Rabu, 21 Desember 2011

Bom Dipagi Subuh

Oleh : Monica

Mendengar kata BOM diucapkan, yang teringat adalah sebuah peristiwa kengerian akibat ledakannya. Sudah beberapa kali ini kita sering diperlihatkan berita-berita ledakan bom yang dilakukan oleh para teroris dari bom yang berdaya ledak rendah (low explosive) sampai dengan yang berdaya ledak tinggi (high explosive).

Sekitar tahun 70-an sampai dengan tahun ’90-an masih mudah dijumpai orang membuat dan menyulut mercon. Walaupun sebetulnya mercon juga termasuk bom dengan daya ledak rendah, tetapi hal ini berbeda dan tak ada yang aneh setiap kali bulan Ramadhan tiba terdengar dentuman mercon di sana-sini. Mercon dari berbagai jenis dan ukuran merupakan mainan anak-anak sampai dengan orang dewasa. Ada mercon cabe rawit, mercon banting, mercon renteng maupun mercon karbit yang diledakkan dengan memakai meriam bambu.

Tak ketinggalan aku dan Arief juga anak-anak seusiaku setiap bulan Ramadhan tiba selalu membuat sendiri mercon berbagai jenis dan ukuran. Ketrampilan membuat mainan berbahaya ini merupakan hal biasa yang dimiliki oleh anak-anak di kampungku, hanya saja untuk pembuatan bahan peledak kami menyebutnya obat mercon memang perlu ketrampilan khusus yang tidak sembarang orang tahu dan bisa membuatnya.

Bahaya ledakan mercon yang nyasar bukannya tidak pernah terjadi, bahkan sudah banyak memakan korban. Namun bagi kami hal tersebut tidaklah menyiutkan nyali, karena memang waktu itu tidak banyak pilihan mainan yang bisa kami temui. Akupun pernah jadi korban ledakan mercon yang dipasang sembarangan oleh temanku Arief tadi.

Ceritanya waktu itu pada bulan Ramadhan sekitar tahun ’80-an, seperti biasanya aku dan Arief sibuk membuat mercon. Kertas koran dan buku-buku bekas yang aku kumpulkan sejak dari sebelum Ramadhan sudah habis untuk membuat selongsong (container) mercon.

“Arief dapat berapa batang merconnya?”, tanyaku sambil menghitung batang demi batang mercon yang sudah aku buat.
“Yach…kalau digabung kira-kira dapat satu dos mie instan”.
“Wuiiih…banyak juga yach!”, sahutku berseri-seri, karena terbayang betapa serunya nanti.

Mercon sebanyak itu kami ledakkan biasanya setiap menjelang Magrib dan juga di pagi hari setelah habis Subuh, walaupun kadang-kadang juga ditengah malam. Yach…memang kadang-kadang dimarahin orang tua karena mengganggu tidur mereka, tetapi memang kami tidak kapok dan tetap mengulangi hanya saja kami biasanya meledakkannya di tengah sawah.

Begitulah hampir setiap hari kami selalu menyulut mercon, tetapi kadang kami pun membuat meriam bambu. Meriam bambu ini biasa kami menyebutnya long bumbung, hanya saja kami sering kali kesulitan mencari bambu yang berdiameter besar dan tebal. Walaupun begitu long bumbung ini tetap saja tidak awet, setelah dipakai beberapa kali biasanya pecah terkena tekanan dari ledakan yang terjadi.

Hampir sepanjang hari bunyi “daar…deeer….dooor” seperti saling sahut-sahutan, sampai-sampai telinga ini jadi tidak mampu lagi merespon suara mercon lagi.
Selain di saat-saat menjelang Magrib kami pun juga sering menyulut mercon di pagi hari sehabis sholat Subuh. Sambil jalan-jalan menikmati udara pagi kami pun selalu meramaikan suasana pagi dengan dentuman-dentuman mercon hasil karya kami.
Hanya saja pagi itu berbeda tidak seperti biasanya aku berjalan melenggang tanpa membawa satu batang pun mercon, hanya Arief tadi yang kulihat membawa satu kantong plastik mercon sebesar lengan orang dewasa.

Arief pun sempat bertanya kepadaku, “Kamu nggak bawa mercon….tumben?”
“Nggak Rief…aku mau menikmati pagi yang cerah ini saja”, jawabku sambil melirik Shinta di sebelahku, Shinta pun hanya tersenyum simpul kepada Arief.
“Wah…bakal tambah cerah pagi…karena ada dua sejoli yang sedang bahagia!”, canda Arief.
Kami pun kembali hanya tersenyum penuh arti kepadanya.
“Oklah…kalau begitu, aku jalan duluan yach…takut mengganggu”, kata Arief sambil tertawa
“ Yoooi…ntar aku susul di belakang kok”, jawabku

Jalan-jalan pagi ini biasa kami lakukan di sepanjang sungai Van der Wijck yang kanan kirinya terbentang luas sawah yang sedang menghijau ditambah suasana pagi yang masih temaram dengan selimut kabut yang tipis. Dari kejauhan terlihat samar-samar kemegahan Gunung Merapi dengan puncak yang masih tertutup gumpalan kabut tebal. Angin yang bertiup sepoi-sepoi menerpa badan kami terasa sejuk dan menyegarkan, apalagi ada Shinta di sampingku. Tak terasa kalau perut sebenarnya sudah mulai merintih menahan lapar karena puasa.

Beberapa ekor burung sudah mulai bernyanyi bersahut-sahutan seakan-akan menyongsong datangnya matahari yang mulai mengintip di ufuk timur. Aku dan Shinta pun terlihat asyik mengobrol sambil menikmati pagi yang indah ini, sedangkan kulihat Arief dan teman-temanku sudah berjalan jauh di depanku.

Namun tiba-tiba suasana pagi yang indah itu dirusak oleh suara mercon.
“Blaaar…….!!!!!”, suara mercon di depanku. Aku dan Shinta pun terperanjat, karena selain kaget karena tiba-tiba ada mercon meledak di depanku, kami berdua pun terkejut karena bersamaan dengan itu baju dan muka kami berdua penuh dengan kotoran kerbau.

“Ariiiiiieeeeef……..awas kau!!!”, teriak kami berdua hamper bersamaan.
Sementara kulihat Arief dan teman-temanku yang lain sedang mentertawai kami sampai terpingkal-pingkal, karena melihat ranjau merconnya yang ditanam di atas kotoran kerbau berhasil mengenai kami berdua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar