Rabu, 30 November 2011

Menyesal

Oleh :Ani Sudaryanti


Menyesal. Kata itu menyesaki dada saya, dengan telah apa yang saya kerjakan. Kadang, rasa ini benar mengganggu saya, apalagi setelah apa yang saya lakukan terhadap orang lain. Lisan saya tidak terjaga –hal yang sangat saya khawatirkan menggoreskan luka di hati--, sikap saya yang terbawa arus emosi saat suasana memanas.

Sebenarnya, saya hanya perlu mengambil kipas dan tarik nafas untuk mengontrol hati dan prilaku saya saat suasana memanas. Tapi, saya tidak matang dalam menghadapi itu. Akhirnya, saya di tindasi oleh perasaan bersalah setelahnya, benarkah yang saya katakan tadi, apakah intonasi suara saya menyakitinya, atau prilaku saya yang menyerupai anak-anak sehingga membuat orang lain kesal.

Allah Maha Baik


Dalam keadaan dilingkari kondisi tersebut, mungkin Allah menegur saya dengan perasaan bersalah. Cara Allah bilang kalau menyakiti atau mengrutu pada suatu hal itu, ternyata melelahkan. Akhirnya, membuat saya terus mengucap mantera ‘maafkan saya’ dan tiba-tiba dikutuk menjadi ‘macan jahat’. Ah, menyedihkan!
Maka, saat ini saya ingin mencoba melatih rasa empati saya, kalau saja saya berada di posisi orang di sekeliling saya. Mereka itu menyayangi saya dengan tulus, seharusnya saya membayarnya dua kali lipat.

Cinta

Allah, memang maha adil. Dia memberi imbalan tunai terhadap apa-apa yang telah kita lakukan. Saatnya saya intropeksi diri dan memohon hadiah dari Allah yaitu pengampunan. Dan memohon agar cinta yang lembut betah bersemayam di hati saya.

Bukankah tidak ada balasan bagi amal yang baik - melainkan balasan yang baik juga? Q.s. Ar rahman: 60

DS, 28 November 2011

Ketika Lembayung Sore…

Oleh : Monica
Sore itu langit begitu cerah, warna lembayung sudah mulai kelihatan di ufuk barat, sebentar lagi menjelang magrib. Tetapi anak-anak masih asyik bermain sepeda di jalan depan rumahku, seakan-akan tidak mengenal lelah terus saja mengayuh sepeda-sepeda kecil mereka.

Waktu itu akupun sangat menyukai sepeda pembelian orangtuaku, sepeda merah beroda tiga. Aku masih ingat ketika diajak pindah rumah pada waktu malam hari sesudah habis Magrib, sepeda merah kecilku inipun aku pakai untuk bolak-balik untuk membantu mengangkut barang-barang kecil mainanku. Sebetulnya tidak terlalu jauh jarak antara rumah yang pertama dengan rumah yang kedua kira-kira hanya 100 meter, namun memang sudah berbeda kecamatan. Tanah dan rumah itu sebetulnya warisan dari kakek.

Di rumah baruku ini aku tidur di sebuah “amben” (ranjang) besar ukurannya sekitar 2 X 4 meter dari kayu jati tua dan tanpa kasur hanya beralaskan tikar. Belum banyak perabotan rumah seingatku yang di bawa oleh orangtua, yang kini baru aku pahami kondisi seperti itu karena masih dalam taraf keluarga baru.

Aku ingin bercerita mengenai “amben” tadi, yang sebetulnya tempat bekas meletakan padi hasil panenan kakekku, sehingga ketika aku tidur kadang terasa gatal-gatal di kulit. Dan di situ pula orangtuaku menyimpan kusen-kusen pintu yang akan di pasang nanti ketika merenovasi rumah. Mungkin perlu diketahui orangtuaku pindah rumah bukan menempati rumah baru, tetapi menempati sebuah rumah tua, yang dipakai kakek untuk menyimpan hasil pertanian.

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku.
“Ayah…ayah… aku sudah bisa naik sepeda Yah…!”, teriak si Bungsu kecilku yang gembira karena bisa naik sepeda roda duanya.

Akupun tersenyum sambil memeluk si Bungsu, desir kegembiraan seakan-akan terulang kembali 30 tahun silam ketika aku hilir mudik mengayuh sepeda roda tigaku. Aku tidak tahu dari umur berapa aku mulai menaiki sepeda merah beroda tiga itu. Walaupun aku sudah seusia si bungsu waktu itu dan seharusnya aku sudah tidak layak memakai sepeda roda tiga. Memang masa kecilku sebagai anak desa tidaklah seberuntung masa kecil anak-anakku, yang mereka terlahir sebagai anak metropolitan.
“Yah…tapi sepeda sudah jelek Yah…., Adik bisa dibeliin yang baru Yah…!” rajuk bibir mungil itu.

Akupun tersenyum, “ Ya…nanti kalau ada uang Ayah belikan ya… makanya Adik doain agar Ayah punya uang banyak…!”, jawabku sambil mencubit gemas pipinya yang seperti bakpao itu.

Memang si Bungsu ini memakai sepeda bekas kakaknya yang dulunya juga bekas dipakai keponakan. Dari sisi kualitas sih sebetulnya masih bagus, bahkan sudah beberapa onderdilnya dan catnya aku ganti dengan yang baru, tetapi namanya juga anak-anak jaman sekarang selalu kritis dan pinter-pinter lagi.

Sebuah perubahan memang akan terus bergulir entah kita sadari atau tidak, perubahan itu akan mengilas kita. Kadang kesadaran akan adanya perubahan baru kita ketahui ketika secara tidak sengaja memandangi foto-foto jadul yang di upload oleh beberapa teman kita di jejaring social, tiba-tiba pikiran kita langsung terjun ke masa lalu bersama kenangan-kenangan yang silih berganti menggelayuti lamunan kita.

Sudah banyak berubah dan waktu terus berlalu tanpa dapat kita cegah. Amal dan dosa datang silih berganti, bahkan satu dua dosa kecil dengan bangganya kita lakukan, namun kita sendiri tidak mampu menghitung sudah berapa banyak dosa yang kita lakukan. Kadang aku berfikir jangan-jangan hidupku hanya punya sedikit waktu untuk melakukan amal baik dan menjalankan perintah-perintah-Nya.

Biasanya ketika sakit keras baru teringat beberapa “kenakalan” di waktu lalu, silih berganti berkelebat ke dalam memori kita dan tanpa kita sadari airmatapun meleleh dari kedua mata kita. Lidah terasa kelu untuk memohon ampun kepada Sang Pencipta, karena malu tidak bisa menghitung berapa banyak dosa-dosa yang telah kita perbuat.

“Yah… masuk yuk… sudah adzan Magrib!” ajak si Kakak sambil menuntun sepedanya masuk ke halaman.
Lamunankupun buyar, dan kusadari ternyata adzan Magrib sudah berkumandang dari masjid di komplekku.
“OK… kita sholat berjamaah yach, seperti kemarin...!” jawabku sambil mengandeng si Bungsu masuk ke rumah.

Memang secercah harapan masih ada, senyum tipis masih masih bisa mengembang karena diriku menyadari dan mengimani Tuhan itu Maha Pengampun. (NHE2011).

Sabtu, 26 November 2011

RUTINITAS



oleh : Ani Sudaryanti

Tidak ada yang dapat memenjarakan pikiranmu, sekalipun itu sebuah rutinitas.

Pernah ada yang bilang kalau kau hanya melakukan rutinitas? Kalau saya ada. Hal itu kadang membuat saya berpikir –sedikit termenung--. Apa yang harus saya lakukan setelah mendengar hal itu? Melangkah menjauh dari rutinitas atau tetap enjoy dengan rutinitas tersebut. Awalnya saya merasa terkritisi, seolah-olah yang yang saya lakukan secara berulang-ulang tersebut tidak memiliki nilai sehingga saya harus meninggalkannya, dan mencari hal yang lebih valueable.

Tapi, ada yang pertanyaan yang menyeruak dalam benak saya mengenai kegiatan rutinitas, bukankan kita membentuk karakter kita dengan sebuah rutinitas –baca kebiasaan--, jadi menurut saya jika rutinitas yang kita lakukan bernilai baik tak ada salahnya untuk di pertahankan, namun tidak ada salahnya juga kalau kita mulai bergerak memikirkan inovasi diri, yah, paling tidak, cara kita mengembangkan diri untuk lepas dari kejenuhan. Atau menyatakan perbaikan terhadap sebuah rutinitas keburukan. Karena dampak langsung dari sebuah rutinitas adalah kejenuhan atau sebaliknya bisa sangat terlalu ‘nyaman’.

Terkunci

Jika memang tubuh kita terkunci oleh sebuah rutinitas, dan tak mampu beranjak. Rasanya sungguh sangat tidak berdaya. Hal itu lah, yang paling saya hindari. Kalau memang pekerjaan utama kita hanya sebuah rutinitas, tapi pikiran kita bisa bebas menerbangkan imajinasi.

Bagi saya, imajinasi itu sangat penting untuk mengembangkan pikiran, membuat ritmenya tidak kaku dan bernada indah. Saya tidak mau terjebak pada sebuah rutinitas yang memenjarakan imajinasi saya, dan berdampak tidak mampu mengkritisi apa yang telah terjadi di depan saya. Itulah yang membuat saya benar-benar ‘mati’.

Saya juga tidak mau imajinasi hanya sampai sebatas imajinasi saja, saya biasanya mencatat lintasan pikiran yang menurut saya baik, atau menggaris bawahi sebuah kata-kata yang menyengol saya.

Saat ini, imajinasi saya mengatakan untuk saya melakukan langkah kedepan. Tapi apa? Imajinasi saya belum berbicara. Mungkin suatu saat saya akan berlari dari rutinitas ini. Ada yang punya ide atau saran? Nanti akan saya petimbangkan. Tuh kan, saya memang tidak konsisten. :)

DS, 26 November 2011
“Kita adalah apa yang dilakukan berulang-ulang” oleh Aristoteles.

Jujurku padamu dan ceritaku pada kertas ini

oleh : Ani Sudaryanti


Kau tahu, sebenarnya kau adalah satu-satu yang faham tentang hal ini. Jika, kau bisa menelaah lebih lanjut, aku adalah orang yang paling terbuka diantara kalian. Hanya beda cara menyampaikan. Jika kau pernah kecewa, akupun sama. Aku pernah berlelah-lelah dengan apa yang menimpa, mungkin bedanya aku selalu meraba pintu masuk di setiap langkahku.

I have dreams my friends. One of them is you. Forever, will be with you.


Aku akan menuliskan apa saja yang kurasa, hingga pada akhirnya aku lelah dan tak mengerti apa yang aku tulis. Lantas, aku ceritakan semua padamu, pada cerita ini. Cerita kertas. Jika kau menemukannya, berarti aku telah bercerita padamu. Jadi jangan bilang siapa-siapa tentang hal yang telah aku ceritakan padamu. Rahasia.

Itu satu hal tentang aku yang baru kau ketahui. Masih banyak lagi. Nah, jika kau pernah patah hati, akupun sama. Pernah patah hati. Mungkin aku hanya putri malu yang tak tahu malu untuk mencari pangeran fatamorgana. Ya, dilihat dari jauh ada, tapi dari dekat menghilang. Kau tahu tentang itu.


Saat itu aku pun dengan jujur ku ceritakan tentang rasaku padamu. Tapi, lihatlah reaksimu, kau pikir aku bercanda dan tak bersungguh-sungguh. Karena saat itu ku ceritakan dengan ekspresi biasa, tanpa air mata. Tetap bercanda, tertawa, atau bergaya sedih. Tahu kan kau teman, aku tak terbiasa menangis untuk hal yang tidak penting apalagi untuk kakak itu, ah, kalau jodoh kan tidak kemana tapi kalau tidak jodoh ya kemana-mana. Itu kata kita. He..he.. Setidaknya patah hati tidak boleh menyandra senyum kita. Bukan begitu?

Kalaupun sedih dan kecewa menjadi bumbu hidupmu, ingatlah selepas hujan mentari masih mau bersinar. Cari cara untuk melepas sedihmu. Membaca, menulis apa yang kamu rasa atau menemuiku untuk mendengarmu. Biasanya hanya itu yang aku lakukan untukmu. Sayang memang, aku bukan teman yang baik untukmu, walaupun ingin.

Aku juga pernah sangat bahagia. Hatiku melonjak-lonjak, mencoba menahan tawa yang pada akhirnya berdampak untuk senyum-senyum sendiri. Sebenarnya, aku akan bercerita padamu, tapi saat ku buka kata, sepertinya hal yang aku ceritakan bukanlah hal yang penting bagimu. Kunikmati saja sukaku.

Itulah tentang aku, akan mudah bertutur jika berteman dengan pena , tuts computer atau bermain kata yang berputar-putar di kepalaku. Mencari hikmah dari ceritamu, warna hidupku, rekaman bingkai mataku, dan apapun yang hadir dalam pelangi hidupku. Jadi temukanlah aku dalam tulisan ini, karena hanya di sinilah aku menjadi begitu jujur dalam mengungkap pedihku, kecewaku dan senangku. Jika kau lelah membacanya, hentikan lah. Dimanapun kau mau. Dan Saat kau ingin mengenalku lebih jauh. Aku akan tetap di sini. Di cerita kertasku.

Truly, I love u.

DS, 19 January 2011
Buat my lovely friend, my lovely ari.
Melepas rasa menuju mimpi sambil menikmati ‘buat aku tersenyum’ by Sheila on seven di kamar kecil tapi penuh inspirasi.

Jumat, 25 November 2011

Saya dan Mengeluh

Oleh : Ani Sudaryanti

Jam di kepala saya berbunyi tik-tok-tik-tok, saya kira itu alarm bahwa saya sedang mengoleksi masalah.

Mangapa?

Saya terlalu banyak mengeluh, dan keluhan itu ternyata membuat record tersendiri. Saya seakan mendokumentasikan keburukan yang telah terjadi.

Mengeluh…

Ternyata menguras energy, merampas bahagia karena dengannya cerita hidupmu seakan suram. Padahal, kemungkinan besar, ini cara Tuhan memberitahumu, menegurmu atau caraNya menyetuh hatimu yang selama ini terlalu beku.

Ya…
Mengeluh…
Seperti kau mengukir di batu yang tak seorangpun mampu menghapusnya kecuali kau benturkan batu tersebut dengan batu yang lebih keras. Biar hancur bersamaan dengan ukiran tulisanmu.

Tapi…
Mengeluhlah, dengan niat melepas gundah. Itu mungkin pembelaan hati saya, karena mengeluh adalah bagian dari manusia. Saya tidak berharap kau sepakat, tapi jika kau sepakat maka Lakukanlah seperti kau menulisnya di pasir, pada kaca yang berembun. Dengan begitu kau akan mudah menghapusnya dengan sekali gerakan tangan.

Atau..
Bisa kau ganti kata mengeluh dengan mengadu, sebagai bentuk ketidakberdayaanmu akan masalahmu. Tapi, lakukan hanya denganNya, Tuhanmu, Allah.

Dengan begitu pula bebanmu juga terhapus, tak perlu kau mendebat, tak perlu kau koleksi bebanmu. Sehingga tak ada yang berat yang mengikat langkahmu.

DS, 25 November 2011
Saat sedang evaluasi diri.