Jumat, 28 Januari 2011

Larut deru nafas sahabat

Terlewati...
Berjumpa yang terasa asing
Tawa melemah dan mengering
Sebabnya aku tak mau kau tahu

Senyummu laik malu-malu
Matamu bercermin tunduk tak ada ragu
Dan, kisahmu tersimpan di mataku
Waktu yang mencekikmu pasti berlalu

Debar gelombang hatimu mulai menderu
ribut...tapi seru...
Ah...jangan hentikan anganmu
siapkan perisai harga dirimu

Jika nanti, bunga mekar tak jadi
bukan berarti kisahmu berhenti
Nanti...hingga berbelenggu pinta tidak berkunci,
Ku tahu kau pasti menemukannya lagi

Aku siap untukmu, dan bungamu mulai mewangi

DS, 28 Januari 2011
For indri's birthday
Selamat ulang tahun, terima kasih telah menjadi kekuatan hati selama ini.

Kamis, 13 Januari 2011

Benang antara 'dewasa' dan 'kekanak-kanakan'

Pernah. Suatu saat, saya berdiskusi dengan seorang orang tua murid di sekolah tempat saya bekerja. Kami diskusi sedikit mengenai anaknya, yang menurutnya cukup dewasa dan bertanggung jawab untuk seusia putranya tersebut. Saya mengiyakan, bukan karena dia orang tua murid, tapi karena menurut ceritanya, saya setuju kalau anaknya di bilang dewasa. Pembicaraan kami menggalir begitu saja. Hingga tanpa di duga dia berkata, "Sudah menikah,mba?" dia memanggilku mbak, biasanya orang tua memanggil saya ibu, tapi tak mengapa lah.

"Belum..." Jawab saya singkat sambil tersenyum.
"Emang umurnya berapa?
"28, pak"
"Wah masih muda" tambahnya.
"Ah,menurut ibu saya tidak begitu!" Saya jawab dengan nada bercanda.
"Anak pertama ya?"
"Iya pak, kok bapak tahu ya?" saya memang sedikit heran.
"Kelihatan kok kalau mbak dewasa..." Sekali lagi saya hanya mesem saja. Pembicaraan kami berakhir bersamaan dengan berakhirnya keperluan beliau terhadap saya.

Saya masih berkutat dengan kata 'TERLIHAT DEWASA', masa sih saya dewasa? atau mungkin bapak tadi memperhalus kata 'TUA' dengan 'DEWASA' he..he... Nah, dari pembicaraan tadi saya berpikir mengenai keadaan dewasa seseorang. Pernah mendengar kalimat bahwa dewasa itu pilihan. Dan menjadi tua itu pasti? Berarti menjadi dewasa memerlukan kerja keras atau belajar. Saya tidak bilang bahwa penilaian bapak tersebut tentang kedewasaan saya benar, karena saya tahu dengan pasti bahwa orang-orang terdekat saya tidak setuju soal itu. Apalagi keluarga saya. Maklumlah mereka tahu tingkah keseharian saya. Jujur, saya tidak bisa menghilangkan nada merengek saat saya butuh sesuatu. Sudah bawaan mungkin :).

Kedewasaan itu memang penting dalam fase hidup seseorang, pernah gak kalau anak umur 2 tahun akan terlihat amazing jika mengerti sesuatu yang baru (baca pintar--pen), sedangkan buat orang dewasa yang masih tertinggal sifat kekanak-kanakannya maka akan terlihat tidak jauh dari mengagumkan. Misalnya, seorang nenek yang tergila-gila dengan tamiya, seorang ayah yang menggemari playstation yang notabenenya adalah mainan anak-anak. Menurut saya, tidak salah jika seorang dewasa masih menyukai hal-hal yang kekanak-kanakan. Itu wajar. Karena sifat kekanak-kanakan adalah interprestasi sampingan seseorang terhadap kehidupan ini. Sadar atau tidak. Berapan usia dewasa kita nanti sifat ini akan tetap tertinggal. Hanya bagaimana kita menempatkannya.

Menjadi diri sendiri. Sebenarnya itu kuncinya. Sahabat tercinta saya pernah bilang kalau saya memang sedikit tidak dewasa, tapi anehnya jika dia butuh pendapat, dia akan beralih kepada saya. Saya sebenarnya bilang mau merubah diri, tapi kata dia itu tidak perlu, maka saya menjadi saya seperti ini. Tanpa dibuat dan tanpa di sembunyikan. Dan saya sepakat soal itu.

Kedewasaan dan kekanak-kanakan pada usia tertentu memiliki batas tipis. Tidak dewasa jika seseorang masih mengedepankan keegoisannya, emosi menyingkapi sesuatu, dan tidak toleran. Menurut saya itu adalah sifat dari anak-anak yang sedang mempertahankan mainannya. Lah, itu yang bisa di bilang real kekanak-kanakan dan musti di hilangkan.

Sekedar menyukai mainan yang bersifat lucu, doraemon misalnya (lagi bela diri--pen), penyuka games atau lainnya, selama tidak berpengaruh dalam pengambil keputusan penting dalam hidup, sangatlah tidak masalah untuk dipertahankan. Bersamaan waktu pasti akan berkurang. Tergantung personalnya.

Hidup ini memang tidak ada yang real hitam atau putih. Tentu saja untuk konteks karakter tapi hitam putih kebaikan dan keburukan haruslah jelas. Tidak ada abu-abu, walaupun pada kenyataannya tidak seperti itu. Karakter seseorang memang dipengaruhi lingkungan. Seperti saya yang anak perempuan satu-satu di keluarga, terbiasa diperlakukan istimewa oleh ibu saya, wajar karena perlakukan untuk anak laki-laki dan perempuan memang harus beda. Kondisi ini yang membuat saya terlihat tidak dewasa dalam spesifik masalah. Tapi, kondisi saya yang sering berhubungan dengan orang yang bijaksana membuat saya mungkin, saya bilang mungkin, bisa berlaku bijaksana.

Menjadi tidak adil jika kedewasaan dan kekanak-kanakan adalah faktor penilai personal. Mengenal lah dahulu. Kedewasaan memang pilihan. Mencarinya, kita perlu belajar. Yang harus kita tahu, dewasa bukan diajarkan tapi dipelajari melalui otodidak dari pungutan masalah yang kita hadapi. Sepakat? Jika ada pendapat lain bisa di sampaikan kepada saya. Dan kita diskusi tentang ini.

Jadi ingat ucapan teman saya, saat disuatu mall di Jakarta. Saya sedang melihat dompet doraemon.
"Wajar ya ni kalau kita belum nikah" Saya masih memilih barang sambil menyahut sekenanya.
"Lihat tuh tingkah kita...kaya anak-anak banget." Saya menatap dia, lalu kami tertawa bersama. Karena saat itu dia sedang memburu tempat CD garfild.
"Yah,..mungkin" Kembali kami tergelak. Nikmati saja saat-saat ini, katanya. Dan saya sangat menikmati saat ini. Karena, mungkin saat kita benar-benar dewasa nanti, justru keadaan inilah yang kita rindui.


DS, 13 Januari 2011. Pukul 20:37 WIB
Saat rindu sahabat.

Senin, 10 Januari 2011

Saat Sibukmu

Masih memijit kepala yang terasa berat. Mata sebenarnya sudah hampir 15 watt. Enaknya tidur dan gak bangun-bangun hingga pagi. Tapi, repot banget ya? klo sampai besok pagi aku engga bangun. Wahhhh....klo langsung menghadap Allah trus masuk surga dan tidak pakai ditanya-tanya lagi, itu mah asik. --sambil merenung sebentar-- tapi mana mungkin. Ya iyalah, kalau dihitung-hitung pakai kakinya ulat berkaki seribu, dosaku lebih banyak dari itu. jadi...belum siap lah....!tepatnya belum siap untuk mempertanggung jawabkan hal itu dihadapan Tuhan, maaf Tuhan, aku ralat lagi ucapanku tadi.--sambil banyak-banyak istigfar--

Lelah bagi yang hidup itu biasa, salah satu kutipan dari ucapan ibuku.
Akhir-akhir ini aku benar-benar lelah, tepatnya lelah fisik. Pekerjaanku seakan tidak ada jedanya. Datang ke kantor telat 2 sampai 5 menit tapi pulang kantor telat 30 sampai 60 menit. Tidak integral alias jomplang. Banget! maaf perhitungan nih! Maklumlah seoarang 'kuli' ya harus lelah. Awalnya tidak masalah, wah dengan busung dada ku bilang bahwa semua dapat diatasi. Tapi...lama-lama aku merasa waktuku semakin menyempit. Tiba-tiba sudah waktunya pulang. Waktu cepat berlalu. Jadi ingat kata-kata seorang teman "kalau waktu terasa cepat berlalu berarti kiamat sudah dekat!". Nah loh! untuk itu aku coba mencari apa makna semua ini sebelum kiamat. --lagi serius--

Kalau akumulasi lelahku ini ditambah dengan komplain dari para pengguna jasa di tempat lembaga aku bernaung. Kepala ini terasa berat. Lantas, apa yang aku lakukan? mengeluh? ya! awalnya ya! tapi setelah berpikir-pikir dengan kepala yang masih berat (karena ngantuk--pen) mengeluh tidak akan membuatku hebat. Malah akan melemahkanku. Hidup akan merasa terzolimi oleh situasi kan?

Maka dengan kekuatan yang ada, berusahalah untuk keluar dari situasi terzolimi ini. Demi kesehatan kita juga, bagi para The busy persons. Penyakitku kalau sedang dilingkari kesibukan adalah malas makan atau kata lainnya adalah tidak bernafsu untuk melahap sesuatu. Nah itu dia! sumber penyakit kan? keadaan bukan menjadi membaik. Tapi menambah masalah yaitu penyakit. Pastinya yang repot kita juga. Cari solusinya, manjakan diri saat sedang kerja. Bagaimana caranya? Mudah, cari hiburan, bukan berarti harus meninggalkan kantor, kita bisa gunakan earphone untuk mendengarkan radio favorit kita atau lagu kesukaan, biasanya aku mendengarkan shela on seven, lagu2 korea atau percakapan bahasa inggris sambil melatih listening. Tapi, hal ini buat spesifik pekerjaan, tidak mungkin diterapkan oleh seoarang guru, dokter atau perawat. Apa jadinya sambil ngajar tapi telinga mendengarkan radio, bisa tidak fokus. Juga buat para pekerja yang membutuhkan konsentrasi penuh dilarang mencoba ini.

Hiburan yang lain adalah cari udara segar dan pemandangan segar. Beberapa detik misalnya keluar ruangan. Atau duduk sambil merebahkan kepala sejenak. Sampai benar-benar meregang segala rasa. Biasanya aku keluar melihat anak-anak atau berbicara dengan anak-anak dengan ekspresi yang khas. Wah, itu cukup berhasil untuk mengalihkan kepenatan diantara pekerjaan yang tidak ada jedanya.

Lalu, coba berinteraksi yang teman sekerja yang berwajah ceria, biasanya akan tertular untuk kita. Atau tertawalah bersama mereka sejenak, sewaktu makan siang misalnya. Hal yang penting soal ini adalah jangan lihat teman sekerja yang mukanya masam, bukan terlular berwajah masam tapi biasanya mood kita berubah melihatnya, jadi sebisa mungkin jauhi dia. Itu kalau bisa. :) he..he..(pengalaman pribadi-pen).

Yang lainnya siapkan hati. Jika kamu merasa kerja sendiri, dan semua tugas rebah di pangkuanmu. Siapkan hati untuk menerimanya, bahwa ini adalah konsenkwensi atas perkerjaan yang telah menjadi kesepakatan kamu dengan pihak perusahaan atau lembaga tempat kamu bernaung. Siapkan hati juga perlu buat para pekerjaan yang terbiasa menerima komplain. Misalnya seperti ini, tidak semua orang yang berhadapan dengan kamu akan marah-marah denganmu, tapi untuk berhadapan dengann orang yang tidak puas dengan pelayananmu, bisa-bisa dia menerkammu hidup-hidup --bahasa lebay.com-- Kalau kamu sudah siapkan hati, maka dengan mudah kamu akan hadapi. Tarik nafas panjang, dengarkan, bicara dengan lembut plus senyum, walaupun terpaksa dan hadapi. Lantas, apa yang terjadi? Disinilah poinnya, jika kita sudah mempersiapkan hati maka dengan pukulan keraspun kita siap hadapi, walaupun kadang tewas juga.:) loh!

Cara manjain diri saat kerjaan mulai membuat sesak pernafasan adalah cari makanan kesukaan, makanan yang manis atau lihat yang manis-manis. :) (yang terakhir lupakan--pen). Tidak tahu teorinya dari mana, biasanya aku coba choki-choki,wafer supermen yang clasic, atau makan apa yang kamu suka. Wah asik banget deh, saat coklatnya lumer dimulut. Akan sedikit rilex. Buat yang takut gemuk, cara ini tidak akan bikin gemuk buktinya aku sendiri karena gemuk adalah impian buatku. he..he.. atau yang suka rujak juga boleh, buat yang pedas sekalian biar bisa meredam kamu untuk tidak menerkam orang lain gara-gara kerjaan kamu yang tidak bisa ditolerir.

Bolehlah melakukan hal-hal yang diatas, tapi porsinya juga harus diukur dengan tingkat perkerjaan yang harus dihadapi. Jangan-jangan hanya karena melakukan hal tersebut, pekerjaan yang memang harus dikerjaan jadi terbengkalai. Tambah Repot. Satu lagi, buat bahan perenungan kita. Mengeluh itu boleh, mengaku lelah juga wajar, tapi jika kita ingin keluar dari situasi tersebut adalah melakukan langkah nyata, misalnya mengup grade diri untuk impian kita mungkin, latihan, belajar dan ikhlas menerima apa yang telah menjadi pilihan kita. Karena banyak diluar sana, yang masih sibuk mencari sesuap nasi dengan keringat yang tidak sebanding. Yuks, bersyukur!

Satu lagi yang terlupa adalah istirahatlah. Sehingga pekerjaanmu tidak merusak kesehatanmu dan jiwamu. Itu penting. Sekarang saatnya aku istirahat. Met Malam.


DS, 10 Januari 2011
Saat saya sedang lelah