Senin, 18 Juli 2011

Contra Flow

Oleh : Ani Sudaryanti

Melawan arus. Jika bus transjakarta, banyak menemui pro dan contra mengenai regulasi melawan arus, maka manusia pun yang mencoba melawan arus juga mendapati pro dan contra, minimal di dalam hatinya.
Sebenarnya melawan arus tidak identik dengan sebuah ‘perlawanan’ atau ‘kondisi protes’, melawan arus juga bisa di katakan sebagai bentuk usaha, bisa di sebut inovasi dan revolusi. Karena hidup itu adalah sebuah perjalanan, maka kondisi dalam perjalanan itu memerlukan aturan agar sesuai dengan yang kita kehendaki dalam hidup –rumitkah?. Saat kita mencoba berbeda dengan orang lain atau berbeda dengan kebiasaan yang berjalan, itulah keadaan melawan arus. Entah, skalanya kecil atau besar.

Mengindahkan Pandangan Orang Lain

Kondisi dimana sulit bagi kita menyatakan berbeda dengan orang lain, apalagi keadaan itu telah berlangsung lama. Biasanya kita berpikir ulang untuk melakukan hal tersebut –pemikiran ulang itu baik, agar nanti tidak salah langkah—tapi, beberapa orang ada yang melakukan tindakan contra flow tanpa ragu –berbeda dengan orang lain menjadikannya exis--, sebenarnya tergantung bagaimana kasusnya, dan hal yang menyebabkan tindakan contra flow.

Fokus terhadap tindakan contra flow yang mengarah kebaikan. Apalagi contra flow terhadap sebuah kebiasaan adat, aturan keluarga atau mungkin aturan yang tidak tertulis yang justru, banyak orang lebih patuh terhadap aturan tersebut.
Sangat mustahil bagi kita untuk membuat semua senang. Mengindahkan pandangan orang, sedangkan di kepala kita berkecamuk sebuah pemikiran yang menyatakan contra. Walaupun, tidak semua yang di kepala kita adalah benar, tapi mencoba mengungkapkan sebuah tindakan kontra dalam pikiran kita adalah hal yang wajar, dan nantinya jika hal tersebut melahirkan contra juga, kita bisa melaratnya, tentunya dengan alasan yang bisa kita terima.

Contra flow, tidak selamanya berbahaya. Tapi, contra flow juga tidak boleh dilandasi keegoisan. Begitu?


DS, 16 February 2011
Saat sarapan pagi, menikmati nasi uduk dan teh buatan sendiri.
Dan nikmat Allah semakin menghangat.

Senin, 04 Juli 2011

Bunda

Seribu definisi tak akan cukup ketika menyebut satu nama, “Ibu”. Insan pemberi, ikhlas tanpa pamrih, kasihnya mengalir tak bermuara, sayangnya tak berujung, cintanya tiada bertepi, serta doanya selalu terlantun dan terpatri. Dia adalah manusia tangguh tanpa pernah putus asa. Selalu siap merangkul dan membimbing tanpa diminta.

Rasululllah SAW pun sangat menghormati sosok ibu hingga beliau lebih mengutamakannya dibandingkan maklhuk lainnya di muka bumi ini. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepada Rasulllah, siapakah yang lebih berhak saya pergauli dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia pun bertanya lagi, “Kemudia siapa?” Beliau menjawab, “Ayahmu”. (HR Bukhari dan Muslim).
Ibu adalah pahlawan bagi setiap jiwa anak manusia. Darah, air mata dan peluh siap dipertaruhkan, senandung doa pun hanya tercipta demi buah hatinya. Bahkan, berkorban nyawa pun dilakukan ketika anaknya hadir di muka bumi.

Pernahkah terbayang dalam benak kita ketika ia harus menanggung beban dalam dirinya selama Sembilan bulan? Berjuta penat, lelah dan berbagai rasa tidak nyaman menyergap dirinya. Namun, karena cinta yang tiada yang tiada tergantikan merasuk serta menjalar dan menghujam dalam benak sang ibu, ia pun menghadapi semua dengan senyum dan untaian syukur.

Tidak berhenti di situ, ia merawat dan membesarkan serta mendidiknya hingga dewasa dengan kasih yang tak bertepi.

read more