Rabu, 30 November 2011

Ketika Lembayung Sore…

Oleh : Monica
Sore itu langit begitu cerah, warna lembayung sudah mulai kelihatan di ufuk barat, sebentar lagi menjelang magrib. Tetapi anak-anak masih asyik bermain sepeda di jalan depan rumahku, seakan-akan tidak mengenal lelah terus saja mengayuh sepeda-sepeda kecil mereka.

Waktu itu akupun sangat menyukai sepeda pembelian orangtuaku, sepeda merah beroda tiga. Aku masih ingat ketika diajak pindah rumah pada waktu malam hari sesudah habis Magrib, sepeda merah kecilku inipun aku pakai untuk bolak-balik untuk membantu mengangkut barang-barang kecil mainanku. Sebetulnya tidak terlalu jauh jarak antara rumah yang pertama dengan rumah yang kedua kira-kira hanya 100 meter, namun memang sudah berbeda kecamatan. Tanah dan rumah itu sebetulnya warisan dari kakek.

Di rumah baruku ini aku tidur di sebuah “amben” (ranjang) besar ukurannya sekitar 2 X 4 meter dari kayu jati tua dan tanpa kasur hanya beralaskan tikar. Belum banyak perabotan rumah seingatku yang di bawa oleh orangtua, yang kini baru aku pahami kondisi seperti itu karena masih dalam taraf keluarga baru.

Aku ingin bercerita mengenai “amben” tadi, yang sebetulnya tempat bekas meletakan padi hasil panenan kakekku, sehingga ketika aku tidur kadang terasa gatal-gatal di kulit. Dan di situ pula orangtuaku menyimpan kusen-kusen pintu yang akan di pasang nanti ketika merenovasi rumah. Mungkin perlu diketahui orangtuaku pindah rumah bukan menempati rumah baru, tetapi menempati sebuah rumah tua, yang dipakai kakek untuk menyimpan hasil pertanian.

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku.
“Ayah…ayah… aku sudah bisa naik sepeda Yah…!”, teriak si Bungsu kecilku yang gembira karena bisa naik sepeda roda duanya.

Akupun tersenyum sambil memeluk si Bungsu, desir kegembiraan seakan-akan terulang kembali 30 tahun silam ketika aku hilir mudik mengayuh sepeda roda tigaku. Aku tidak tahu dari umur berapa aku mulai menaiki sepeda merah beroda tiga itu. Walaupun aku sudah seusia si bungsu waktu itu dan seharusnya aku sudah tidak layak memakai sepeda roda tiga. Memang masa kecilku sebagai anak desa tidaklah seberuntung masa kecil anak-anakku, yang mereka terlahir sebagai anak metropolitan.
“Yah…tapi sepeda sudah jelek Yah…., Adik bisa dibeliin yang baru Yah…!” rajuk bibir mungil itu.

Akupun tersenyum, “ Ya…nanti kalau ada uang Ayah belikan ya… makanya Adik doain agar Ayah punya uang banyak…!”, jawabku sambil mencubit gemas pipinya yang seperti bakpao itu.

Memang si Bungsu ini memakai sepeda bekas kakaknya yang dulunya juga bekas dipakai keponakan. Dari sisi kualitas sih sebetulnya masih bagus, bahkan sudah beberapa onderdilnya dan catnya aku ganti dengan yang baru, tetapi namanya juga anak-anak jaman sekarang selalu kritis dan pinter-pinter lagi.

Sebuah perubahan memang akan terus bergulir entah kita sadari atau tidak, perubahan itu akan mengilas kita. Kadang kesadaran akan adanya perubahan baru kita ketahui ketika secara tidak sengaja memandangi foto-foto jadul yang di upload oleh beberapa teman kita di jejaring social, tiba-tiba pikiran kita langsung terjun ke masa lalu bersama kenangan-kenangan yang silih berganti menggelayuti lamunan kita.

Sudah banyak berubah dan waktu terus berlalu tanpa dapat kita cegah. Amal dan dosa datang silih berganti, bahkan satu dua dosa kecil dengan bangganya kita lakukan, namun kita sendiri tidak mampu menghitung sudah berapa banyak dosa yang kita lakukan. Kadang aku berfikir jangan-jangan hidupku hanya punya sedikit waktu untuk melakukan amal baik dan menjalankan perintah-perintah-Nya.

Biasanya ketika sakit keras baru teringat beberapa “kenakalan” di waktu lalu, silih berganti berkelebat ke dalam memori kita dan tanpa kita sadari airmatapun meleleh dari kedua mata kita. Lidah terasa kelu untuk memohon ampun kepada Sang Pencipta, karena malu tidak bisa menghitung berapa banyak dosa-dosa yang telah kita perbuat.

“Yah… masuk yuk… sudah adzan Magrib!” ajak si Kakak sambil menuntun sepedanya masuk ke halaman.
Lamunankupun buyar, dan kusadari ternyata adzan Magrib sudah berkumandang dari masjid di komplekku.
“OK… kita sholat berjamaah yach, seperti kemarin...!” jawabku sambil mengandeng si Bungsu masuk ke rumah.

Memang secercah harapan masih ada, senyum tipis masih masih bisa mengembang karena diriku menyadari dan mengimani Tuhan itu Maha Pengampun. (NHE2011).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar