Selasa, 23 Agustus 2011

Menakar Terbakar mencari Kadar

oleh Dian Arymami pada 09 Agustus 2011 jam 14:30

Kau tahu, Judul tulisan diatas sudah begitu lama tersimpan. Tak pernah mampu menyelesaikan, tak pernah cukup yakin bagaimana menyimpulkan, tapi aku rasa setiap cerita selalu memiliki akhir, dan tiap akhir selalu memiliki cerita, dan disinilah ia bermula..

Menakar terbakar mencari kadar. Itulah tema yang mengelilingi kita. Ada empat kata disana, masing-masing dengan ceritanya sendiri. Masing-masing dengan warnanya sendiri. Pertemuan dan kebersamaan terdorong oleh dua kata, menakar dan mencari. Ditengah proses itu kita terbakar. Melalui waktu, peristiwa, dan tentu dengan segala kemungkinan subyektifitas logika serta kala kita temukan kadar.

Harus aku akui, berelasi denganmu begitu memabukan. Lebih karena memantik semua bagian otak secara bersamaan. Logika yang harus senantiasa berputar dan rasa yang tak mampu dinalar. Seakan otak kanan dan kiri tiba-tiba dinyalakan bersamaan, bekerja penuh mengolah data, menciptakan perintah. Tak terhenti. Menggila. Tak mampu beristirahat. Ada kerjaaan tak terbatas disana yang menuntut hasilnya ditumpuk segera.

Kebersamaan kita tentu bukanlah sebuah peristiwa yang bisa dibaca begitu saja sebagai ‘takdir’. Ah.. bukan aku tak percaya. Aku percaya kosmis ini bergerak dan bekerja dengan sistem yang luar biasa. Dimana semua hal yang hadir ditengah kita sebenarnya membawa benang cerita perkembangan diri dan jiwa, membawa sebuah perubahan satu dan lainnya, memberikan warna kehidupan yang tak pernah sia-sia. Ya. Aku masih percaya itu.

Tapi membaca kebersamaan kita sebatas ‘takdir’, rasanya tak terima. Akal pasti akan mencoba mencari jawaban. Ego akan mencoba untuk tegak berdiri. Mencari konfirmasi, memastikan diri menjadi subyek, yang bertanggung jawab dan memiliki kuasa mengarahkan pilihan dan peristiwa pribadi. Kebersamaan kita, tak terjadi begitu saja. Seperti kata Bandura, kita mendekatkan diri dengan kemungkinan yang tersedia, mendekatkan diri pada Life Chance Encounters yang tiba-tiba membuka pintu dihadapan kita.

Waktu, kesempatan, persamaan dan keinginan. Waktu telah memungkinkan kita bertemu. Waktu yang tiba-tiba berdetak menyajikan petak serupa. Kesempatan tiba-tiba terbuka, memaksa kita bertemu ditengah sibuk menjalani dunia sendiri. Bertemu pada satu titik persamaan jiwa. Persamaan yang mengajak diri kita secara sukarela memberi kesempatan bersama.

Relasi, intens dengan interaksi. Interaksi selalu mencari. Dua diri dengan jiwa terkekang haus eksplorasi.Tanpa terkatakan, kita pahami; kita dua insan yang sedang mencari. Mungkin kita temukan diri yang sedang pecah disana sini. Mungkin diri yang sedang jengah dengan rutinitas dan hantaman realitas. Kita, dua diri yang memiliki beribu tanya di kepala. Dua diri yang begitu skeptis akan percaya dan hati. Dan mencoba meletakkan percaya, bersama, dalam wujud kerangka yang kita sebut mimpi.
Interaksi kita membuka petualangan jiwa. Melepas semua tututan nilai, semata menjadi diri sesungguhnya. Nikmat tiada tara. Ini dua jiwa, dimana batas tiada. Persetan dengan paradigma. Menggali pengalaman dan rasa, mengolah dengan logika, mencari titik temu patahan dan tikungan ketunggalan. Berdansa semesta, ditengah mungkin saja menemukan apa yang mereka sebut cinta. Meski kita tak pernah benar-benar percaya.

Lalu kala bicara, kadar mengemuka. Mudah lupa segala interaksi penuh dengan subyektifikasi. Intersubyektifikasi yang mewarnai non-komunikasi. Mengembangkan diri tapi bukan kita. Mungkin bukan waktunya. Terhempas. Jiwa seakan terampas. Kembali menimbang sama. Kembali mencari makna. Dan saat kita temukan, kita sadar semua sudah terlewatkan. Sesal mengejar kala, tapi hadiahnya tepat disana. Terselip dalam bab-bab cerita memukau. Hanya perlu kita buka. Kala akan mengajari bahwa kadar tak pernah benar-benar hambar. Meski tanya yang sama, bobotnya selalu berbeda, disinilah akhir memiliki cerita, meski bukan sebuah cerita tanpa akhir.

Sampai seberapa kadar untuk membuat terbakar ? jika skeptis akan rasa percaya dan hati masih saja menjadi pengganjal mimpi ? jika mimpi saja masih terganjal rasa, lantas kapan akan menjadi nyata ? ini tentang rasa, sepertinya, tetapi tidak pula menampikkan logika. Jika memang benar ini yang disebut "mereka" cinta, maka memang benar-benar ada "kepercayaan". Cinta. Di dalam kepercayaan itulah dia ada. Meski memang kadar tak akan pernah sama. Mencari. Tetap. Menakar, Jangan terlalu. Terbakar. Saya pikir itulah yang membuat "kesementaraan" cinta dalam "mimpi" menjadi seakan nyata dan memang ini bukan akhir sepertinya. Apa mungkin malah awal ? ...

Yogyakarta.masihmencariceritatanpaakhirmencarikataterimakasihakanada.982011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar