Rabu, 07 Desember 2011

Mendengar

Oleh : Ani Sudaryanti

Sangat menyenangkan kalau saat kita berbicara, orang lain fokus dan perhatian terhadap apa yang kita utarakan. Entah, isi ucapan itu benar-benar mengandung informasi ataupu hanya ‘just make a conversation’. Bayangkan jika telinga kita berbalik menjadi pendengar, dan orang di depan kita sedang bicara banyak hal tapi rasanya perasaan di tubuh ini melayang entah kemana, hanya telinga kita yang hadir menangkap sayup-sayup kata dari lawan bicara.

Pernah, saat saya mendengarkan kawan saya bicara, tapi pikiran saya tidak hadir. Lantas saya tersadar, bagaimana perasaan kawan saya itu jika hati saya tidak benar-benar ada di tempatnya atau saya berada di posisi pembicara. Bayangkan rasanya.

Kecerdasan mendengar

Kecerdasan mendengar merupakan sosial yang paling mahal dan paling dihargai. Bayangkan jika seruruh elemen pendengar fokus terhadap apa yang kita bicarakan. Pendengar benar-benar penuh perhatian, mendengarkan tanpa menyela, kontak mata yang terjaga intesitasnya dan dia menghentikan semua yang dilakukan hanya untuk mendengarkan kita. Wah, pendengar itu tiba-tiba menjadi penuh pesona.

Suatu kala, seorang berbicara pada saya, menanyakan sesuatu. Tapi, dia menanggapi sambil menekan-nekan hpnya. Dan respon baliknya hanya ucapan “mmmh...gitu ya?” sambil meneruskan ucapannya. Ada beberapa hal yang saya tangkap, apalagi saat itu saya sedang membaca buku yang berjudul the magic of charm, lantas perkiraan saya tentangnya, dia hanya sekedar basa-basi dan jawaban saya hanya sekenanya di telinga saya.

Bila kita menjadi pendengar, dan mampu menghentikan kegiatan demi lawan bicara kita, menahan untuk tidak menyela sementara waktu, melakukan klarifikasi dan umpan balik, lawan bicara kita akan merasa benar-benar berharga, itupun yang ingin kita rasakan saat jadi pembicara kan? Lawan bicara kita akan bereaksi secara kimia, tubuhnya akan mengeluarkan zat endorfin, perasaan gembira karena merasa penting.

Kita adalah dia

Menjadi pendengar efektif bisa dibilang tidak mudah, seperti yang telah saya paparkan tadi, orang kebanyakkan hanya ingin di dengarkan, dan semua menjadi menarik kalau kita membicarakan diri sendiri. Nah, kalau kita ingin perhatian pendengar fokus terhadap ucapan kita. Tidak ada salahnya untuk kita berlatih menjadi pendengar dahulu. Nanti, biarkan hukum berbalik, akan ada waktunya kita didengarkan. Menjadi pendengar yang menyenangkan.

DS, 6 Desember 2011 pukul 04.20 WIB
Pagi mulai mewangi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar