Jumat, 02 Desember 2011

Belajar Berenang, Nyaris Tenggelam

Oleh : Monica

Anak-anakku sudah memulai beres-beres pakaian renangnya sejak kemarin sore, mereka sangat ingin belajar berenang di samping karena memang semua anak-anak rata-rata menyukai jenis aktivitas di air ini. Hari Minggu pagi ini Aku sudah berjanji untuk mengantar berenang bagi kedua buah putriku, terutama si Bungsu yang sangat antusias untuk berenang.

Setelah kami menyelesaikan sarapan pagi yang disajikan oleh istri tercintaku, Akupun bertiga langsung meluncur dengan mobil cicilanku yang belum lunas ke tempat wisata water boom yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahku.

“Yah..nanti Nia disewain ban yach…, soalnya Nia khan belum bisa berenang!”, pinta si Bungsu.
Belum sempat Aku jawab, putri sulungkupun menyahut : “Aku habis berenang beliin mie rebus dan teh manis anget yach!”
“OK ndoro putri, sendiko dawuh…..”, sahutku sambil tersenyum.
“Ih..kebiasaan..mulai deh bahasa planetnya muncul”, komentar putri sulungku setiap Aku berbicara menggunakan bahasa Jawa. Tetapi anehnya kalau istriku menggunakan bahasa Sunda tidak ada yang protes, kecuali Aku yang memang tidak paham.

Tidak perlu membutuhkan waktu sampai sepuluh menit sampailah kami di kolam renang. Setelah berganti pakaian, kedua putrikupun mulai asyik menikmati permainan air yang tersedia di situ. Akupun ditinggal sendirian di tepi kolam.

Yach….. Aku masih malas untuk masuk ke air, hari masih terlalu pagi dan air kolam terasa begitu dingin di kulitku. Akupun habiskan waktuku sambil berbaring di kursi pinggir kolam, sambil memantau anak-anakku.

Waktu sekecil dia, Aku belajar berenang bukan di kolam bagus seperti ini, tetapi di sungai yang tak jauh dari rumahku. Kadang kalau musim hujan, air sungainya selain beraliran deras juga berwarna kecoklatan. Sebetulnya sudah sering beberapa anak tenggelam di sungai tersebut, tetapi tidak menjadikan gentar bagi anak-anak seusiaku. Maklumlah kami belum begitu mengerti tentang marabahaya, tahunya hanya menyalurkan kesenangan saja.

Parjiyo dan Muhalip dua anak ini dulu yang melatih Aku berenang, sebetulnya sih mereka temen sebayaku cuman lebih dahulu menguasai ilmu berenang termasuk menyelam. Kedua temen akrabku ini yang sering Aku ajak mandi di sungai, walaupun selalu dilarang oleh orang tuaku, tetapi Aku nekat selalu mencuri-curi kesempatan untuk pergi ke sungai. Akhirnya kedua temenku inilah yang melatih dengan memberikan beberapa tips praktis dalam berenang.

Tetapi pada suatu hari ketika Aku pingin menjajal kehebatan aliran air di Teleng Kedung Prahu, Aku tidak mengira kalau hari itu Aku hampir saja kehilangan nyawa.

“Par..ntar siang ajak Muhalip berenang yach!” kataku kepada Parjiyo waktu itu.
“Ya..habis pulang sekolah, jam 2. Kamu ketempatku dulu yach!”, jawabnya.
“Iya…sekalian Muhalip dikasih tahu!. .. Aku pingin berenang di Teleng hari ini”, kataku antusias.
“Mang…udah bisa berenang atau nekat nih…?,
“Halah…khan ada pelatih kenapa takut!”, jawabku sambil beres-beres buku sekolah.

Akhirnya setelah pulang sekolah sehabis makan siang Aku buru-buru masuk kamar dan bilang ke orang tua mau tidur. Kenyataannya Aku bukan tidur siang tapi melarikan diri keluar rumah dengan cara lompat jendela.
Sekitar jam 1.30 wib, Aku sudah sampai di rumah Parjiyo yang jaraknya kurang lebih 1,5 km dari rumahku.

“Gimana…., jadi kita berenang di Teleng?”, tanya Muhalip yang ternyata juga sudah nongkrong di atas pohon rambutannya Parjiyo.
“Iyalah…Aku pingin sekali berenang di sana”, jawabku sambil mengambil buah rambutan yang dilempar Muhalip kepadaku.

“Ya sudah..kalau begitu kita berangkat…bawa itu rambutan 3 iket buat dimakan disana nanti”, kata Parjiyo memberi komando.

Selanjutnya kita bertiga berjalan menuju Teleng yang tidak jauh dari rumah Parjiyo sekitar 15 menit jalan kaki. Teleng ini sebetulnya sebuah nama dam atau bendungan yang diberikan oleh penduduk sekitar Kedung Prahu. Disini bendungan ini berfungsi untuk menguras endapan pasir dan lumpur dari Sungai Van der Wijck yang kemudian dibuang ke arah Sungai Putih.

Setiap anak-anak yang jago renang di desaku pasti sudah pernah menjajal kehebatan pusaran air di dam Teleng ini. Mereka tahu taktik menghindar dan lolos dari pusaran air yang menghisap ke bawah ini, tetapi bagi Aku mungkin ceritanya akan lain. Kedalaman teleng ini kurang lebih 3 meter, cukup untuk menenggelamkan anak-anak SD seusiaku ini.

“Busyet…ngeri juga kalau terhisap”, kata dalam hatiku ketika Aku melihat pusaran air dari bibir bendungan.
“Berani nggak…ayo jebur cepetan!”, teriak Muhalip yang sudah lebih dahulu berada di dalam air.

Tiba-tiba Parjiyo dari belakang mendorongku masuk ke sungai, Aku sempat gelagepan sedikit minum air karena tidak siap. Tetapi walaupun Aku sudah berada di air, nyaliku tetap saja ciut. Aku tetap saja tidak berani ke tengah bendungan. Aku hanya mengapung di pingiran bendungan, bahkan kadang Aku hanya berpegangan di pinggir bibir bendungan.

“Ayo ketengah aja…ntar aku tolong kalau tenggelam”, rayu Muhalip dan Parjiyo bergantian.
“Enggak ah…Aku nggak berani, bagaimana kalau kita berenang di sebelah hilir”, ajakku kepada dua orang temenku.

Memang sebelah hilir yang lokasinya sudah di luar dam , sudah tidak ada pusaran air lagi. Dari atas airnya kelihatan tenang dan sedikit lebih sejuk karena tertutup oleh kerindangan Pohon Tanjung dan Pohon Beringin putih.

“Ayo…di situ lebih sejuk”, kata Parjiyo sambil keluar dari air.
Akupun tanpa berpikir panjang lagi langsung loncat ke dalam air.
“Byuuuuuuuuur…….!”, bunyi air yang terhantam oleh tubuhku.

Ternyata aku salah kira, air yang tenang ini ternyata sangat dalam dan aliran air di situ sangat pelan. Jadi begitu aku loncat ke air yang terjadi aku justru tenggelam masuk ke dalam air yang gelap. Aku mulai panik karena kaki belum segera menyentuh dasar sungai. Akupun berusaha sekuat tenaga berenang ke atas, tetapi karena panik Aku tidak dapat menggunakan otakku untuk mengingat teori-teori yang diajarkan oleh kedua orang temenku.

“Tolooong….blep…toooolooong…blep..blep..blep”, teriakku beberapa kali sambil tangganku menggapai-gapai dan Akupun timbul tenggelam, entah berapa liter air yang sudah kuminum.

Kemudian dengan cekatan Parjiyo meloncat ke dalam air dan kesalahan keduapun kami lakukan. Kenapa? Karena menolong orang tenggelam yang sudah panik itu tidak boleh langsung didekati. Bisa-bisa keduanya malah akan tenggelam bersama.

Begitu pula denganku, begitu Aku tahu Parjiyo mendekatiku….., Akupun langsung menyabarnya dan memeluk erat leher dan badannya. Akibatnya seperti yang sudah diduga kami berdua tenggelam bersama, karena kaki dan tangan Parjiyo yang Aku cengkeram dan peluk sekuat-kuatnya tidak dapat digerakkan untuk berenang. Kami berduapun sangat panik !!

Untunglah Alloh masih sayang kepada kami berdua, Muhalip yang tahu hal kejadian itu, dia langsung mendekati kami berdua dengan cara menyelam dari bawah. Kemudian dia memegang pantat kami berdua dan mendorongnya ke atas, sehingga sampai ke tepi sungai. Dengan tehnik seperti itu kamipun terselamatkan.

“Yah…mana mie rebusku?”
“Mana teh hangatnya…kok Ayah belum pesan ya…?”, tanya kedua putriku bergantian, menyadarkan dari lamunanku.
“Iya…iya…sebentar Aku pesan dulu!”, kataku bergegas pergi ke food courts.

Sejak kejadian itu, Akupun bisa berenang tentu saja berenang di alam luar harus ekstra hati-hati dalam membaca tanda-tanda alam, sehingga kita tidak salah langkah yang akan dapat berakibat mati konyol.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar