Kamis, 01 Desember 2011

Berebut Sarang Burung

oleh :Monica

Tidak bosan-bosannya aku mengamati tingkah laku burung-burung Kenariku, warna-warni yang indah sangat menarik bagi siapa saja yang melihatnya. Namun sesungguhnya aku tertarik bukan karena itu, tetapi karena burung kenari ini mengingatkaku saat masa-masa kecilku di kampong dahulu. Aku teringat ketika suatu saat kepingin memelihara burung pertama kali.

Waktu itu akau dan adikku mengintai sepasang burung kecil yang menarik perhatian kami. Sudah lebih dari setengah jam aku bersembunyi di balik tumpukan batu bata, kaki sudah terasa pegal-pegal , tapi sudah tak aku hiraukan. Kuamati kedua sayap kecil itu terus tak kenal lelah membantu si empunya hilir mudik mengangkut ilalang kering dan kadang serabut “gedebok” pisang. Sementara pasangannya dengan setia menunggu di balik rerimbunan daun melinjo, ilalang demi ilalang yang disodorkannya kemudian dirajut menjadi sebuah sarang yang indah.

“Mas…kakiku digigit semut!” teriak adikku sambil meringis kesakitan.
“Eh…jangan berisik…, tu kabur khan burungnya. Tadi khan sudah aku bilang jangan ngikut” jawabku sewot sambil ngeloyor pergi menjauhi sarang semut yang kelihatannya tidak suka kami berada di situ.

“Burungnya nanti kembali lagi nggak Mas…?” tanya adikku dengan sedikit rasa bersalah.
“Baliklah…asal kita tidak setiap hari mengganggunya”, jawabku sambil menggaruk-garuk kakiku yang gatal digigit semut merah.

Kami berdua sejak tadi memang lagi asyik mengamati sepasang burung Emprit yang sedang punya gawe membangun istana buat calon keluarga kecilnya. Burung Emprit Peking ini akan selalu rajin menyusun sarang kira-kira membutuhkan waktu 1 minggu. Dan kali ini yang menjadi pilihan untuk bersarang sepasang emprit itu adalah pohon Melinjo samping rumah mbah Mitro tetanggaku.

Sosok burung Emprit Peking ini kalau dilihat-lihat seperti burung kenari, hanya bedanya sedikit lebih mungil dan warnanya tidak secantik burung kenari. Kepala, sayap dan ekor coklat dengan dada putih bertotol-totol coklat, tetapi bagiku sangat menarik dibanding Emprit Jawa saudaranya.

Sebetulnya sih masih ada satu lagi emprit yang selalu mengingatkannku akan tampang seekor elang bondol, tetapi jenis ini agak susah ditemui. Emprit Kaji dengan kepala putihnya sepintas bisa membuat kita berimajinasi seakan-akan melihat seekor elang bondol yang terkenal keperkasaan.

Sudah seminggu ini aku dan adikku selepas pulang sekolah selalu mengintip kegiatan sepasang emprit itu, tapi hari ini kelihatannya mereka sudah selesai membuat sarang.

“Temen-temen gerombolan mereka kok tidak kelihatan ya ?” tanya adikku.
“Mereka khan punya rumah sendiri-sendiri dhik…”jawabku sekenanya.

Sebetulnya emprit merupakan ''musuh'' petani karena gemar mencuri bulir-bulir padi yang mulai menguning. Di alam bebas, emprit senang datang ke areal persawahan secara berkelompok dalam jumlah besar. Mereka bisa menghabiskan padi yang siap dipanen. Tidak heran jika petani sering menghalaunya dengan membuat boneka-bonekaan serupa manusia bercaping.

Kali ini aku berani-beranikan memanjat pohon Melinjo itu, tapi baru mendapat setengah meter aku sudah gemetaran. Mungkin di kampungku aku satu-satunya anak yang tidak bisa memanjat, sehingga kali ini maksud hati ingin menghitung jumlah telur emprit terpaksa aku urungkan. Aku sudah tidak sabar ingin melihara emprit kecil, tetapi harus sabar menunggu sekitar dua mingguan untuk melihat telur-telur itu menetas.

“Yuk kita bikin sangkar dulu, buat ntar naruh empritnya” ajak aku ke adikku.
“Bikinnya dari apa Mas…?”
“Dari dos bekas kotak sepatu aja, biar mudah” jawabku walaupun sebenarnya karena aku tidak mampu membuat sangkar dari bambu seperti yang dilakukan oleh temen-temenku.
“Bukannya jelek, kalau dari dos sepatu?”
“Nggaklah Dhik…ntar kalau sudah bisa terbang khan burungnya kita lepas”
“Kok dilepas Mas…?”
“Iya..biasanya mereka sudah jinak dan pasti pulang kalau kita lepas”
“Hore asyik …. seperti merpati dong bisa dimainin!” teriak adikku gembira

Emprit memang tidak dimasukkan sebagai kelompok burung kelangenan seperti perkutut dan derkuku ataupun burung jinak seperti merpati. Ia juga tidak termasuk burung berkicau, karena nyaris tidak mempunyai ocehan yang bisa didengar. Ocehannya hanya ''pritt.. priiittt...''

Juga bukan burung hias, sebab warna bulunya kurang menarik, terutama untuk emprit biasa. Ukuran tubuhnya hanya sebesar ibu jari orang dewasa. Bulu-bulunya berwarna cokelat kehitaman, dengan bulu dada berbintik-bintik putih. Jenis emprit ini paling banyak kita jumpai di persawahan.

Namun keinginanku itu semua sirna, ketika tahu ternyata aku salah hitung kapan telur-telur emprit itu menetas dan siap dipelihara. Adikku kelihatan sangat sedih ketika kuceritakan bahwa sarang empritnya sudah diambil sama temenku Mardi, anak dan induknya berhasil dijebak oleh tetanggaku itu.

“Ya sudah…jangan sedih cuman emprit ini” hibur ayahku ketika tahu kami berdua sedih kehilangan calon mainanku.
“Tapi yah…kita khan sudah nyiapin sangkarnya dan lagi kita khan yang tahu duluan sarang itu” protes adikku sambil memperlihatkan sangkar bikinanku dari dos sepatu.
“Ya..ya..Ayah tahu…gimana kalau besok Minggu kita ke Pasar Ngino beli burung dara?” ajak ayahku
“Bener Yah…aku mau..!”
“Aku juga mau Yah!” hampir bersamaan saking gembiranya.

Akhirnya semenjak peristiwa rebutan sarang burung itu, kami akhirnya mempunyai sepasang merpati yang cantik-cantik. Kami bergantian merawatnya, kadang kalau sore kami sering melatih merpati untuk terbang jarak jauh.

Tidak begitu lama merpati-merpatiku beranak-pinak menjadi beberapa pasang, kadang kalau kami butuh uang saku untuk beli buku atau sepatu sering menjual beberapa ekor merpatiku. Dan salah satu kebanggaanku kalau salah satu merpatiku yang telah dijual berhasil pulang ke rumah lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar