Minggu, 04 Desember 2011

Dikejar Hantu Pasar

Oleh : Monica

Listrik komplekku sudah dua kali ini padam, tetapi untuk kali ini kemungkinan yang terlama, karena satu-satunya gardu listrik yang menyuplai aliran listrik ke tempatku rusak. Dengar kabar burung katanya perlu waktu 3 jam untuk memperbaiki kerusakan tersebut.

Hari belum begitu malam, baru selepas Sholat Isya’ dan jarum jam baru menunjukkan angka 19.30 wib. Anak pertamaku sedang pada asyik main petak umpet dengan anak-anak tetanggaku, sedangkan kulihat istriku juga sedang ngerumpi dengan para ibu-ibu di komplekku. Maklumlah di dalam rumah panas dan gelap, sementara aku sedang asyik menikmati rokok “tingwe” yang tembakaunya aku beli waktu pulang kampung minggu kemarin.

“Aku mau main sepatu roda ya Bu…”, kata si bungsu kepada istriku
“Ya…hati-hati…pulangnya jangan malam-malam”.
“Iya..bu…ntar kalau listrik dah nyala..Nia juga pulang kok…”, jawab anakku.

Malam ini walaupun listrik mati, tetapi diluar rumah nampak terang disinari oleh rembulan yang hampir purnama penuh. Langitpun nampak cerah dengan dihiasi kerlap-kerlip bintang yang berserakan. Kalau jaman dahulu sebetulnya suasana seperti ini sangat romantis bagi pasangan muda-mudi yang sedang dilanda asmara. Namun bagi anak-anak seusiaku, waktu itu malam yang indah ini kami habiskan dengan bermain. Berbagai permainan anak-anak kami mainkan, dari go back so door, cublak-cublak suweng, petak umpet atau hanya sekedar membicarakan masalah hantu-hantu yang bergentayangan.

Petak umpet adalah permainan favorit anak-anak desaku, soalnya di situ kami benar-benar diuji nyalinya untuk menyelinap di daerah-daerah “wingit” sekitar desaku. Daerah seperti rumah pompa. rumah putih, hutan bambu belakang rumah, sekitar sumur dan tugu pasar Balangan merupakan zona-zona yang sering membuat bulu kuduk anak-anak berdiri. Maklumlah waktu itu listrik belum masuk desaku, di samping itu pohon-pohon besar masih banyak dijumpai di sana-sini.

Ada cerita menarik tentang sumur tua dan tugu tua di komplek pasar Balangan. Malam itu aku dan teman-temanku kurang lebih sekitar 10 anak, sedang bermain petak umpet yang lokasinya seputar komplek pasar Balangan. Suasana malam itu agak sedikit mendung, sehingga cahaya rembulanpun terlihat temaram dan angin yang bertiup sepoi-sepoi kadang membawa keharuman bau ubi rebus. Kata orang tua jaman dahulu, bau harum ubi rebus ditambah tiupan angin itu biasanya menandakan ada Gendruwo (sebangsa jin) yang sedang lewat.

Waktu itu yang giliran jaga temanku Winto dan begitu aba-aba habis kamipun berhamburan mencari tempat sembunyian yang dirasa aman dan tidak terlihat. Aku sendiri bersembunyi dibalik pohon waru besar di belakang sumur tua. Pohon waru ini terletak diantara tugu tua dengan sumur tua dan biasanya jarang ada anak-anak sembunyi di daerah ini, karena disamping terkenal angker juga lokasi ini berada persis di pinggir sawah. Akupun terpaksa sembunyi di lokasi ini karena sudah tidak kebagian tempat yang strategis lagi.

Sudah sekitar lebih dari lima menit belum terdengar ada temanku yang terbongkar tempat bersembunyinya. Suasana terlihat sunyi, hanya terdengar bunyi katak sawah dan jangkrik yang seperti saling bersahut-sahutan.
“culik…culik…., tuu….huuu…..culik…tuuu….huuu….”.

Aku dikagetkan oleh suara burung kulik yang terbang melintas di atas komplek pasar, burung ini mitosnya adalah burung symbol datangnya kematian.

Belum sempat kagetku hilang, tiba-tiba bau harum ubi rebus tercium hidungku bersamaan datangnya angin yang berhembus sedikit kencang, Aku segera berlari ketakutan kearah sumur tua, namun aku kaget ternyata Winto sedang berjalan ke arahku. Akupun berbalik arah dan berlari ke arah tempatku semula.

“Hai…San…jangan lari…”, teriak Winto sambil berlari ke arahku.
Melihat Winto mengejarku akupun segera berlari ke arah tugu tua yang angker dan menghilang di balik tugu.

Tiba-tiba terdengar suara Winto berteriak: “Hantuuuu…hantuuuu…lariiii…”.
Teman-temankupun berlari berhamburan dari tempat persembunyiannya, dan tidak ketinggalan akupun berlari ke tempat teman-temanku berkumpul. Namun karena aku masih penasaran sama yang dilihat Winto, akupun berlari dengan mengendap-endap dari arah yang berlawanan dari tempat persembunyianku.

“Memang melihat apa Win...kok teriak-teriak?”, tanya Mas Yuli temanku yang paling tua usianya.
“E…e…anu…aku melihat hantu seperti anak kecil berlari ke arah tugu tua”. kata Winto sambil tergopoh-gopoh bicaranya, karena masih ketakutan
“Pertama sih aku kira si Hasan, tapi larinya kok cepat dan terus menghilang di tugu tua”
Dalam hatiku aku tersenyum, itu khan memang aku yang berlari tadi. Mungkin karena temanku tadi sudah ketakutan jadi tidak bisa lagi membedakan antara khayalan dan kenyataan.

“San…kamu tadi sembunyi di sana nggak”, tanya Mas Yuli curiga.
Biar suasana seru akupun berbohong: “ Enggak…ke sininya aja dulua aku khan!”
Tetapi di luar dugaan ternyata jawabanku membuat mereka pada ketakutan dan lari kabur ke rumah masing-masing.

Dan tiba-tiba aku disadarkan dari lamunanku, karena…
“Byaaar…!”, listrik di komplekku menyala, akupun mencari anak-anakku agar segera pulang, karena hari sudah larut malam. (nhe2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar