Kamis, 09 Juni 2011

Hari ini, bulan Juni.

oleh Dian Arymami pada 10 Juni 2011 jam 7:44

“Berapa umurmu?”
“enam belas”, “tujuh belas”, “dua satu”, “dua lima”. Senyum mengembang, dan rona bahagia terpancar cerah secara otomatis. Muda, matang, penuh impian, dan seluruh dunia dalam genggaman! Yes! Life is perfect!

Itu, beberapa tahun yang lalu. Kini, bila ada yang bertanya pertanyaan itu kembali, alis ini mengerut, jawaban agak lambat, dan ditambah ekspresi malu-malu. Ah.. umur, begitu pentingkah pertanyaan itu diluncurkan? Bukannya bermasalah dengan umur yang bertambah (masih tak mau mengaku) , tapi entah kenapa umurku berhenti di angka 25 (Ada kenyamanan menyebut 25!). Tahun-tahun setelahnya seakan tak lagi ingat pernah berlalu. Fakta bahwa angka itu sekarang telah jauh terlewati seakan tak pernah mampu masuk ke ranah logika. Tak penting juga (benarkah?). Sebagai pecinta hal-hal yang natural, seharusnya umur menjadi bagian dari itu.

Tapi begitulah. Topik umur kadang bergeser ke ranah sensitif secara irasional, khususnya bagi para perempuan. Mari salahkan media! Umur bagi perempuan kadang berupa kematian. Tak perlu membangun argumen bila fakta (mayoritas) lelaki semakin mempesona saat menua, merupakan hal yang terbalik dengan (mayoritas) wanita. Ini kasat mata. Ya, aku tahu, ini memang imbas konsensus sosial dan peradaban imaji semu yang sok humanis.

Tapi oklah.. hari ini, melewati satu tahun lagi, ada yang berbeda. Tak banyak semangat dan gebu melewati satu angka ini. Mungkin karena sudah sampai disini. Mungkin…

Melewati angka tahun lalu, sungguh penuh drama. Tepatnya, kekhawatiran dan keresahan yang berlimpah.. menjadi tua! Tampak mengerikan. Rasanya terancam tak lagi bisa disebut sebagai young fearless female, lalu sibuk merampingkan tubuh dengan olah raga berlebih, membelanjakan uang untuk krim anti penuaan, dan sibuk mencari gairah anak remaja. Euforia pergantian umur yang cukup normal-normal saja (setidaknya menurutku).

Tahun ini. Tidak ada semua itu. Capek kali berolahraga, dan krim-krim itu tak ada gunanya! Berkaitan dengan tubuh, ah.. dia memang begitu saja. Pernah kuimpikan menjadi perempuan dengan segala identitas keperempuanannya, resah menanti payudara mekar begitu lama. Tak bisa dipercepat juga. Saat teman-teman sudah memakai BH, rasanya tertinggal bila tak memilikinya. Lalu melihatnya tumbuh, pada ukuran sempurna, penuh, padat, dan tepat pada posisinya. Senangnya! Sedikit heran dengan ada yang dinamakan push-up bra. Aku melihatnya tumbuh membesar, lalu melihatnya habis terhisap (ngomongin ASI lho ya), melihatnya berubah warna, kemudian mengecil dan kendor. Begitu pula dengan perut. Otot-otot perut 6 pak sempurna sebagai atlet, keras padat dan garis-garis otot itu terlihat indah, lalu paknya berkurang, lipatan tiba-tiba ada, kemudian melihatnya melar dalam ukuran pohon baobao, kembali menyusut tapi tak seindah penari perut. Belum lagi semua bekas luka itu, jahitan 10 senti disana sini. Perubahan kulit, kaki, pantat, ah.. tak perlulah mendeskripsikan perubahan bagian per bagian. Fisik pasti berubah, alam memang tak bisa dilawan. Terlalu banyak diluar sana yang meresahkan segala hal yang sebenarnya wajar-wajar saja.

Gebu resah itu tak lagi terasa. Entah kenapa, mungkin fokus pikirannya saja yang berbeda, mungkin ini yang dinamakan dewasa. Mungkin ada sedikit kesadaran akan hidup dan kesempatan yang berkurang*). Mungkin.. tapi bagaimanapun.. Smoga bukan tanda-tanda tak lagi punya gairah. Smoga.

Lucu mengingat-ingat kembali masa-masa silam itu (hedeewww.. tanda-tanda tua deh!) saat sibuk dengan hal-hal yang begitu sederhana (tentu dari kacamata sekarang). Melihat hidup begitu sempurna dan berjalan lurus-lurus saja (siapa sih yang tak membayangkan yang ideal). Melewati masa anak-anak penuh ceria, remaja penuh cinta, mahasiswa penuh prestasi, lalu cukup umur untuk berpesta pora dan mengenal gelap dunia, mendapatkan pasangan impian, pekerjaan yang menggairahkan, uang berlimpah, mampu membantu dunia, memiliki keluarga, hidup bahagia selamanya. Hal-hal diantaranya semata bumbu pernak-pernik saja.

Sampai suatu saat sebuah titik menyadari bahwa segala bumbu bukan pernak-pernik semata. Pernak-pernik telah mengajari bahkan mentransformasi dan membentuk diri, terkadang begitu jauh dari yang dibayangkan pada awalnya. Ingin sekali berbagi cerita, suatu saat nanti tentunya. Sebuah versi diri; tentang keluarga, tentang prestasi, impian, harapan, patahan, dan cinta.

Sepanjang umur yang terjalani hingga hari ini, hidup memanglah sebuah misteri yang ia sendiri akan mengajari kita segalanya, secara tidak biasa, sesuai waktunya.
Saat ini, aku hanya ingin berkata, it’s one hell of a roller coaster ride! And Yes I am.. 30!

Yogyakarta.belakangteras.10062011
Note ini ditulis semata karena tampaknya tak afdol tidak menuliskan semacam pengingat setahun telah lewat, dan tentu mengucapkan terimakasih sudah memberi begitu banyak warna indah hingga hari ini.
*)diambil dari sebuah ucapan dia pagi ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar