Jumat, 02 April 2010

Gelembung Malam

Oleh : Ani Sudaryanti


Saat bus itu melaju, pohon-pohon saling berkejaran menyapa. Ada untaian selamat jalan pada setiap dahan yang menjulur. Kesedihan yang belum sepenuhnya di mengerti oleh putri. Sebagian dari dirinya telah pergi. Kematian adalah hal lumrah dalam kehidupan. Dan perpisahan adalah kata pasti di jagad bumi.
“Kamu akan tinggal dengan ibu. Jangan menangis” rambut panjang ibu yang terurai berterbangan menyeka air mata. Senyuman dingin yang selama ini di rindukan bagaikan peti es yang memendam rasa lelah.
“Lalu nenek?”
“Nenek pergi, kita sekarang hanya berdua. Tugas nenek menjagamu sudah selesai sekarang ibu lah yang akan menjagamu.”
Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran gadis sepuluh tahun itu. Dia belum percaya benar dengan janji itu. Karena selama ini tidak ada belaian ketenangan di punggungnya. Bersama angin dan siluet pepohonan di kejauhan, air matanya tiba-tiba membeku. Kerinduan apa lagi setelah ini? Pasti sosok nenek, sawah dan bau pegunungan yang membuat kaki-kaki kecilnya kuat melangkah tanpa alas.
Di luar sana, ada imajinasi yang menari-nari tentang apa yang akan terjadi. Sejauh ini, dongeng tentang tentara di balik gunung adalah cerita yang membuatnya bercita-cita. Berharap suatu nanti dia mampu melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik sana. Sedangkan tentang ibu, hanya sebuah cerita yang di kemas apik oleh neneknya. Bahwa kepergian ibu dari sisinya memiliki alasan kerena demi kelanjutan hidup, seperti pahlawan tanpa bayangan.
Saat rindu yang menyekapnya dalam keheningan malam, putri akan menangis di balik pintu. Melepas segala pedih. Lantas, satu pelukan tua menghangatkan dadanya. Menyerap ke setiap rusuk-rusuk kecilnya. Betapa indah rasa itu.
“Cobalah membuat gelembung-gelembung sabun. Setiap bola-bola air yang membumbung di udara, maka akan ada pesan yang di sampaikan pada ibu”
Putri mendongakkan wajahnya ke langit. Mata bulatnya menatap kehitaman yang berhias banyak cahaya. Matanya berkejap-kerjab dan dia mulai berdoa. Maka dari mulutnya akan ada tiupan kecil yang memunculkan ribuan gelembung-gelembung yang memenuhi malam.
Membuat gelembung hanyalah solusi yang di berikan neneknya. Saat gadis seusianya di penuhi canda ayah dan ibu, putri di penuhi ribuan tanda tanya. Mengapa hingga kini dirinya masih dikukung oleh kesepian. Bahkan, hingga kini dirinya tidak pernah tahu siapa ayahnya.
Kasih sayang tua milik nenek telah di makan kesepuhan. Maka tidak ada pilihan baginya untuk melanjutkan hidup bersama ibu. Ia tidak menyesali itu, tapi setelah dapat bersama ibu, dia kehilangan neneknya. Apakah harus ada yang hilang untuk mendapatkan yang baru. Satu catatan kecilnya, ia meringkas bagaimana ibu begitu ragu untuk mengajaknya untuk tinggal bersamanya. Dia belum mengerti dengan yang di rasakannya. Apakah benar atau tidak.

-***-

Bau farfum memenuhi ruangan. Beberapa baju bertebaran di atas ranjang. Ada aktivitas yang selalu di lakukan ibu. Setiap senja. Ibu akan merubah dirinya bak peri. Gincu berwarna terang, bedak tebal dan bau-bau asing yang menyengat syaraf penciuman putri. Sebagai putri kecil, ia belum mampu mempertanyakan apa yang terjadi pada ibunya. Yang dia tahu hanyanya makanan terbaik, pakaian, dan tercatat sebagai siswa di suatu sekolah. Hidupnya bisa di bilang layak. Dia tidak pernah tahu bagaimana dan dimana ibu mendapatkan semua itu.
Pada setiap malam saat ibunya pergi, kala itu pula Putri menunggu bintang utara bercerita betapa ramainya angkasa. Cahaya berkelap-kelip mengajak matanya berdansa. Kembali ia meniupkan gelembung-gelembung. Di balik jendela sederhana, pentas cahaya bintang mengajaknya berbicara. Dengan gelembung itu dia berharap dapat menyampaikan pesan pada angkasa. Bukan lagi pesan untuk ibunya.
Pesan yang berisi tentang impian dan segala gemuruh yang dia tiupkan masuk ke dalam gelembung-gelembung sabun yang pernah terbawa angin. Dan yang di ketahui pasti olehnya, gelembung itu pecah sebelum mencapai angkasa.
“Mulut ibumu itu beracun!”
“Dia hanya kupu-kupu pembawa penyakit”
“Dasar anak haram!”
Di habiskanlah hidupnya dengan sesegala caci pada setiap ujung gang rumahnya. Berteman dan memiliki teman adalah hal yang mahal. Dia menikmati hidupnya dengan kesendirian. Kesepian.
Kian hari, Putri membaca segala kelelahan ibu pada setiap pagi. Pada sepatu hak tinggi yang bergelantung di pojok ranjang, deru nafas penderitaan ibu, bau baju ibu yang semakin membuatnya muak dan juga tanya yang dia kumpulkan dalam benaknya. Dia masih belum mampu melempar pertanyaan-pertanyaan itu. Termasuk dimana dan siapa ayahnya.
Saat ibunya masih sibuk meninggalkannya di kesepian malam, Putri melakukan hal yang sama. Dia pergi meninggalkan rumah, lalu duduk terdiam di sebuah taman sampai menjelang ibunya pulang. Tanpa sepengetahuan ibu tentunya.
Alam luas yang membentangkan langit tanpa batas. Dengan udara dan angin malam yang menyentuh kulitnya. Menemani keremajaan yang berkembang. Cantik dan lugu. Ia masih saja memainkan gelembung sabun. Selalu di malam hari, di dalam taman.
“Indah, ringan dan jika terkena lampu mereka seperi kunang-kunang,” sesosok pria memecah segala khayal yang terbang bersama gelembung. Putri coba untuk mengabaikannya. Selama ini sudah banyak pendapat orang lain yang di abaikannya, apalagi caci tentang ibu.
“Hai bidadari mengapa sendiri?” tanya pria berjaket hitam. Cahaya purnama dan lampu taman membuat wajahnya jelas terlihat. Putri melihatnya sejenak. Pesona pria itu mampu menarik bibirnya tersenyum. Satu senyuman hangat.
“Aku?”
“Ya, kau bidadari mengapa sendiri?” dia mengulang memanggil Putri dengan sebutan bidadari.
“Aku putri dan kau siapa?” ada kehangatan yang jelas berbeda. Seakan membuka pintu baru di kamar hatinya.
“Oh, putri selayaknya seorang Putri mengapa setiap malam hanya kau habiskan dengan bermain bola-bola sabun. Kau bukan putri kecil lagi” sederet kata-kata yang merubah raut wajah putri menjadi muram. Memang ia bukan lagi putri kecil tapi hanya satu kegiatan itu lah yang mampu menyeretnya ke dalam harapan. Toh selama ini tidak terpikir tentang masa depan.
“Hai, jangan marah. Bisa kita berteman?” dengan ragu Putri mengangkat wajanya. Pandangannya terperangkap dalam mata pria itu. Ada sesuatu dalam dadanya yang tiba-tiba bergejolak.
“Baiklah kita berteman?” katanya setuju. Ini adalah pertama mereka bersama menjadi dua makhluk di kehidupan taman. Di tengah rimbunan pohon. Di tengah malam.
Berlanjutlah pertemuan-pertemuan selanjutnya. Siang terasa lama karena senja yang ditunggunya. Sementara ibunya sibuk dengan urusannya, putri sedang menikmati rasanya menjadi dewasa. Kedewasaan yang baru di sadarinya setelah bertemu dengan pria itu. Gelembung sabun yang menemaninya mengusir kesepian, sudah di tinggalkannya. Kesepian telah hilang berganti dengan tawa dan cahaya.
“Aku akan menunjukan suatu tempat”
“Oh ya, apa?” mata Putri berkejap-kerjap. Seperti bintang-bintang yang bergantian berkelip.
“Tempat bahagia. Tempat tidak ada lagi kesepian. Tapi kau harus merahasiakan ini pada siapa pun” sejenak Putri merenung. Terlalu bodohkan dirinya, hingga dia tidak mempu menterjemahkan kata-kata ‘tempat bahagia’.
Janji itu di simpan Putri. Menjadi bahan bakar baginya untuk terus mempertahankan rasa bahagia ini. Dimanakah tempat bahagia. Sebenarnya dia sudah cukup merasa bahagia. Tidak ada lagi rasa kesepian. Hilang bersama hadirnya pria itu.

-***-
Usai kamar-kamar hati Putri di isi dengan sosok baru. Tiba-tiba kehilangan menyergap. Di taman yang sama dekat pohon akasia dan di kelilingi celoteh binatang malam. Dia tidak datang. Pria yang telah mengajak menari angannya tidak muncul. Sambil terus berharap Putri mencoba untuk menunggu. Kecemasan yang menemaninya semakin meninggi volumenya. Saat hampir fajar yang mewarnai langit timur, dimana ibu akan kembali ke rumah mereka yang kecil. Putri melangkah dengan gontai meninggalkan taman. Separuhnya jiwanya masih mencari sosok itu. Berharap ada panggilan namanya, dan janji untuk terus bersama.
Putri memang terbiasa dengan kecewa. Tapi mengapa kecewa kali ini begitu menghancurkan dirinya. Dua sosok bayangan yang menyilet hatinya hingga berdarah. Tepat di depan rumahnya. Ibu Tepat di depan rumahnya. Ibu gelayut manja di pundak kekar lelakinya. Yaitu pria yang sama di taman. Pria yang mengangkat kodrat kewanitaannya, sebagai wanita dewasa. Saat ia menyadari bahwa ia memang dewasa.
Terlalu pedih rasanya. Segala caci di sepanjang penghuni gang kembali terniang di cuping hatinya. Tapi haruskan dia menjadi bagian dari mereka. Terlalu kejam setelah apa yang ia terima selama ini. Hal itu lah yang membuatnya mengerti mengapa ia tidak pernah tahu siapa ayahnya. Baginya lelaki lebih hina di bandingkan ibunya.
Tanya yang ia simpan dalam gelembung sabun yang terbang bersama angin, kembali ingin di pecahkan. Ingin muntahkan tapi sulit sekali menyampaikannya.
“Seandainya kebahagianku begitu cepat berganti duka. Aku ingin seperti dulu saja, tidak tahu apa pun. Seperti gambaranku tentang ibu, ia akan tetap menjadi wanita suci tentunya”
Putri terus berlari meninggalkan dua sosok itu. Sementara cahaya di timur berangsur membuka pagi. Doa-doa orang bahagia membahana. Bersama air matanya yang luruh itu. Putri telah menghadapi derita dunia. Kedewasaan membuatnya mengerti akan kesulitan. Gelembung sabun yang menemaninya pecah satu-satu bergesekan dengan benda bumi yang di hampirinya. Setidaknya gelembung itu pernah berjaya walaupun akhirnya menghilang.

Duren Sawit, 10042008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar