Rabu, 28 Desember 2011

Janji di Setahun Yang Lalu

Oleh : Ani Sudaryanti

UDARA semacam ini sudah tidak kentara lagi kapan akan berkunjung. Kadang di awal tahun, kadang di pertengahan tahun. Bagiku, musim apapun itu rasanya tak menjadi soal. Tidak memusingkan kapan seharusnya sebuah musim harus datang. Tidak harus rentang antara oktober hingga april, melulu dan harus basah. Lantas siapa yang perduli?

Aroma hujan kali ini, memang selalu membuat imajinasiku berhembus berkelebatan di kepalaku. Hilanglah dingin oleh ceritaku kini, harapku tak membuatku menjadi dungu. Atau nanti ada sebongkah pelajaran kejadian ini, setahun yang lalu. Bedanya, saat itu di akhir tahun tanpa hujan dan tak melulu basah. Tapi aku masih berada di pojok sebuah cafe, dengan secangkir teh mengepul serta beberapa potongan kue dengan aroma panggang terbawa dari dapur para koki. Nikmat.

Diakhir tahun itu, yang lalu. Aku menemui seorang gadis bergaun manis, dengan pita putih yang membuat wajahnya terlihat sendu. Dia tampak resah dan tangannya memegang jeruk mandarin berwarna kuning segar. Semula aku tidak pernah ingin tahu apa yang dia tunggu, terus kutatapi ia tanpa jeda, mungkin hal itulah yang membuatnya semakin gelisah. Dia mencuri menatapku balik, tapi tidak dengan malu-malu justru yang kulihat adalah ragu-ragu.

“Anda ingin pesan sesuatu?” tanya seoang waiter kepadanya. Dia tiba-tiba seperti terpergoki saat tengah mencuri untuk menatapku.

“ah..tidak..eh..belum!” suaranya gugup. Ada raut kesal dari pelayan tersebut, sebab sudah dua kali dia menanyakan hal itu. Kalau tidak ingin sesuatu untuk di pesan, lantas untuk apa dia berada disini. Mungkin dialog sinis tersimpan dari tatapan pelayan barusan. Tidak di gubris, gadis itu justru melempar pandangannya ke sembarang arah. Dia tak lagi mencoba mencuri menatapku. Aku tetap memperhatikannya, namun kali ini kubuat sesopan mungkin. Aku tidak mau seperti penjahat yang sedang mengintai buruannya.
***

SULIT
di percaya. Tiba-tiba saja, dia dengan membulatkan tekad untuk menegurku terlebih dahulu setelah kupesankan secangkir teh dan donat bergula putih senada denga pitanya. Padahal, sebelumnya ku tahu benar, kalau dia benar-banar sedang di landa gugup

“Aku ingin memberikan ini” katanya. Aku melihat sayu mata kelelahan tapi manis wajahnya tetap mendominasi kulitnya yang cerah.

“Jeruk? Untukku” dia mengangguk. Kini aku yang meragu, ada apa ini? Sebuah jeruk. Ah..mungkin dia mengira kalau aku menginginkan jeruknya karena aku tak melepas tatapanku sejak lima belas menit kedatangannya yang lalu. Ku lihat ketulusan yang berbalut kebaikan. Andai saja aku bisa membelai rambutnya yang legam. Rupanya, aku telah di bawa arus kebaikan cintanya. Cinta seorang putri. Yang mungkin nanti akan mewarnai hidupku, di setengah abad yang telah kulalui. Oh andai.

“Tolonglah paman!” rajuknya.

“Aku berjanji memberikannya pada seseorang yang kutemui pada mimpiku semalam” jelasnya dengan terbata-bata dan mulai di tengahi oleh cemas.

“Mimpi?” aku mulai menjadi dungu rupanya. Ada seorang gadis yang benar-benar berjanji bertemu seseorang di dalam mimpi? Aku yang gila atau gadis ini. Kadang aku juga tidak bisa membedakan mana imajinasi mana nyata. Oh Tuhan, rupanya sekira wajah, tak seperti apa yang terkira. Tidak mudah tampak dan sulit untuk dinilai.

Sejenak dia mulai cerita bahwa akan ada seorang gadis pula, seumurannya dengannya yang akan mengambil jeruknya itu. Dia berjanji, dengannyalah dia dapat merubah nasib gadis itu. Namun, hampir tiga puluh menit berlalu dia belum juga melihat seseorang gadis yang mencari sebuah jeruk mandarin yang berwarna kuning segar. Lantas, dia mencoba memberikan tugas padaku. Lalu, dengan tergesa-gesa dia meninggalkanku tanpa menyentuh teh hangat yang kini sudah tidak lagi hangat.

Tidak lama kemudian, aku mendengar, ribut-ribut di luar cafe. Seorang gadis bergaun manis dengan pita putih di seret untuk masuk ke dalam mobil hitam. Matanya basah, dan menatap memohon padaku. Sepenggal percakapannya masih terniang di telingaku. Dan aku masih menerka apa yang sedang terjadi. Degupku seakan bergantian menghantam dadaku.

“Tunaikan janjiku dalam mimpiku, paman!” masih terus terniang. Bagai sekelebat lebah yang berputar hebat mengelingiku, membuatku hampir limbung. Aku seperti pendengar tanpa nama.

***

DUA belas bulan setelahnya. Kejadian itu masih menjadi kenangan. Ditempat yang sama, dengan pesanan yang sama, yang aku santap setahun yang lalu. Siapa tahu pula, aku bisa bertemu dengan gadis yang memberikan jeruk itu dan mungkin tidak dengan mata sayu seperti setahun yang lalu. Dan yang terpenting dari semua itu, aku ingin memberitahukan kepadanya, aku belum dapat menunaikan janjinya itu. Ah...bagaimana mungkin aku menunaikan janji dari seorang yang tidak ku kenal hanya karena aku memesankan secangkir teh hangat untuknya. Dan terlebih lagi, janji itu dibuatnya di dalam mimpi.

Hujan di akhir tahun ini. Basah dan lembab. Langit melempar rintik-rintik tajam membuat siapapun enggan berlalu di keadaan nyamannya. Cafe ini tampak sepi. Hanya ada beberapa pengunjung dan barisan para peneduh yang terjebak hujan di jalan. Tiba-tiba ada segaris mata yang menarik untukku, sepasang mata sayu berada di sana.

Tergesa aku mencoba menghampirinya. Dia malu-malu, mencuri-curi padang untuk menangkap sesebuah bayangan yang menghampirinya. Itulah aku.

“Paman...” dia bergetar, hujan membuatnya kuyuh. Rambutnya kusut di sisir malam. Angin membuat gigil tangannya. Kontras sekali dengan gadis yang kutemui setahun yang lalu.

“Adakah seorang gadis yang datang dengan membawa jeruk? aku berjanji untuk bertemu dengannya.” Seperti pembuktian. Aku dibuat takjub dengannya.

“Janjinya yang di buatnya di dalam mimpi?” tanyaku setengah menyelidik, walaupun ini seperti pertanyaan aneh. Tapi aku, butuh keyakinan atas pertanyaan, mengapa kakiku seakan tertarik oleh matanya yang sayu. Mengapa aku begitu tertarik mengurusinya.

“ya..ya..” wajahnya berubah seketika, seperti terbasuh air hangat yang membuat gigilnya sirna. Aku terdiam. Aku tidak membawa jeruk itu. Karena , sudah setahun yang lalu. Aku mengembuskan nafasku, udaranya menghantarkan kejenakaan di sanubariku.

Nak, kapan sebenarnya perjanjian kalian terjadi. Sekarang atau setahun yang lalu, lantas adakah aku dalam mimpi kalian. Sehingga, tanpa sengaja aku terlibat di dalamnya. Tanya-tanya itu berubah menjadi gugatan.

Kupesankan dia, secangkir teh hangat. Dia menyeruputnya hingga habis, donat yang kupesankan juga di makannya tanpa jeda. Begitu menyedihkankah keadaan gadis ini? Walaupun, nampak seperti mengulang kisah, rasanya ini begitu berbeda. Yang tertinggal dari kisah ini, adalah ketulusan berbalut kebaikan. Dia seorang gadis yang diburu kejahatan, diasuh jalan. Dia tidak ingin menjadi jalang, pada nasibnya yang harus di jaga hingga nasabnya nanti tidak menjadi hilang.

Sama seperti setahun yang lalu. Andaikah! Aku ingin membelai rambutnya yang menebarkan aroma basah. Aku ingin menjadikan nasabnya berakar, mungkin bagiku hanya hayal. Tapi, membuatnya bermartabat, sepertinya tidak berlebihan.

Seperti sebuah kisah dalam sandiwara panggung bukan? Aku mendapatkan seorang anak angkat di ributnya hujan dan sebuah janji yang di buat saat bermimpi. Mereka melibatkan aku tanpa aku minta. Sungguh takjub rasanya.

DS, 26 Desember 2011
Menjelang 2012

Selasa, 27 Desember 2011

Harga Keberadaan

Oleh : Ani Sudaryanti

Harsat terdalam dari sifat manusia adalah merasa dihargai. Sekalipun seorang itu mencoba mengabaikannya, berapapun itu, dia pasti sangat ingin di hargai sekalpun sedikit porsi yang diterimanya.

Kondisi ini seharusnya membuat kita menempatkan pada posisi orang lain atau empati. Bagaimana mungkin kita bisa merasa di hargai kalaupun porsi kita memperhatikan orang setengah hati. Memang kondisi menghargai dan dihargai merupakan sikap spontanitas, atau dengan kata lain hal itu muncul dari hati.

Namun, hal membuat pesona menghargai seseorang bisa dilatih dengan pemahaman betapa pentingnya membuat orang lain nampak bercahaya dengan apa yang ada padanya. Siapapun itu, seseorang pasti memiliki nilai cahaya. Sesuatu yang membuatnya bersinar.
Bagaimana melihat cahaya orang lain tampak berkilau, sehingga hal tersebut juga bisa membuat kita secara pribadi menjadi hebat. Menghargai seseorang, dijamin tidak akan melunturkan cahaya kebaikan yang kita punya. Mungkin kita bisa menerobosnya dengan hal-hal ini:

1. Penerimaan
Hadiah terbesar yang kita terima adalah penghormatan tanpa syarat. Siapapun kita, bagaimanapun kita, dan apapun yang kita pakai, penghormatan yang datang dari lubuk sanubari terasa begitu ringan melayangkan rasa. Penghormatan sederhana yang bisa kita lakukan terhadap orang lain adalah tersenyum. Tentu saja senyum yang tulus, merekah bagai bunga. Bercahaya laiknya matahari pagi. Terasa hangat. Dengan kita tersenyum senang melihat kehadiran orang lain maka harga diri mereka akan naik.

2. Apresiasi.
Pujian adalah hal terpenting untuk membuat orang lain menjadi sangat ‘penting’. Bahwa, apa yang telah mereka lakukan adalah hal yang terbaik dan berdampak pada suatu proses. Ucapan terima kasih sebagai bentuk sederhana dari apresiasi. Dengan begitu mereka merasa kompeten dan mampu, secara tidak langsung hal itu membuat mereka terpacu untuk meningkatkan kemampuan mereka.

3.Persetujuan.
Bagaimanapun juga dalam alam bawah sadar manusia memiliki keinginan untuk disetujui segala tindakan dan pendapat mereka. Definisi dari persetujuan bisa dikatakan dengan pujian. Dengannya mereka merasa sangat penting dan berharga, hal lainnya, akan membuat pribadi kita belajar bahwa sehebat apapun kita, akan selalu membutuhkan orang lain untuk berperan menjadi kita hebat.

4. Sapa
Dengan menyapa dan tersenyum, membuat orang merasa keberadaannya terperhatikan. Keadaan ini membuat situasi emosi seseorang tetap terjaga.

5. Perhatian
Hal yang terpenting dari semua yang terpapar, perhatian merupakan bentuk kongkrit dari sebuah penghargaan. Perhatian bisa menjadi makanan terbaik bagi semua hubungan. Persahabatan, keluarga dan hubungan kerja.

Kadang seseorang mengatakan penghargaan bukan hal yang mutlak untuk dia butuhkan, tapi bukan hal yang salah kalau kita menciptakan lingkungan saling menghargai. Setuju? Kembali lagi pada anda sepenuhnya.

DS, 04 Desember 2011
Menunggu subuh

Aku Jatuh Cinta



Oleh : Ani Sudaryanti

AKU
Dipenuhi perkara menyelimuti siang dan malam
Penuh khilaf dan cerita kisah kasih
Masih terduduk menyelami hakikat

JATUH

Setiap kali jatuh dan jatuh dan jatuh
Terharu oleh tamparan keperdulian
Jatuh saat pesonamu merekah, memenuhi sanubari

CINTA

Seperti raga yang mengalirkan darahmu
Air mata bukan hanya basabasi
Sungguh dalam deritamu selalu ada aku

Aku…Jatuh…Cinta…
Berkali-kali, berputar-putar, kembali aku akan selalu jatuh cinta padamu

bunda

DS, 28 December 2011

Rabu, 21 Desember 2011

Bom Dipagi Subuh

Oleh : Monica

Mendengar kata BOM diucapkan, yang teringat adalah sebuah peristiwa kengerian akibat ledakannya. Sudah beberapa kali ini kita sering diperlihatkan berita-berita ledakan bom yang dilakukan oleh para teroris dari bom yang berdaya ledak rendah (low explosive) sampai dengan yang berdaya ledak tinggi (high explosive).

Sekitar tahun 70-an sampai dengan tahun ’90-an masih mudah dijumpai orang membuat dan menyulut mercon. Walaupun sebetulnya mercon juga termasuk bom dengan daya ledak rendah, tetapi hal ini berbeda dan tak ada yang aneh setiap kali bulan Ramadhan tiba terdengar dentuman mercon di sana-sini. Mercon dari berbagai jenis dan ukuran merupakan mainan anak-anak sampai dengan orang dewasa. Ada mercon cabe rawit, mercon banting, mercon renteng maupun mercon karbit yang diledakkan dengan memakai meriam bambu.

Tak ketinggalan aku dan Arief juga anak-anak seusiaku setiap bulan Ramadhan tiba selalu membuat sendiri mercon berbagai jenis dan ukuran. Ketrampilan membuat mainan berbahaya ini merupakan hal biasa yang dimiliki oleh anak-anak di kampungku, hanya saja untuk pembuatan bahan peledak kami menyebutnya obat mercon memang perlu ketrampilan khusus yang tidak sembarang orang tahu dan bisa membuatnya.

Bahaya ledakan mercon yang nyasar bukannya tidak pernah terjadi, bahkan sudah banyak memakan korban. Namun bagi kami hal tersebut tidaklah menyiutkan nyali, karena memang waktu itu tidak banyak pilihan mainan yang bisa kami temui. Akupun pernah jadi korban ledakan mercon yang dipasang sembarangan oleh temanku Arief tadi.

Ceritanya waktu itu pada bulan Ramadhan sekitar tahun ’80-an, seperti biasanya aku dan Arief sibuk membuat mercon. Kertas koran dan buku-buku bekas yang aku kumpulkan sejak dari sebelum Ramadhan sudah habis untuk membuat selongsong (container) mercon.

“Arief dapat berapa batang merconnya?”, tanyaku sambil menghitung batang demi batang mercon yang sudah aku buat.
“Yach…kalau digabung kira-kira dapat satu dos mie instan”.
“Wuiiih…banyak juga yach!”, sahutku berseri-seri, karena terbayang betapa serunya nanti.

Mercon sebanyak itu kami ledakkan biasanya setiap menjelang Magrib dan juga di pagi hari setelah habis Subuh, walaupun kadang-kadang juga ditengah malam. Yach…memang kadang-kadang dimarahin orang tua karena mengganggu tidur mereka, tetapi memang kami tidak kapok dan tetap mengulangi hanya saja kami biasanya meledakkannya di tengah sawah.

Begitulah hampir setiap hari kami selalu menyulut mercon, tetapi kadang kami pun membuat meriam bambu. Meriam bambu ini biasa kami menyebutnya long bumbung, hanya saja kami sering kali kesulitan mencari bambu yang berdiameter besar dan tebal. Walaupun begitu long bumbung ini tetap saja tidak awet, setelah dipakai beberapa kali biasanya pecah terkena tekanan dari ledakan yang terjadi.

Hampir sepanjang hari bunyi “daar…deeer….dooor” seperti saling sahut-sahutan, sampai-sampai telinga ini jadi tidak mampu lagi merespon suara mercon lagi.
Selain di saat-saat menjelang Magrib kami pun juga sering menyulut mercon di pagi hari sehabis sholat Subuh. Sambil jalan-jalan menikmati udara pagi kami pun selalu meramaikan suasana pagi dengan dentuman-dentuman mercon hasil karya kami.
Hanya saja pagi itu berbeda tidak seperti biasanya aku berjalan melenggang tanpa membawa satu batang pun mercon, hanya Arief tadi yang kulihat membawa satu kantong plastik mercon sebesar lengan orang dewasa.

Arief pun sempat bertanya kepadaku, “Kamu nggak bawa mercon….tumben?”
“Nggak Rief…aku mau menikmati pagi yang cerah ini saja”, jawabku sambil melirik Shinta di sebelahku, Shinta pun hanya tersenyum simpul kepada Arief.
“Wah…bakal tambah cerah pagi…karena ada dua sejoli yang sedang bahagia!”, canda Arief.
Kami pun kembali hanya tersenyum penuh arti kepadanya.
“Oklah…kalau begitu, aku jalan duluan yach…takut mengganggu”, kata Arief sambil tertawa
“ Yoooi…ntar aku susul di belakang kok”, jawabku

Jalan-jalan pagi ini biasa kami lakukan di sepanjang sungai Van der Wijck yang kanan kirinya terbentang luas sawah yang sedang menghijau ditambah suasana pagi yang masih temaram dengan selimut kabut yang tipis. Dari kejauhan terlihat samar-samar kemegahan Gunung Merapi dengan puncak yang masih tertutup gumpalan kabut tebal. Angin yang bertiup sepoi-sepoi menerpa badan kami terasa sejuk dan menyegarkan, apalagi ada Shinta di sampingku. Tak terasa kalau perut sebenarnya sudah mulai merintih menahan lapar karena puasa.

Beberapa ekor burung sudah mulai bernyanyi bersahut-sahutan seakan-akan menyongsong datangnya matahari yang mulai mengintip di ufuk timur. Aku dan Shinta pun terlihat asyik mengobrol sambil menikmati pagi yang indah ini, sedangkan kulihat Arief dan teman-temanku sudah berjalan jauh di depanku.

Namun tiba-tiba suasana pagi yang indah itu dirusak oleh suara mercon.
“Blaaar…….!!!!!”, suara mercon di depanku. Aku dan Shinta pun terperanjat, karena selain kaget karena tiba-tiba ada mercon meledak di depanku, kami berdua pun terkejut karena bersamaan dengan itu baju dan muka kami berdua penuh dengan kotoran kerbau.

“Ariiiiiieeeeef……..awas kau!!!”, teriak kami berdua hamper bersamaan.
Sementara kulihat Arief dan teman-temanku yang lain sedang mentertawai kami sampai terpingkal-pingkal, karena melihat ranjau merconnya yang ditanam di atas kotoran kerbau berhasil mengenai kami berdua.

Minggu, 11 Desember 2011

SUDUT PANDANG

Oleh : Ani Sudaryanti

Kita bisa berada di situasi dan ruangan yang sama, tapi pada saat yang bersamaan pula penilaian personal di dalamnya melahirkan cerita yang beragam. Saat mati listrik misalnya, orang akan mengalami berbagai kondisi, apalagi mati listriknya tepat tengah malam. Ada yang merutuki, ada yang tetap terlelap tak perduli atau mencari lilin untuk setitik cahaya. Pernah dengar hal ini? Dari pada mengutuk gelap lebih baik berusaha menyalahkan lilin walau hanya satu.

Kawan saya pernah datang dengan kecewa pada hal yang terjadi padanya, dia bercerita dengan terengah-engah menahan amarah dalam dadanya. Saya mendengarkan dan tidak menyela sedikitpun, karena saya tahu tidak ada yang bisa dinasehati jika sedang marah. Yang menjadi menarik bagi saya bahwa saya pun pernah diperlakukan seperti itu, dan saya menanggapinya dengan biasa saja. Atau mungkin saya dalam keadaan mood bagus sedangkan dia tidak. Namun, pelajaran yang saya dapat mengenai hal itu, adalah sudut pandang kami berbeda padahal kasus yang kita alami sama.

Atau juga kondisi yang berbalik, saya bisa kecewa berat dengan masalah sepele, dan orang lain bisa bilang “Cuma gitu doang!”
Dan semua orang memiliki sudut, tempat dimana dia harus memulai menilai. Itulah fungsi mengapa kita diharuskan menghormati pendapat orang lain.

Cara Pandang

Saya baru saja menyelesaikan membaca sebuah buku catatan yang ditulis oleh Dr. Dino Patti DJalal, buku yang saya pinjam dari kawan baik saya, memang saya tidak begitu menyukai intrik politik, tapi terlepas itu buku yang di tulis beliau menyangkut politik atau tidak, setidaknya buku beliau memberikan saya gambaran mengenai keadaan istana yang selama ini hanya menjadi cerita dongeng bagi saya. Saya menggunakan sudut pandang pak Dino untuk menilai tentang pemimpin dunia selain SBY yang menjadi peran utama di dalamnya, seperti Mahathir Muhammad yang memilih menjadi Mahathir kecil dibandingkan di samakan dengan big Soekarno, mantan perdana menteri Junichiro Koizumi yang merupakan pemimpin yang tangguh, Tony Blair yang menurut pak Dino pandai mengambil hati dan lainnya yang membuat saya menilai pemimpin tersebut berdasarkan catatan yang pak Dino buat. Menggunakan sudut pandang beliau.

Sebenarnya, memahami sudut pandang orang lain mengenai sesuatu hal itu membuat kita akan kaya rasa, jika kita melakukan sebuah keputusan besar, mencoba menyelami sudut pandang seseorang –walaupun tidak sepenuhnya bisa—kita bisa sangat berhati-hati atau sebaliknya bisa sangat mantap menjalankannya.

Contoh lain, seorang motivator mandapat banyak penggemar bisa dikarenakan hasil pemikiran mereka mampu membuat pada audiens terpana, atau menyetujuinya. Mereka merasa sudut pandang yang mereka kemukakan merupakan jalan keluar dari keterpurukan mereka selama ini. Para motivator mampu menanamkan sudut pandang positif yang berdampak hal yang mengagumkan.

Sekarang saya sedang mengelola sudut pandang saya, agar tetap berada di jalur positf, tapi juga tidak mengabaikan intuisi negatif yang tiba-tiba berkelebat di hati saya. Mungkin, itu adalah cara saya mendeteksi kejanggalan. Ya! Agar semua berimbang.

DS, 11 Des. 11
Pukul 21.20 WIB

Rabu, 07 Desember 2011

Mendengar

Oleh : Ani Sudaryanti

Sangat menyenangkan kalau saat kita berbicara, orang lain fokus dan perhatian terhadap apa yang kita utarakan. Entah, isi ucapan itu benar-benar mengandung informasi ataupu hanya ‘just make a conversation’. Bayangkan jika telinga kita berbalik menjadi pendengar, dan orang di depan kita sedang bicara banyak hal tapi rasanya perasaan di tubuh ini melayang entah kemana, hanya telinga kita yang hadir menangkap sayup-sayup kata dari lawan bicara.

Pernah, saat saya mendengarkan kawan saya bicara, tapi pikiran saya tidak hadir. Lantas saya tersadar, bagaimana perasaan kawan saya itu jika hati saya tidak benar-benar ada di tempatnya atau saya berada di posisi pembicara. Bayangkan rasanya.

Kecerdasan mendengar

Kecerdasan mendengar merupakan sosial yang paling mahal dan paling dihargai. Bayangkan jika seruruh elemen pendengar fokus terhadap apa yang kita bicarakan. Pendengar benar-benar penuh perhatian, mendengarkan tanpa menyela, kontak mata yang terjaga intesitasnya dan dia menghentikan semua yang dilakukan hanya untuk mendengarkan kita. Wah, pendengar itu tiba-tiba menjadi penuh pesona.

Suatu kala, seorang berbicara pada saya, menanyakan sesuatu. Tapi, dia menanggapi sambil menekan-nekan hpnya. Dan respon baliknya hanya ucapan “mmmh...gitu ya?” sambil meneruskan ucapannya. Ada beberapa hal yang saya tangkap, apalagi saat itu saya sedang membaca buku yang berjudul the magic of charm, lantas perkiraan saya tentangnya, dia hanya sekedar basa-basi dan jawaban saya hanya sekenanya di telinga saya.

Bila kita menjadi pendengar, dan mampu menghentikan kegiatan demi lawan bicara kita, menahan untuk tidak menyela sementara waktu, melakukan klarifikasi dan umpan balik, lawan bicara kita akan merasa benar-benar berharga, itupun yang ingin kita rasakan saat jadi pembicara kan? Lawan bicara kita akan bereaksi secara kimia, tubuhnya akan mengeluarkan zat endorfin, perasaan gembira karena merasa penting.

Kita adalah dia

Menjadi pendengar efektif bisa dibilang tidak mudah, seperti yang telah saya paparkan tadi, orang kebanyakkan hanya ingin di dengarkan, dan semua menjadi menarik kalau kita membicarakan diri sendiri. Nah, kalau kita ingin perhatian pendengar fokus terhadap ucapan kita. Tidak ada salahnya untuk kita berlatih menjadi pendengar dahulu. Nanti, biarkan hukum berbalik, akan ada waktunya kita didengarkan. Menjadi pendengar yang menyenangkan.

DS, 6 Desember 2011 pukul 04.20 WIB
Pagi mulai mewangi.

Selasa, 06 Desember 2011

Pias


Oleh : Ani Sudaryanti

Degupku seperti
Dentaman palu di pengadilan yang menyatakan kau bersalah
Sementara konspirasi bak marajalela
Atau keluh dan peluh saat antri minyak tanah
Lima jam hanya dua liter, tanpa makanan kecil apalagi segelas air mineral
tak pernah sunyi, selalu bernyanyi : beep! –lantas hilang

Cemasku seperti
Ayah yang mengantri di loket rumah sakit untuk membayar biaya operasi
Tidak ada surat pengantar apalagi sepiring rasa kasihan
Atau pencopet yang tersudut di jalan buntu
Hanya pias terengah-engah
Tak pernah sunyi, selalu bernyayi : beep! –lantas hilang

Terengahku saat memori otakku hanya bisa bilang satu : beep!
Saat gelisah menemani malam dan para pemikir malah terlelap.
Mendengkur!
Aku di sini tanpa membelajaran, menyamput fajar yang itulagi-itulagi
Besok berapa kali lagi nyanyian itu, di perutku
beep! Atau hilang lagi

DS, 07 Desember 2011
Saat pagi

Minggu, 04 Desember 2011

Dikejar Hantu Pasar

Oleh : Monica

Listrik komplekku sudah dua kali ini padam, tetapi untuk kali ini kemungkinan yang terlama, karena satu-satunya gardu listrik yang menyuplai aliran listrik ke tempatku rusak. Dengar kabar burung katanya perlu waktu 3 jam untuk memperbaiki kerusakan tersebut.

Hari belum begitu malam, baru selepas Sholat Isya’ dan jarum jam baru menunjukkan angka 19.30 wib. Anak pertamaku sedang pada asyik main petak umpet dengan anak-anak tetanggaku, sedangkan kulihat istriku juga sedang ngerumpi dengan para ibu-ibu di komplekku. Maklumlah di dalam rumah panas dan gelap, sementara aku sedang asyik menikmati rokok “tingwe” yang tembakaunya aku beli waktu pulang kampung minggu kemarin.

“Aku mau main sepatu roda ya Bu…”, kata si bungsu kepada istriku
“Ya…hati-hati…pulangnya jangan malam-malam”.
“Iya..bu…ntar kalau listrik dah nyala..Nia juga pulang kok…”, jawab anakku.

Malam ini walaupun listrik mati, tetapi diluar rumah nampak terang disinari oleh rembulan yang hampir purnama penuh. Langitpun nampak cerah dengan dihiasi kerlap-kerlip bintang yang berserakan. Kalau jaman dahulu sebetulnya suasana seperti ini sangat romantis bagi pasangan muda-mudi yang sedang dilanda asmara. Namun bagi anak-anak seusiaku, waktu itu malam yang indah ini kami habiskan dengan bermain. Berbagai permainan anak-anak kami mainkan, dari go back so door, cublak-cublak suweng, petak umpet atau hanya sekedar membicarakan masalah hantu-hantu yang bergentayangan.

Petak umpet adalah permainan favorit anak-anak desaku, soalnya di situ kami benar-benar diuji nyalinya untuk menyelinap di daerah-daerah “wingit” sekitar desaku. Daerah seperti rumah pompa. rumah putih, hutan bambu belakang rumah, sekitar sumur dan tugu pasar Balangan merupakan zona-zona yang sering membuat bulu kuduk anak-anak berdiri. Maklumlah waktu itu listrik belum masuk desaku, di samping itu pohon-pohon besar masih banyak dijumpai di sana-sini.

Ada cerita menarik tentang sumur tua dan tugu tua di komplek pasar Balangan. Malam itu aku dan teman-temanku kurang lebih sekitar 10 anak, sedang bermain petak umpet yang lokasinya seputar komplek pasar Balangan. Suasana malam itu agak sedikit mendung, sehingga cahaya rembulanpun terlihat temaram dan angin yang bertiup sepoi-sepoi kadang membawa keharuman bau ubi rebus. Kata orang tua jaman dahulu, bau harum ubi rebus ditambah tiupan angin itu biasanya menandakan ada Gendruwo (sebangsa jin) yang sedang lewat.

Waktu itu yang giliran jaga temanku Winto dan begitu aba-aba habis kamipun berhamburan mencari tempat sembunyian yang dirasa aman dan tidak terlihat. Aku sendiri bersembunyi dibalik pohon waru besar di belakang sumur tua. Pohon waru ini terletak diantara tugu tua dengan sumur tua dan biasanya jarang ada anak-anak sembunyi di daerah ini, karena disamping terkenal angker juga lokasi ini berada persis di pinggir sawah. Akupun terpaksa sembunyi di lokasi ini karena sudah tidak kebagian tempat yang strategis lagi.

Sudah sekitar lebih dari lima menit belum terdengar ada temanku yang terbongkar tempat bersembunyinya. Suasana terlihat sunyi, hanya terdengar bunyi katak sawah dan jangkrik yang seperti saling bersahut-sahutan.
“culik…culik…., tuu….huuu…..culik…tuuu….huuu….”.

Aku dikagetkan oleh suara burung kulik yang terbang melintas di atas komplek pasar, burung ini mitosnya adalah burung symbol datangnya kematian.

Belum sempat kagetku hilang, tiba-tiba bau harum ubi rebus tercium hidungku bersamaan datangnya angin yang berhembus sedikit kencang, Aku segera berlari ketakutan kearah sumur tua, namun aku kaget ternyata Winto sedang berjalan ke arahku. Akupun berbalik arah dan berlari ke arah tempatku semula.

“Hai…San…jangan lari…”, teriak Winto sambil berlari ke arahku.
Melihat Winto mengejarku akupun segera berlari ke arah tugu tua yang angker dan menghilang di balik tugu.

Tiba-tiba terdengar suara Winto berteriak: “Hantuuuu…hantuuuu…lariiii…”.
Teman-temankupun berlari berhamburan dari tempat persembunyiannya, dan tidak ketinggalan akupun berlari ke tempat teman-temanku berkumpul. Namun karena aku masih penasaran sama yang dilihat Winto, akupun berlari dengan mengendap-endap dari arah yang berlawanan dari tempat persembunyianku.

“Memang melihat apa Win...kok teriak-teriak?”, tanya Mas Yuli temanku yang paling tua usianya.
“E…e…anu…aku melihat hantu seperti anak kecil berlari ke arah tugu tua”. kata Winto sambil tergopoh-gopoh bicaranya, karena masih ketakutan
“Pertama sih aku kira si Hasan, tapi larinya kok cepat dan terus menghilang di tugu tua”
Dalam hatiku aku tersenyum, itu khan memang aku yang berlari tadi. Mungkin karena temanku tadi sudah ketakutan jadi tidak bisa lagi membedakan antara khayalan dan kenyataan.

“San…kamu tadi sembunyi di sana nggak”, tanya Mas Yuli curiga.
Biar suasana seru akupun berbohong: “ Enggak…ke sininya aja dulua aku khan!”
Tetapi di luar dugaan ternyata jawabanku membuat mereka pada ketakutan dan lari kabur ke rumah masing-masing.

Dan tiba-tiba aku disadarkan dari lamunanku, karena…
“Byaaar…!”, listrik di komplekku menyala, akupun mencari anak-anakku agar segera pulang, karena hari sudah larut malam. (nhe2011)

Jumat, 02 Desember 2011

Belajar Berenang, Nyaris Tenggelam

Oleh : Monica

Anak-anakku sudah memulai beres-beres pakaian renangnya sejak kemarin sore, mereka sangat ingin belajar berenang di samping karena memang semua anak-anak rata-rata menyukai jenis aktivitas di air ini. Hari Minggu pagi ini Aku sudah berjanji untuk mengantar berenang bagi kedua buah putriku, terutama si Bungsu yang sangat antusias untuk berenang.

Setelah kami menyelesaikan sarapan pagi yang disajikan oleh istri tercintaku, Akupun bertiga langsung meluncur dengan mobil cicilanku yang belum lunas ke tempat wisata water boom yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahku.

“Yah..nanti Nia disewain ban yach…, soalnya Nia khan belum bisa berenang!”, pinta si Bungsu.
Belum sempat Aku jawab, putri sulungkupun menyahut : “Aku habis berenang beliin mie rebus dan teh manis anget yach!”
“OK ndoro putri, sendiko dawuh…..”, sahutku sambil tersenyum.
“Ih..kebiasaan..mulai deh bahasa planetnya muncul”, komentar putri sulungku setiap Aku berbicara menggunakan bahasa Jawa. Tetapi anehnya kalau istriku menggunakan bahasa Sunda tidak ada yang protes, kecuali Aku yang memang tidak paham.

Tidak perlu membutuhkan waktu sampai sepuluh menit sampailah kami di kolam renang. Setelah berganti pakaian, kedua putrikupun mulai asyik menikmati permainan air yang tersedia di situ. Akupun ditinggal sendirian di tepi kolam.

Yach….. Aku masih malas untuk masuk ke air, hari masih terlalu pagi dan air kolam terasa begitu dingin di kulitku. Akupun habiskan waktuku sambil berbaring di kursi pinggir kolam, sambil memantau anak-anakku.

Waktu sekecil dia, Aku belajar berenang bukan di kolam bagus seperti ini, tetapi di sungai yang tak jauh dari rumahku. Kadang kalau musim hujan, air sungainya selain beraliran deras juga berwarna kecoklatan. Sebetulnya sudah sering beberapa anak tenggelam di sungai tersebut, tetapi tidak menjadikan gentar bagi anak-anak seusiaku. Maklumlah kami belum begitu mengerti tentang marabahaya, tahunya hanya menyalurkan kesenangan saja.

Parjiyo dan Muhalip dua anak ini dulu yang melatih Aku berenang, sebetulnya sih mereka temen sebayaku cuman lebih dahulu menguasai ilmu berenang termasuk menyelam. Kedua temen akrabku ini yang sering Aku ajak mandi di sungai, walaupun selalu dilarang oleh orang tuaku, tetapi Aku nekat selalu mencuri-curi kesempatan untuk pergi ke sungai. Akhirnya kedua temenku inilah yang melatih dengan memberikan beberapa tips praktis dalam berenang.

Tetapi pada suatu hari ketika Aku pingin menjajal kehebatan aliran air di Teleng Kedung Prahu, Aku tidak mengira kalau hari itu Aku hampir saja kehilangan nyawa.

“Par..ntar siang ajak Muhalip berenang yach!” kataku kepada Parjiyo waktu itu.
“Ya..habis pulang sekolah, jam 2. Kamu ketempatku dulu yach!”, jawabnya.
“Iya…sekalian Muhalip dikasih tahu!. .. Aku pingin berenang di Teleng hari ini”, kataku antusias.
“Mang…udah bisa berenang atau nekat nih…?,
“Halah…khan ada pelatih kenapa takut!”, jawabku sambil beres-beres buku sekolah.

Akhirnya setelah pulang sekolah sehabis makan siang Aku buru-buru masuk kamar dan bilang ke orang tua mau tidur. Kenyataannya Aku bukan tidur siang tapi melarikan diri keluar rumah dengan cara lompat jendela.
Sekitar jam 1.30 wib, Aku sudah sampai di rumah Parjiyo yang jaraknya kurang lebih 1,5 km dari rumahku.

“Gimana…., jadi kita berenang di Teleng?”, tanya Muhalip yang ternyata juga sudah nongkrong di atas pohon rambutannya Parjiyo.
“Iyalah…Aku pingin sekali berenang di sana”, jawabku sambil mengambil buah rambutan yang dilempar Muhalip kepadaku.

“Ya sudah..kalau begitu kita berangkat…bawa itu rambutan 3 iket buat dimakan disana nanti”, kata Parjiyo memberi komando.

Selanjutnya kita bertiga berjalan menuju Teleng yang tidak jauh dari rumah Parjiyo sekitar 15 menit jalan kaki. Teleng ini sebetulnya sebuah nama dam atau bendungan yang diberikan oleh penduduk sekitar Kedung Prahu. Disini bendungan ini berfungsi untuk menguras endapan pasir dan lumpur dari Sungai Van der Wijck yang kemudian dibuang ke arah Sungai Putih.

Setiap anak-anak yang jago renang di desaku pasti sudah pernah menjajal kehebatan pusaran air di dam Teleng ini. Mereka tahu taktik menghindar dan lolos dari pusaran air yang menghisap ke bawah ini, tetapi bagi Aku mungkin ceritanya akan lain. Kedalaman teleng ini kurang lebih 3 meter, cukup untuk menenggelamkan anak-anak SD seusiaku ini.

“Busyet…ngeri juga kalau terhisap”, kata dalam hatiku ketika Aku melihat pusaran air dari bibir bendungan.
“Berani nggak…ayo jebur cepetan!”, teriak Muhalip yang sudah lebih dahulu berada di dalam air.

Tiba-tiba Parjiyo dari belakang mendorongku masuk ke sungai, Aku sempat gelagepan sedikit minum air karena tidak siap. Tetapi walaupun Aku sudah berada di air, nyaliku tetap saja ciut. Aku tetap saja tidak berani ke tengah bendungan. Aku hanya mengapung di pingiran bendungan, bahkan kadang Aku hanya berpegangan di pinggir bibir bendungan.

“Ayo ketengah aja…ntar aku tolong kalau tenggelam”, rayu Muhalip dan Parjiyo bergantian.
“Enggak ah…Aku nggak berani, bagaimana kalau kita berenang di sebelah hilir”, ajakku kepada dua orang temenku.

Memang sebelah hilir yang lokasinya sudah di luar dam , sudah tidak ada pusaran air lagi. Dari atas airnya kelihatan tenang dan sedikit lebih sejuk karena tertutup oleh kerindangan Pohon Tanjung dan Pohon Beringin putih.

“Ayo…di situ lebih sejuk”, kata Parjiyo sambil keluar dari air.
Akupun tanpa berpikir panjang lagi langsung loncat ke dalam air.
“Byuuuuuuuuur…….!”, bunyi air yang terhantam oleh tubuhku.

Ternyata aku salah kira, air yang tenang ini ternyata sangat dalam dan aliran air di situ sangat pelan. Jadi begitu aku loncat ke air yang terjadi aku justru tenggelam masuk ke dalam air yang gelap. Aku mulai panik karena kaki belum segera menyentuh dasar sungai. Akupun berusaha sekuat tenaga berenang ke atas, tetapi karena panik Aku tidak dapat menggunakan otakku untuk mengingat teori-teori yang diajarkan oleh kedua orang temenku.

“Tolooong….blep…toooolooong…blep..blep..blep”, teriakku beberapa kali sambil tangganku menggapai-gapai dan Akupun timbul tenggelam, entah berapa liter air yang sudah kuminum.

Kemudian dengan cekatan Parjiyo meloncat ke dalam air dan kesalahan keduapun kami lakukan. Kenapa? Karena menolong orang tenggelam yang sudah panik itu tidak boleh langsung didekati. Bisa-bisa keduanya malah akan tenggelam bersama.

Begitu pula denganku, begitu Aku tahu Parjiyo mendekatiku….., Akupun langsung menyabarnya dan memeluk erat leher dan badannya. Akibatnya seperti yang sudah diduga kami berdua tenggelam bersama, karena kaki dan tangan Parjiyo yang Aku cengkeram dan peluk sekuat-kuatnya tidak dapat digerakkan untuk berenang. Kami berduapun sangat panik !!

Untunglah Alloh masih sayang kepada kami berdua, Muhalip yang tahu hal kejadian itu, dia langsung mendekati kami berdua dengan cara menyelam dari bawah. Kemudian dia memegang pantat kami berdua dan mendorongnya ke atas, sehingga sampai ke tepi sungai. Dengan tehnik seperti itu kamipun terselamatkan.

“Yah…mana mie rebusku?”
“Mana teh hangatnya…kok Ayah belum pesan ya…?”, tanya kedua putriku bergantian, menyadarkan dari lamunanku.
“Iya…iya…sebentar Aku pesan dulu!”, kataku bergegas pergi ke food courts.

Sejak kejadian itu, Akupun bisa berenang tentu saja berenang di alam luar harus ekstra hati-hati dalam membaca tanda-tanda alam, sehingga kita tidak salah langkah yang akan dapat berakibat mati konyol.

Kamis, 01 Desember 2011

Berebut Sarang Burung

oleh :Monica

Tidak bosan-bosannya aku mengamati tingkah laku burung-burung Kenariku, warna-warni yang indah sangat menarik bagi siapa saja yang melihatnya. Namun sesungguhnya aku tertarik bukan karena itu, tetapi karena burung kenari ini mengingatkaku saat masa-masa kecilku di kampong dahulu. Aku teringat ketika suatu saat kepingin memelihara burung pertama kali.

Waktu itu akau dan adikku mengintai sepasang burung kecil yang menarik perhatian kami. Sudah lebih dari setengah jam aku bersembunyi di balik tumpukan batu bata, kaki sudah terasa pegal-pegal , tapi sudah tak aku hiraukan. Kuamati kedua sayap kecil itu terus tak kenal lelah membantu si empunya hilir mudik mengangkut ilalang kering dan kadang serabut “gedebok” pisang. Sementara pasangannya dengan setia menunggu di balik rerimbunan daun melinjo, ilalang demi ilalang yang disodorkannya kemudian dirajut menjadi sebuah sarang yang indah.

“Mas…kakiku digigit semut!” teriak adikku sambil meringis kesakitan.
“Eh…jangan berisik…, tu kabur khan burungnya. Tadi khan sudah aku bilang jangan ngikut” jawabku sewot sambil ngeloyor pergi menjauhi sarang semut yang kelihatannya tidak suka kami berada di situ.

“Burungnya nanti kembali lagi nggak Mas…?” tanya adikku dengan sedikit rasa bersalah.
“Baliklah…asal kita tidak setiap hari mengganggunya”, jawabku sambil menggaruk-garuk kakiku yang gatal digigit semut merah.

Kami berdua sejak tadi memang lagi asyik mengamati sepasang burung Emprit yang sedang punya gawe membangun istana buat calon keluarga kecilnya. Burung Emprit Peking ini akan selalu rajin menyusun sarang kira-kira membutuhkan waktu 1 minggu. Dan kali ini yang menjadi pilihan untuk bersarang sepasang emprit itu adalah pohon Melinjo samping rumah mbah Mitro tetanggaku.

Sosok burung Emprit Peking ini kalau dilihat-lihat seperti burung kenari, hanya bedanya sedikit lebih mungil dan warnanya tidak secantik burung kenari. Kepala, sayap dan ekor coklat dengan dada putih bertotol-totol coklat, tetapi bagiku sangat menarik dibanding Emprit Jawa saudaranya.

Sebetulnya sih masih ada satu lagi emprit yang selalu mengingatkannku akan tampang seekor elang bondol, tetapi jenis ini agak susah ditemui. Emprit Kaji dengan kepala putihnya sepintas bisa membuat kita berimajinasi seakan-akan melihat seekor elang bondol yang terkenal keperkasaan.

Sudah seminggu ini aku dan adikku selepas pulang sekolah selalu mengintip kegiatan sepasang emprit itu, tapi hari ini kelihatannya mereka sudah selesai membuat sarang.

“Temen-temen gerombolan mereka kok tidak kelihatan ya ?” tanya adikku.
“Mereka khan punya rumah sendiri-sendiri dhik…”jawabku sekenanya.

Sebetulnya emprit merupakan ''musuh'' petani karena gemar mencuri bulir-bulir padi yang mulai menguning. Di alam bebas, emprit senang datang ke areal persawahan secara berkelompok dalam jumlah besar. Mereka bisa menghabiskan padi yang siap dipanen. Tidak heran jika petani sering menghalaunya dengan membuat boneka-bonekaan serupa manusia bercaping.

Kali ini aku berani-beranikan memanjat pohon Melinjo itu, tapi baru mendapat setengah meter aku sudah gemetaran. Mungkin di kampungku aku satu-satunya anak yang tidak bisa memanjat, sehingga kali ini maksud hati ingin menghitung jumlah telur emprit terpaksa aku urungkan. Aku sudah tidak sabar ingin melihara emprit kecil, tetapi harus sabar menunggu sekitar dua mingguan untuk melihat telur-telur itu menetas.

“Yuk kita bikin sangkar dulu, buat ntar naruh empritnya” ajak aku ke adikku.
“Bikinnya dari apa Mas…?”
“Dari dos bekas kotak sepatu aja, biar mudah” jawabku walaupun sebenarnya karena aku tidak mampu membuat sangkar dari bambu seperti yang dilakukan oleh temen-temenku.
“Bukannya jelek, kalau dari dos sepatu?”
“Nggaklah Dhik…ntar kalau sudah bisa terbang khan burungnya kita lepas”
“Kok dilepas Mas…?”
“Iya..biasanya mereka sudah jinak dan pasti pulang kalau kita lepas”
“Hore asyik …. seperti merpati dong bisa dimainin!” teriak adikku gembira

Emprit memang tidak dimasukkan sebagai kelompok burung kelangenan seperti perkutut dan derkuku ataupun burung jinak seperti merpati. Ia juga tidak termasuk burung berkicau, karena nyaris tidak mempunyai ocehan yang bisa didengar. Ocehannya hanya ''pritt.. priiittt...''

Juga bukan burung hias, sebab warna bulunya kurang menarik, terutama untuk emprit biasa. Ukuran tubuhnya hanya sebesar ibu jari orang dewasa. Bulu-bulunya berwarna cokelat kehitaman, dengan bulu dada berbintik-bintik putih. Jenis emprit ini paling banyak kita jumpai di persawahan.

Namun keinginanku itu semua sirna, ketika tahu ternyata aku salah hitung kapan telur-telur emprit itu menetas dan siap dipelihara. Adikku kelihatan sangat sedih ketika kuceritakan bahwa sarang empritnya sudah diambil sama temenku Mardi, anak dan induknya berhasil dijebak oleh tetanggaku itu.

“Ya sudah…jangan sedih cuman emprit ini” hibur ayahku ketika tahu kami berdua sedih kehilangan calon mainanku.
“Tapi yah…kita khan sudah nyiapin sangkarnya dan lagi kita khan yang tahu duluan sarang itu” protes adikku sambil memperlihatkan sangkar bikinanku dari dos sepatu.
“Ya..ya..Ayah tahu…gimana kalau besok Minggu kita ke Pasar Ngino beli burung dara?” ajak ayahku
“Bener Yah…aku mau..!”
“Aku juga mau Yah!” hampir bersamaan saking gembiranya.

Akhirnya semenjak peristiwa rebutan sarang burung itu, kami akhirnya mempunyai sepasang merpati yang cantik-cantik. Kami bergantian merawatnya, kadang kalau sore kami sering melatih merpati untuk terbang jarak jauh.

Tidak begitu lama merpati-merpatiku beranak-pinak menjadi beberapa pasang, kadang kalau kami butuh uang saku untuk beli buku atau sepatu sering menjual beberapa ekor merpatiku. Dan salah satu kebanggaanku kalau salah satu merpatiku yang telah dijual berhasil pulang ke rumah lagi.