Selasa, 06 Desember 2011

Pias


Oleh : Ani Sudaryanti

Degupku seperti
Dentaman palu di pengadilan yang menyatakan kau bersalah
Sementara konspirasi bak marajalela
Atau keluh dan peluh saat antri minyak tanah
Lima jam hanya dua liter, tanpa makanan kecil apalagi segelas air mineral
tak pernah sunyi, selalu bernyanyi : beep! –lantas hilang

Cemasku seperti
Ayah yang mengantri di loket rumah sakit untuk membayar biaya operasi
Tidak ada surat pengantar apalagi sepiring rasa kasihan
Atau pencopet yang tersudut di jalan buntu
Hanya pias terengah-engah
Tak pernah sunyi, selalu bernyayi : beep! –lantas hilang

Terengahku saat memori otakku hanya bisa bilang satu : beep!
Saat gelisah menemani malam dan para pemikir malah terlelap.
Mendengkur!
Aku di sini tanpa membelajaran, menyamput fajar yang itulagi-itulagi
Besok berapa kali lagi nyanyian itu, di perutku
beep! Atau hilang lagi

DS, 07 Desember 2011
Saat pagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar