Rabu, 13 Oktober 2010

Boleh Saja

Oleh : Ani Sudaryanti

lembaran itu tiba-tiba kuyuh
gembira masih bergumul
walaupun jujurku belum berlabuh.

ceritamu beringsut menjauh dari telinga hatiku
entah apa..
tapi pastinya aku sangat mengerti

percayakah kau,
aku satu-satunya yang mengerti
inginku membagi bebanku pada punggungmu
tapi...kau jauh.

aku tetap mengerti..
aku hanya menyimpan sifat bocahku pada mataku
maafkan...
aku ingat kamu, itu berarti bukan berubah menjauhkanmu.
nikmati saja kisahmu..

nanti, saat kau butuh punggungku...
tangismu boleh membasahi kerudungku.

sangat boleh

Jumat, 08 Oktober 2010

Fatamorgana

Jika debu itu penghalang, kurasa teramat mengganggu tapi membantu.

cukuplah aku yang mulai menarik-narik kebangkitan rasa tentang kesempurnaan. lebih tepatnya sebuah kata ideal. setiap personal akan menilai berbeda pada sebuah kesempurnaan. Baik sebuah bentuk, angan, harapan atau obsesi. Tergantung dari mana sudut pandang itu.

Namun, jika kita mabuk akan kesempurnaan itu. Sama saja kita terbuaikan fatamorgana, karena selain Allah, tidak ada apapun di bumi ini yang sempurna.

Lebih cepatnya kita menilai sesuatu, membuat kita kecewa pada saat waktu menegur kita bila menemui rumpang akan sesuatu.

Tapi, jika memang jiwa terbuai pada duniawi yang menghantarkan pada sebuah fatamorgana. Memintalah kekerdilan hati ini pada zat Maha Sempurna bahwa kita butuh pelita agar mudah menilai dari nurani yang bersih. tidak hanya sebuah kisah yang berbungkus keindahan luar. Mencegah kita tersandung pada fatamorgana yang kita bangun karena keangkuhan.

Memang kita butuh bicara untuk meninjau ulang apa yang kita rasa.

"Allah, mohonku akan sabar dan ikhlas dalam harap, bukan sekedar fatamorgana"

Duren Sawit, 08 oktober 2010