.20 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar