Kamis, 16 Juni 2011

Kejujuran Jadi Musuh Publik...?

ALIFAH Ahmad Maulana adalah siswa kelas 6 SDN Gadel II, Kecamatan Tandes, Surabaya, Jawa Timur. Ia melaporkan kepada orang tuanya--Widodo dan Siami--bahwa dia diperintahkan gurunya untuk menyebarkan sontekan massal soal ujian kepada rekannya saat ujian nasional.

Tapi kejujuran ini justru mengundang reaksi kemarahan. Keluarga Alif justru dikucilkan dan dimusuhi di kampungnya. Tragis memang. Betapa mahalnya harga kejujuran. Lebih tragis lagi, kejujuran yang semestinya menjadi roh pendidikan justru dimusuhi dan dilawan.

Kejujuran adalah barang langka yang kita temukan di negara ini, karena sudah langka dan tidak ada pemimpin, tokoh yang menjadi panutan menunjukkan kejujuran. Orang tua tidak pernah mengajarkan kejujuran kepada anaknya, tidak pernah mengajarkan etika sopan santun, sehinggga tidak mengherankan kalau kejujuran merupakan barang langka, sebaliknya kekerasan, benci, iri hati, sombong itulah yang kita tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari dan ditiru oleh keturunan kita.
(sumber: http://www.mediaindonesia.com/read/2011/06/15/234393/297/121/Kejujuran-Jadi-Musuh-Publik...)

Memang sungguh mengerikan hidup di negeri ini, jelas-jelas perbuatan tidak halal dan ketahuan, tetapi kenapa kok tidak mau mengakuinya. Lebih-lebih jika berhubungan dengan uang atau perut, perut memang indah tetapi bukankah ada yang paling indah dalam hidup ini yaitu akhlak yang baik. Akhlak tidak hanya perbuatan / perilaku fisik yang nampak oleh mata saja, tetapi akhlak itu harus bermuatan dengan niat hati yang bersih hanya untuk Tuhan semata.

Memahami fenomena sosial ini, kita masih dapat untuk mensyukuri karena Tuhan telah memberikan peringatan serta contoh-contoh akan adanya hari akhir dan kesejukan bagi orang-orang yang mau beriman kepada-Nya. Tetapi kenapa orang jujur jadi musuh public? Bukankah kejujuran itu akhlak yang mulia. Apabila kita ikut-ikutan berfikir secara instan dan jangka pendek pasti akan menyalahkan orang-orang jujur demi sebuah pengakuan palsu dari masyarakat, tetapi jika kita mau berfikir ke depan bahkan sampai ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, kita akan menemukan ketenangan dan kesejukan dari sebuah kejujuran.

Dengan kejujuran Negara dapat membangun kesejahteraan bagi rakyatnya tidak hanya sejahtera bagi segolongan orang. Dan dengan kejujuran kita dapat menghargai sebuah kesuksesan yang bernilai religi tidak hanya sukses yang diukur dari nilai-nilai keduniaan semata. Walaupun ada pepatah jawa yang sedikit menyindir bahwa “Jujur itu bakal ajur”, tetapi masih banyak orang yang tidak percaya akan mitos ini karena berkeyakinan bahwa “kalau kita menanam padi tidak akan mungkin tumbuh ilalang” apabila kita menanam benih kejujuran tidak akan mungkin tumbuh kehancuran.

by monica

Kamis, 09 Juni 2011

Hari ini, bulan Juni.

oleh Dian Arymami pada 10 Juni 2011 jam 7:44

“Berapa umurmu?”
“enam belas”, “tujuh belas”, “dua satu”, “dua lima”. Senyum mengembang, dan rona bahagia terpancar cerah secara otomatis. Muda, matang, penuh impian, dan seluruh dunia dalam genggaman! Yes! Life is perfect!

Itu, beberapa tahun yang lalu. Kini, bila ada yang bertanya pertanyaan itu kembali, alis ini mengerut, jawaban agak lambat, dan ditambah ekspresi malu-malu. Ah.. umur, begitu pentingkah pertanyaan itu diluncurkan? Bukannya bermasalah dengan umur yang bertambah (masih tak mau mengaku) , tapi entah kenapa umurku berhenti di angka 25 (Ada kenyamanan menyebut 25!). Tahun-tahun setelahnya seakan tak lagi ingat pernah berlalu. Fakta bahwa angka itu sekarang telah jauh terlewati seakan tak pernah mampu masuk ke ranah logika. Tak penting juga (benarkah?). Sebagai pecinta hal-hal yang natural, seharusnya umur menjadi bagian dari itu.

Tapi begitulah. Topik umur kadang bergeser ke ranah sensitif secara irasional, khususnya bagi para perempuan. Mari salahkan media! Umur bagi perempuan kadang berupa kematian. Tak perlu membangun argumen bila fakta (mayoritas) lelaki semakin mempesona saat menua, merupakan hal yang terbalik dengan (mayoritas) wanita. Ini kasat mata. Ya, aku tahu, ini memang imbas konsensus sosial dan peradaban imaji semu yang sok humanis.

Tapi oklah.. hari ini, melewati satu tahun lagi, ada yang berbeda. Tak banyak semangat dan gebu melewati satu angka ini. Mungkin karena sudah sampai disini. Mungkin…

Melewati angka tahun lalu, sungguh penuh drama. Tepatnya, kekhawatiran dan keresahan yang berlimpah.. menjadi tua! Tampak mengerikan. Rasanya terancam tak lagi bisa disebut sebagai young fearless female, lalu sibuk merampingkan tubuh dengan olah raga berlebih, membelanjakan uang untuk krim anti penuaan, dan sibuk mencari gairah anak remaja. Euforia pergantian umur yang cukup normal-normal saja (setidaknya menurutku).

Tahun ini. Tidak ada semua itu. Capek kali berolahraga, dan krim-krim itu tak ada gunanya! Berkaitan dengan tubuh, ah.. dia memang begitu saja. Pernah kuimpikan menjadi perempuan dengan segala identitas keperempuanannya, resah menanti payudara mekar begitu lama. Tak bisa dipercepat juga. Saat teman-teman sudah memakai BH, rasanya tertinggal bila tak memilikinya. Lalu melihatnya tumbuh, pada ukuran sempurna, penuh, padat, dan tepat pada posisinya. Senangnya! Sedikit heran dengan ada yang dinamakan push-up bra. Aku melihatnya tumbuh membesar, lalu melihatnya habis terhisap (ngomongin ASI lho ya), melihatnya berubah warna, kemudian mengecil dan kendor. Begitu pula dengan perut. Otot-otot perut 6 pak sempurna sebagai atlet, keras padat dan garis-garis otot itu terlihat indah, lalu paknya berkurang, lipatan tiba-tiba ada, kemudian melihatnya melar dalam ukuran pohon baobao, kembali menyusut tapi tak seindah penari perut. Belum lagi semua bekas luka itu, jahitan 10 senti disana sini. Perubahan kulit, kaki, pantat, ah.. tak perlulah mendeskripsikan perubahan bagian per bagian. Fisik pasti berubah, alam memang tak bisa dilawan. Terlalu banyak diluar sana yang meresahkan segala hal yang sebenarnya wajar-wajar saja.

Gebu resah itu tak lagi terasa. Entah kenapa, mungkin fokus pikirannya saja yang berbeda, mungkin ini yang dinamakan dewasa. Mungkin ada sedikit kesadaran akan hidup dan kesempatan yang berkurang*). Mungkin.. tapi bagaimanapun.. Smoga bukan tanda-tanda tak lagi punya gairah. Smoga.

Lucu mengingat-ingat kembali masa-masa silam itu (hedeewww.. tanda-tanda tua deh!) saat sibuk dengan hal-hal yang begitu sederhana (tentu dari kacamata sekarang). Melihat hidup begitu sempurna dan berjalan lurus-lurus saja (siapa sih yang tak membayangkan yang ideal). Melewati masa anak-anak penuh ceria, remaja penuh cinta, mahasiswa penuh prestasi, lalu cukup umur untuk berpesta pora dan mengenal gelap dunia, mendapatkan pasangan impian, pekerjaan yang menggairahkan, uang berlimpah, mampu membantu dunia, memiliki keluarga, hidup bahagia selamanya. Hal-hal diantaranya semata bumbu pernak-pernik saja.

Sampai suatu saat sebuah titik menyadari bahwa segala bumbu bukan pernak-pernik semata. Pernak-pernik telah mengajari bahkan mentransformasi dan membentuk diri, terkadang begitu jauh dari yang dibayangkan pada awalnya. Ingin sekali berbagi cerita, suatu saat nanti tentunya. Sebuah versi diri; tentang keluarga, tentang prestasi, impian, harapan, patahan, dan cinta.

Sepanjang umur yang terjalani hingga hari ini, hidup memanglah sebuah misteri yang ia sendiri akan mengajari kita segalanya, secara tidak biasa, sesuai waktunya.
Saat ini, aku hanya ingin berkata, it’s one hell of a roller coaster ride! And Yes I am.. 30!

Yogyakarta.belakangteras.10062011
Note ini ditulis semata karena tampaknya tak afdol tidak menuliskan semacam pengingat setahun telah lewat, dan tentu mengucapkan terimakasih sudah memberi begitu banyak warna indah hingga hari ini.
*)diambil dari sebuah ucapan dia pagi ini