Kamis, 13 Januari 2011

Benang antara 'dewasa' dan 'kekanak-kanakan'

Pernah. Suatu saat, saya berdiskusi dengan seorang orang tua murid di sekolah tempat saya bekerja. Kami diskusi sedikit mengenai anaknya, yang menurutnya cukup dewasa dan bertanggung jawab untuk seusia putranya tersebut. Saya mengiyakan, bukan karena dia orang tua murid, tapi karena menurut ceritanya, saya setuju kalau anaknya di bilang dewasa. Pembicaraan kami menggalir begitu saja. Hingga tanpa di duga dia berkata, "Sudah menikah,mba?" dia memanggilku mbak, biasanya orang tua memanggil saya ibu, tapi tak mengapa lah.

"Belum..." Jawab saya singkat sambil tersenyum.
"Emang umurnya berapa?
"28, pak"
"Wah masih muda" tambahnya.
"Ah,menurut ibu saya tidak begitu!" Saya jawab dengan nada bercanda.
"Anak pertama ya?"
"Iya pak, kok bapak tahu ya?" saya memang sedikit heran.
"Kelihatan kok kalau mbak dewasa..." Sekali lagi saya hanya mesem saja. Pembicaraan kami berakhir bersamaan dengan berakhirnya keperluan beliau terhadap saya.

Saya masih berkutat dengan kata 'TERLIHAT DEWASA', masa sih saya dewasa? atau mungkin bapak tadi memperhalus kata 'TUA' dengan 'DEWASA' he..he... Nah, dari pembicaraan tadi saya berpikir mengenai keadaan dewasa seseorang. Pernah mendengar kalimat bahwa dewasa itu pilihan. Dan menjadi tua itu pasti? Berarti menjadi dewasa memerlukan kerja keras atau belajar. Saya tidak bilang bahwa penilaian bapak tersebut tentang kedewasaan saya benar, karena saya tahu dengan pasti bahwa orang-orang terdekat saya tidak setuju soal itu. Apalagi keluarga saya. Maklumlah mereka tahu tingkah keseharian saya. Jujur, saya tidak bisa menghilangkan nada merengek saat saya butuh sesuatu. Sudah bawaan mungkin :).

Kedewasaan itu memang penting dalam fase hidup seseorang, pernah gak kalau anak umur 2 tahun akan terlihat amazing jika mengerti sesuatu yang baru (baca pintar--pen), sedangkan buat orang dewasa yang masih tertinggal sifat kekanak-kanakannya maka akan terlihat tidak jauh dari mengagumkan. Misalnya, seorang nenek yang tergila-gila dengan tamiya, seorang ayah yang menggemari playstation yang notabenenya adalah mainan anak-anak. Menurut saya, tidak salah jika seorang dewasa masih menyukai hal-hal yang kekanak-kanakan. Itu wajar. Karena sifat kekanak-kanakan adalah interprestasi sampingan seseorang terhadap kehidupan ini. Sadar atau tidak. Berapan usia dewasa kita nanti sifat ini akan tetap tertinggal. Hanya bagaimana kita menempatkannya.

Menjadi diri sendiri. Sebenarnya itu kuncinya. Sahabat tercinta saya pernah bilang kalau saya memang sedikit tidak dewasa, tapi anehnya jika dia butuh pendapat, dia akan beralih kepada saya. Saya sebenarnya bilang mau merubah diri, tapi kata dia itu tidak perlu, maka saya menjadi saya seperti ini. Tanpa dibuat dan tanpa di sembunyikan. Dan saya sepakat soal itu.

Kedewasaan dan kekanak-kanakan pada usia tertentu memiliki batas tipis. Tidak dewasa jika seseorang masih mengedepankan keegoisannya, emosi menyingkapi sesuatu, dan tidak toleran. Menurut saya itu adalah sifat dari anak-anak yang sedang mempertahankan mainannya. Lah, itu yang bisa di bilang real kekanak-kanakan dan musti di hilangkan.

Sekedar menyukai mainan yang bersifat lucu, doraemon misalnya (lagi bela diri--pen), penyuka games atau lainnya, selama tidak berpengaruh dalam pengambil keputusan penting dalam hidup, sangatlah tidak masalah untuk dipertahankan. Bersamaan waktu pasti akan berkurang. Tergantung personalnya.

Hidup ini memang tidak ada yang real hitam atau putih. Tentu saja untuk konteks karakter tapi hitam putih kebaikan dan keburukan haruslah jelas. Tidak ada abu-abu, walaupun pada kenyataannya tidak seperti itu. Karakter seseorang memang dipengaruhi lingkungan. Seperti saya yang anak perempuan satu-satu di keluarga, terbiasa diperlakukan istimewa oleh ibu saya, wajar karena perlakukan untuk anak laki-laki dan perempuan memang harus beda. Kondisi ini yang membuat saya terlihat tidak dewasa dalam spesifik masalah. Tapi, kondisi saya yang sering berhubungan dengan orang yang bijaksana membuat saya mungkin, saya bilang mungkin, bisa berlaku bijaksana.

Menjadi tidak adil jika kedewasaan dan kekanak-kanakan adalah faktor penilai personal. Mengenal lah dahulu. Kedewasaan memang pilihan. Mencarinya, kita perlu belajar. Yang harus kita tahu, dewasa bukan diajarkan tapi dipelajari melalui otodidak dari pungutan masalah yang kita hadapi. Sepakat? Jika ada pendapat lain bisa di sampaikan kepada saya. Dan kita diskusi tentang ini.

Jadi ingat ucapan teman saya, saat disuatu mall di Jakarta. Saya sedang melihat dompet doraemon.
"Wajar ya ni kalau kita belum nikah" Saya masih memilih barang sambil menyahut sekenanya.
"Lihat tuh tingkah kita...kaya anak-anak banget." Saya menatap dia, lalu kami tertawa bersama. Karena saat itu dia sedang memburu tempat CD garfild.
"Yah,..mungkin" Kembali kami tergelak. Nikmati saja saat-saat ini, katanya. Dan saya sangat menikmati saat ini. Karena, mungkin saat kita benar-benar dewasa nanti, justru keadaan inilah yang kita rindui.


DS, 13 Januari 2011. Pukul 20:37 WIB
Saat rindu sahabat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar