Senin, 29 November 2010

Lihat, dengar dan rasakan --sheila on seven

Tak pernah dia jelang hidup yang inginkan

Kilau hari-hari dan birunya langit

Terhapus rasa indah, terpejam oleh lelah

Dalam lelahnya mata nikmat dunia menjelma

Sejenak dia berharap malam tanpa batas

Bunda selalu tanamkan jangan pernah meyerah

Jalani dan panjatkan, kelak syukur kau ucapkan


Pada diri Nya ku mohonkan

Mudahkan hidupnya, hiasi dengan belai-Mu

Sucikan tangan-tangan yang memegang erat harta

Terangi harinya dengan lembut mentari-Mu

Buka genggaman yang telah menjadi hak mereka

True Colors - Phil collins

True Colors - Phil collins


You with the sad eyes
Dont be discouraged til I realise
Its hard to take courage
In a world, full of people

You can lose sight of it
And the darkness, inside you makes you feel so small
But Ill see your true colors, shining through
I see your true colors, and thats why I love you

So dont be afraid, to let them show
Your true colors, true colors
Are beautiful, ooh like a rainbow
Show me a smile

Dont be unhappy cant remember when
I last saw you laughing
When this world makes you crazy
And youve taken all you can bear

Just call me up, cos you know Ill be there
And Ill see your true colors, shining through
I see your true colors, and thats why I love you
So dont be afraid, to let them show

Your true colors, true colors
Are beautiful, ooh like a rainbow
Such sad eyes
Take courage now, realise

When this world makes you crazy
And youve taken all you can bear
Just call me up, Because you know Ill be there
And Ill see your true colors, shining through

I see your true colors, and thats why I love you
So dont be afraid, to let them show
Your true colors, true colors
Are beautiful, ooh like a rainbow

Rabu, 13 Oktober 2010

Boleh Saja

Oleh : Ani Sudaryanti

lembaran itu tiba-tiba kuyuh
gembira masih bergumul
walaupun jujurku belum berlabuh.

ceritamu beringsut menjauh dari telinga hatiku
entah apa..
tapi pastinya aku sangat mengerti

percayakah kau,
aku satu-satunya yang mengerti
inginku membagi bebanku pada punggungmu
tapi...kau jauh.

aku tetap mengerti..
aku hanya menyimpan sifat bocahku pada mataku
maafkan...
aku ingat kamu, itu berarti bukan berubah menjauhkanmu.
nikmati saja kisahmu..

nanti, saat kau butuh punggungku...
tangismu boleh membasahi kerudungku.

sangat boleh

Jumat, 08 Oktober 2010

Fatamorgana

Jika debu itu penghalang, kurasa teramat mengganggu tapi membantu.

cukuplah aku yang mulai menarik-narik kebangkitan rasa tentang kesempurnaan. lebih tepatnya sebuah kata ideal. setiap personal akan menilai berbeda pada sebuah kesempurnaan. Baik sebuah bentuk, angan, harapan atau obsesi. Tergantung dari mana sudut pandang itu.

Namun, jika kita mabuk akan kesempurnaan itu. Sama saja kita terbuaikan fatamorgana, karena selain Allah, tidak ada apapun di bumi ini yang sempurna.

Lebih cepatnya kita menilai sesuatu, membuat kita kecewa pada saat waktu menegur kita bila menemui rumpang akan sesuatu.

Tapi, jika memang jiwa terbuai pada duniawi yang menghantarkan pada sebuah fatamorgana. Memintalah kekerdilan hati ini pada zat Maha Sempurna bahwa kita butuh pelita agar mudah menilai dari nurani yang bersih. tidak hanya sebuah kisah yang berbungkus keindahan luar. Mencegah kita tersandung pada fatamorgana yang kita bangun karena keangkuhan.

Memang kita butuh bicara untuk meninjau ulang apa yang kita rasa.

"Allah, mohonku akan sabar dan ikhlas dalam harap, bukan sekedar fatamorgana"

Duren Sawit, 08 oktober 2010

Senin, 19 April 2010

Sebuah harapan, sebuah usaha

Oleh : Ani Sudaryanti

Impian. Hampir semua orang punya, tentu sarat dengan alasan. Dan sebuah impian itu terbentuk dari pemikiran dan pengalaman hidup si empunya. Berharap menjadi idola, ingin popular, berhasil sepanjang jaman.

Impian itu bisa sederhana atau hebat, tergantung cara pandang kita. Impian adalah hak semua orang. Yang terpenting semua harus di tebus dengan kerja keras. Pada dasarnya manusia hidup ingin bahagia, banyak uang, punya jabatan –sebuah pengakuaan sosial--, kalau perlu, tidak harus bersusah payah untuk mencapai itu, tapi ya mana mungkin --ini beneran mimpi--. Biasanya sebuah impian itu meletus karena alasan seperti tadi. Intinya ingin bahagia.

Kepala manusia itu, diberi banyak kepintaran untuk berbuat. Sedangkan kesempatan, memberi kita banyak pilihan. Kita boleh diam saja memanjakan diri, menghabiskan waktu dengan membaca, belajar meningkatkan mutu diri, atau pergi keluar hadapi dunia untuk kerja keras.

Sebenarnya catatan ini muncul karena satu hal yang menggelitik hati saya. Sahabat-sahabat saya sedang berproses menggapai impiannya, yaitu sebuah kemapanan. Saya pun begitu. Seperti sebuah istilah banyak jalan menuju Roma, begitu pula mereka. Cara yang mereka tempuh saat ini adalah dengan mengikuti bisnis multi level marketing (MLM, red).

Salah satu sahabat saya telah gandrung dengan MLM yang produknya sebuah obat yang seperti katanya hasilnya sangat luar biasa, penyakit apapun bisa sembuh. Jadi menurut dia, mengikuti MLM ini tidak akan rugi. Karena kesehatan adalah aset. Saya setuju apa yang dia katakan –pernyataan dia kesehatan adalah aset--. Dan dia mulai mendorong saya untuk ikut jaringannya, dan tahu reaksi saya? Saya tidak bergitu tertarik. Entahlah hati saya belum berminat, saya katakan ‘belum’, jadi belum tahu nantinya.

Dia terus mendorong saya untuk ikut dengan nada ajakannya dengan penuh semangat. Tetap saja reaksi saya biasa saja. Mungkin, dia kecewa dari setiap jawaban saya. Pada kesempatan ini saya mohon maaf soal itu. Terus terang, semenjak dia terlibat MLM tersebut saya seperti kehilangan dia. Jika ada pembicaraan antara kami yang di utarakan pasti soal itu. Saya harap ini hanya perasaan saya saja.


Masih mengenai MLM dan sahabat saya. Sahabat saya yang lain, baru saja terlibat sebuah MLM. Berbeda dengan yang tadi, dia berkutat pada penjualan pulsa. Dan katanya dia sudah mempunyai 36 Unit usaha –saya tidak tahu nama jelas jaringannya--. Dia bilang dalam waktu sebulan keuntungannya bisa mencapai jutaan –saya tidak tahu pasti angkanya--. Yang satu ini menjalankan dengan santai, tidak mencoba menarik saya untuk berada di jaringannya, walaupun terlintas pernah. Tapi, dia tahu benar siapa saya. Jadi dia tidak terlalu memprospek saya.

Saya berpikir jika kedua sahabat ini saling memprospek, apa yang terjadi? Wah, saya menolak untuk menerka.

Yang membuat saya sangat salut sekali (3S) kepada mereka adalah optimis tinggi, semangat yang mencuat dan pasti harapan yang di penuhi kerja keras plus butuh perasaan yang kuat, dalam artian tidak mudah kecewa. Bayangkan kalau semua orang yang di prosepek sama seperti saya. Syukurnya orang macam saya ini langka ;)

Dalam tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa saya berterima kasih kepada mereka yang telah mengajarkan semangat meraih sebuah impian. Dan saya sangat menghargai mereka dengan caranya masing-masing. Sama halnya saya menghargai jerih payah seseorang yang berkerja dengan keringat, belajar di sekolah demi sebuah cita-cita, dan perlindungan seorang ibu terhadap anaknya.

Bukan suatu mimpi kosong jika teman saya itu menginginkan sebuah kapal pesiar, mobil atau jumlah angka di rekeningnya meningkat. Karena saya dan anda semua tidak pernah tahu masa depan. Saya percaya mereka bisa berhasil, bukan kerena jaringan bisnis mereka tapi kerja keras mereka untuk mengupayakannya. MLM adalah salah satu cara atau jalan menuju Roma, tapi tidak semua orang ingin pergi ke Roma? Mungkin ingin ke kota lain. Setiap orang punya impiannya masing2. Itu hanya pendapat pribadi saya.

Akhirnya, buat sabahat saya tercinta, terima kasih atas semangat, cinta kalian untuk mengajak saya sukses dan pengertian terbesar kalian atas diri saya. Semua orang ingin sukses dan menggapai impiannya. Kalau kalian bisa, saya pun bisa. Hanya saja mungkin berbeda wadah atau…mhmmm saya tidak mau mengatakannya di sini.

DS, 18 April 2010
Saat saya ingat mereka

Sabtu, 10 April 2010

Syair cinta kejujuranku

Bunda, aku di peluk rindu
Jejak hidupku merangkai rindu padanya. Tak ada habisnya. Yakinku, akan bersemayam dalam jiwaku, mendarah daging, hingga sepanjang usiaku. Aku akan selalu merindu padanya. Diruang hatiku, rindu itu tak akan pernah lekang. Syukurku kini dia masih disisiku.

Bunda, hatiku bersemayam takut.
Di setiap sedihnya, aku menyimpan ketakutan. Itu melemahkanku untuk berpikir positif. Dari aku bersamanya hingga kini, debaran jantungnya mengisaratkan harapan. Tapi usai waktu menanjak, semakin membuat takut menebal pada nafasku. Aku belum mampu juga mengentaskan inginnya, mengganti kerja kerasnya dengan satu senyum saja. Tetap saja dia akan mati-matian untuk mebuatku bahagia.

Bunda, aku ditemani cemas
Pada setiap detik sakitnya, pada saat itu juga cemasku tak mau beranjak pergi. Sakit adalah hal yang wajar bagi sebuah insan. Tetap saja, saat keluhnya yang tidak juga terucap –aku selalu bisa membaca dari wajahnya--. Aku begitu takut kehilangan dia. Jika waktu membuatnya ringkih, rasa cemas selalu saja menemani. Aku mau dia panjang umur dan selalu sehat.

Bunda, aku tertatih untuk bersyukur
Jika ku kenang ini, maka mataku semakin memanas. Kerasnya hidup tak membuatnya menelantarkan aku. Sambil menyeka keringat di dahinya, dia membuatku sejuk dalam pelukan cintanya. Dalam kondisi apapun. Jika senja hadir, hidangan mengeyangkan tersedia –kadang aku malas beranjak dari kamar hanya sekedar untuk makan--. Saat pagiku di penuhi dengan ketergesaan, dia mencari sebuah sarapan –yang jarang aku habiskan—


Bunda, aku terlena oleh nyanyian cinta
28 tahun yang lalu, dia tak pernah menyesal mengenalku. Diantara kebahagiannya, aku diagungkan sebagai penawar rasa getir hidupnya. Perjalanan hidupnya menjadi nyanyian cinta. Diam-diam sangat mengaguminya. Sangat...bahkan kalau aku bisa lahir di pangkuannya, aku pun ingin mati di pangkuannya.

Bunda, bolehkah..?
Dari waktu yang menyeret ku pada kedewasaan. Aku sangat ingin hidup selamanya dengannya. Sangat ingin, mengganti lelahnya, menyeka kesedihannya dan menemaninya dengan hadirku doaku hingga akhir jaman.

Bunda bolehkan?

Duren Sawit, 10 April 2010

Nyanyian Pasar

Oleh : Ani Sudaryanti

Gaduh di kepalaku. Ribuan suara menyerbu saat aku sampai di pasar. Jejeran lapak di sini, tidak teratur. Ku gelar terpal yang kemarin roboh tertiup angin. Pemiliknya mengganti yang baru. Tidak apa-apa walau barang bekas yang penting gratis. Sampai di pasar aku bernyanyi, di selingi siulan.Karena mulai saat ini ku suka bernyanyi.

Sambil mencuri dengar dari musik yang bergentayangan di pasar. Bayangkanlah, dalam satu area penjualan kaset dan VCD yang di lindungi terpal tambalan, di sana akan terdengar lagu berbagai aliran musik. Di kios bang Manjun, lagunya Peter pan. Bang Ridwan yang terpalnya baru roboh kemarin, sekarang menyetel lagu dangdut. Di sebelah sana, tempat penjualan kaset yang lebih bagus karena pemiliknya Engkoh Liem, memperdengarkan lagu barat yang aku tidak tahu artinya apa. Belum lagi lapak-lapak yang tidak ku kenal pemiliknya, membawa radio dengan lagu berbeda pula. Dengan volume besar, radio mereka bernyanyi bersama. Bisa kau bayangkan?

Tadinya aku membenci menyanyi, membuat lidahku kering. Nafasku bisa terengah-engah. Tapi lama-lama aku mulai menikmatinya. Dengan bernyanyi aku dapat bergurau dengan kehidupan. Gelap, sepi, gembira dan sedih, kau tetap bisa bernyanyi.

Pasar. Saat ku langkahkan kakiku ke sini, ada jutaan suara beradu dalam kepala untuk aku dengar. Sambil menunggu celana-celana yang ku tunggui, di jemur panas. Tidak ada yang laku. Bisa apa aku. Teriak-teriak?

“Ayo, bu, pak, celananya lima belas ribu dua, ayo-ayo” aku sudah berteriak, tetap saja tidak ada yang tertukar dengan rupiah. Aku berdiri di sini tidak sendiri, di sana mang Sarip yang baru pulang dari Bogor, juga berteriak-teriak. Seperti memaki. Siapa saja. Membolongkan telinga yang lewat.

Pasar ini memang sudah gaduh. Di tambah suaraku jadi tambah gaduh. Musik terus terniang-niang. Jadi bingung, mau nyanyi lagu apa. Dangdut, pop, karawitan apa campur sari. Bisaku ya nyanyi yang lagi ngetren, kekasih gelap.

Ah…aku lelah bernyanyi. Sekarang bergantian yang bernyanyi perutku. Lagunya keroncongan. Padahal aku paling benci keroncongan. Tidak nyaman. Perutku aktif sekali, terus bernyanyi. Sudah waktunya untuk bernyanyi barang kali.

-***-

“Ayo bayar-bayar, uang keamanan!” orang itu mengadahkan tangan. Teriak-teriak, meminta-minta. Mungkin perutnya sedang bernyanyi. Seperti perutku. Wah, asik sekali hanya dengan berteriak-teriak, lima ribu sampai tujuh ribu di tangannya yang mengadah.

“Cepat bayar!” kini dia teriak di telingaku. Pasar ini memang gaduh, tambah suaranya tambah gaduh. Dan perutku masih saja bernyanyi.

“Belom laku, bang!” ku mengadahkan kepala. Jualanku memang beralas terpal roboh yang ku jadikan tikar. Jadi, aku jongkok sambil berteriak. Dia –di hadapanku- memang seram, wajahnya garang, kulitnya hitam, dan perutnya besar. Mungkin karena dia cepat menjawab nyanyian perutnya dengan berteriak-teriak “Ayo bayar-bayar,” dan semua rupiah terkumpul dalam beberapa menit.

“Ah…bohong…cepat bayar,” perut besar itu yang sedang bernyanyi, memberiku kepalan besar. Tepat di hidungku. Belum menyentuhnya. Kepalaku bergerak kebelakang. Bisa aku bayangkan, kalau kepala itu menyentuh hidungku, wah tubuh mungilku ini tidak akan bisa bernyanyi ; kekasih gelap.

Ku raba kantong celana kumalku. Yang sudah dua hari tidak di cuci. Itu sih biasa bagiku. Kadang seminggu tidak juga ku cuci. Hemat sabun. Kadang, akumandi tidak pakai sabun. Setiap hari aku mandi. Tapi, pakai sabunnya seminggu sekali. Atau sesuai permintanya istriku. Yang selalu ngambek kalau badanku bau.

“Dua ribu doang, gimana?” aku menekan kata ‘gimana?’, maksudnya agar si perut besar itu berpikir dua kali untuk merampasnya. Mungkin dua ribu tidak berarti apa-apa baginya, jaman sekarang dua ribu bisa apa? Tapi bagiku lumayan. Wong, memang aku tidak punya selain dua ribu itu.

Nyatanya, dia langsung merampas. Mungkin karena dia tidak berpikir. Boro-boro berpikir dua kali. Sepertinya dia tidak bisa berpikir. Pikirku, pasti karena perutnya sedang bernyanyi jadi si perut besar tidak bisa berpikir, sama sepertiku. Keroncongan.

Setelah di tinggal si perut besar, pasar ini masih saja gaduh. Dengan nyanyian-nyanyian itu. Aku tidak lagi menikmati. Setelah dua ribuku hilang. Mungkin dua ribu itu bisa buat beli roti kering yang harganya lima ratus dan air mineral yang harganya juga lima ratus. Sisanya, aku simpan untuk besok kalau perutku bernyanyi lagi. Tapi, itu Cuma hayalan. Memang kerjaku selain berteriak-teriak, aku juga suka menghayal.

-***-

Di tengah sisa-sisa tenagaku, dengan udara yang malas ku hela. Ku coba menenangkan raungan perutku. Sekarang perutku tidak lagi bernyanyi tapi meraung.

“Bang, celananya berapa?” harapan untuk dapat roti kering muncul. Ibu dengan menenteng anaknya yang baru pulang sekolah –bajunya merah putih— sepertinya tertarik dengan celana yang ku jual. Celana pendek selutut dengan karet di pinggang.

“Lima belas ribu dua, bu” jelasku. Padahal aku telah menaruh tulisan ‘15000 dapat dua’ tapi ibu itu masih saja bertanya.

“Kalau satu?” tanyanya lagi padaku yang sedang menahan raungan perutku. Aku berpikir sejenak. Sama seperti si perut besar tadi, karena perutku meraung, aku jadi tidak bisa berpikir.

“Sepuluh ribu, tidak mahal” ibu itu terus mengaduk-aduk daganganku. Di lempar ke kiri, ke kanan, kadang merogoh bagian bawah dari tumpukan. Aku hanya bisa pasrah dengan tingkahnya.

“Gimana sih, katanya lima belas ribu dua, kok, sepuluh ribu. Seharusnya tujuh ribu lima ratus” cerocosnya. Mengajariku berhitung. Memaksaku berpikir. Padahal aku sedang tidak bisa berpikir.

“Kalau beli dua baru lima belas ribu, tapi ibu kan minta satu” gugatku. Ibu itu lalu menenteng anaknya berlalu setelah mengaduk-aduk celana-celana ini. Sungguh nasib. Perutku meraung kencang. Memaksaku memanggilnya. Pasar ini memang sudah gadung, berteriak-teriak memanggilnya malah tambah gaduh.

­-***-

Uang di tanganku. Hayalanku berubah. Tidak sebatas roti kering dan air mineral. Nasi bungkus yang harganya lima ribu. Cukup menghentikan nyanyian perutku. Lama-lama aku jadi terbiasa dengan nyanyian keroncong. Seperti lagu-lagu yang beradu di otakku. Aku menjadi suka menyanyi ; kekasih gelap.

Uang itu ku masukkan ke dalam saku celanaku. Aku harus bergegas ke warung makan mpok Pia, telor gorengnya enak. Sama seperti istriku kalau memasak.

“Bang, minta uang!” sebuah tangan menjulur seenaknya di mukakku. Dia, wanita yang baru ku puji, masakannya enak. Istriku. Dengan daster seadanya, mengadahkan tangan.

“Buat apa sih neng?” aku mengajukan pertanyaan bodoh. Untung dia tidak berteriak “Ya, buat makan, gimana sih?” karena ku tahu dari semalam dia belum makan.Saat ini, aku tidak bisa berpikir. Kepalaku terkontaminasi rasa di perutku.

“Uuuh, aku lapar!” teriaknya gemas. Sedikit manja. Seharusnya aku mengerti dengan rasa laparnya. Bukankah, tadi pagi telah ku janjikan kenyang padanya. Telor goreng, cukup.

Cukup lama aku menimbang. Wanita yang statusnya istriku, cerocos sejadi-jadinya. Pasar ini sudah gaduh, dia cerocos malah tambah gaduh. Lagu di lapak bernyanyi ; kekasih gelap.

Mau apa lagi, ku berikan lima ribu padanya. Sisanya dua ribu lima ratus. Aku jadi enggan makan roti kering dan minum air mineral. Aku sudah terlanjur menghayalkan nasi bungkus mpok Pia ditambah telor goreng. Pasti enak.

-***-

Seharusnya aku terbiasa dengan rasa ini. Dulu waktu aku kecil, aku suka mencari kiloan plastik yang aku tukar dengan uang. Untuk emak, makan, dan sekolah. Aku tidak tamat, hanya kelas tiga. Tapi, aku bisa berhitung kalau lima belas ribu di bagi dua hasilnya tujuh ribu lima ratus.

Di sekolahku di ajarkan bernyanyi pula. Ibu guru yang selalu tersenyum itu, menyuruhku menghapalkan sebait-sebait lagu. Yang harus aku dan teman-temanku bernyanyi keras-keras. Awalnya, aku tidak tahu manfaatnya mengapa harus bernyanyi keras-keras. Saat ini aku tahu, bernyanyi keras untuk menyamarkan nyanyian dalam perut. Yang berisi keroncongan.

Istiku sudah pergi, aku menatapnya dari kejauhan. Tubuhnya di ombang ambing orang yang lalu lalang, lalu tenggelam di dalamnya. Hilang. Nyanyian lapak berganti tidak lagi kekasih gelap. Aku bernyanyi saja lah, walau tadi aku tidak bisa bernyanyi. Dengan bernyanyi aku bisa menjadi lupa dengan nyanyian perutku.

Kata Emakku, orang lapar bisa hilap. Tapi menurutku, orang lapar bisa bernyanyi, sama halnya orang kenyang bisa mendengkur. Orang kaya bisa memaki orang miskin. Orang miskin menyumpah orang kaya. Orang jahat menindas. Orang miskin merana. Sedangkan aku mengharapkan makanan. Aku bernyanyi saja lah. Bersama suara artis yang gratis ku dengar. Nikmati kegaduhan ini. Memang pasar ini sudah gaduh.

-***-

Hampir sore. Daganganku tidak berubah, hanya kurang satu. Uangnya dua ribu lima ratus.Sisa uang yang di ambil istriku tadi.

“Copet…copet…” pasar ini memang gaduh. Tambah teriak-teriakkan ‘copet-copet’ tambah gaduh. Dua orang, tiga, empat, lima dan bertambah lagi. Di setiap tikungan pasar yang berlari bertambah. Seperti iring-iringan maraton yang di resmikan pak lurah. Waktu tujuh belasan kemarin. Yang pemenangnya mendapatkan sepeda. Aku hanya dapat kaus yang sekarang ku pakai. Baunya sudah tidak enak. Apalagi di ketiaknya.

“Awas…” para pelari itu berhadapan denganku. Di sini aku masih jongkok, daganganku di gelar begitu saja. Beralas terpal yang kemarin roboh.

“Bukk…” sang pecopet di depanku. Menabrak, membuatku tersungkur karena sejak dia mau lewat dengan berlari, aku bangun dari jongkok. Aku tidak ada tenaga. Dia berlari sekuat tenaga. Dengan sekuat tenaga berarti dia tidak sedang lapar. Perutnya tidak bernyanyi. Dia lewat tanpa permisi. Menyisakan sebal dalam diriku.

Aku masih tersungkur waktu sepuluh orang atau lebih mengejar sang ‘copet’. Ada yang meloncati daganganku, menginjaknya, menendangnya, dan tulisan ‘lima belas ribu dapat dua’ melayang tersungkur sama sepertiku. Namun, nasibnya sial. Tulisan yang aku pelajari di kelas tiga itu terus terinjak-injak. Di tendang oleh orang terakhir. Dan berakhir di genangan air kotor. Ihhh, aku bergidik.

Orang yang di teriaki ‘copet’ itu berlari terus. Hilang diantara muka-muka lapar sepertiku. Melongo.

Nyanyian masih membahana. Merobek sore. Bertambah gaduh. Aku merana.

“Daganganku…” aku mengumpulkan menjadi satu. Ada yang kotor bagian belakang, tengahnya dan ada yang benar-benar kotor. Yang bersih saja tidak laku, apa lagi yang kotor.

Terbayang sudah wajah istriku yang menggemaskan. Celana-celana ini akan ku bawa pulang, memintanya untuk mencucinya. Siapa tahu masih bisa laku. Pasti dia ngambek lagi, aku tidak membawa uang. Malah bawa kerjaan. Kemarin, waktu hari minggu dia minta lipstik dan bedak katanya biar cantik. Menurutku tanpa semua itu dia memang sudah cantik. Aku menikahinya memang karena dia cantik. Seharusnya tanpa lipstik di bibirnya dia sudah menawan. Dulu, aku berpikir dengan memiliki istri cantik maka akan menghemat uang untuk beli bedak.

Dia terus merayu dengan manja. Ku katakan, “Iya nanti, kalau dagangan abang laku”. Baginya itu adalah janji. Sayangnya aku memberikan kecewa yang dalam untuknya.

Ku kumpulkan daganganku dalam sebuah karung. Tapi, aku menemukan sesuatu dalam tumpukan daganganku. Kau tahu apa? Sebuah dompet hitam. Hampir senada dengan warna celanaku, jadi aku tidak tahu kapan dompet ini mampir ke daganganku. Sungguh, ini bukan miliku. Aku hanya punya dua ribu lima ratus.

Menurutku, pencopetdan yang mengejarnya itu lewat, dia menjatuhkann dompet ini.Aku penasaran, apa sih isinya. Ku intip saja. Wow, ada lima lembar lima puluh ribuan. Sebuah foto, KTP, SIM dan tiket yang di lipat menjadi dua. Aku membaca terbata, tiket konser. Aku berpikir sebentar. Emmh, tiket konser, berarti pertunjukan menyanyi. Wah, mahal sekali harganya. Cukup untuk dua kali bayar kontrakan bang Haji.

Padahal kalau untuk mendengar orang bernyanyi, di pasar pun bisa. Gratis. Asal punya telinga yang lubangnya besar.

Mau ku apakan dompet ini. Kalau ku lihat isinya, dompet ini bisa untuk membeli celana-celana yang ku jual ini dan terlanjur kotor karena terinjak-injak. Iya, dompet ini di jatuhkan pencopet atau yang mengejarnya. Ku pikir ini sebagai ganti rugi daganganku. Mereka baik sekali. Kalau begitu, ku bawa pulang saja. Dan aku berjalan menuju kontrakanku dengan bernyanyi.

Duren Sawit, November 2007

Rabu, 07 April 2010

Cuma cerita hati

Kehidupan seolah berrotasi berganti arah. Datang dan pergi adalah hak pasti sebuah kehidupan pada habitat yang dinamakan dunia.

Kalau memang daun harus lepas dari tangkainya, biarkan saja. Kalau ada anak ayam pergi meninggalkan induknya, sudah selayaknya.

Tapi….bagaimana dengan aku? berita itu sepertinya mengacaukan susunan syaraf dalam otakku untuk berpikir logis. Mau di bilang berat, tidak juga. Tapi, bisa membuat hatiku mendadak melankolis.

Kehilangan...

Harus siap! harus yakin semua akan baik-baik saja. Aku harus mampu menghadapi sebuah kepergian. Toh, kepergian itu semata untuk menjemput kebahagiaan.

Pada saat aku berpikir bahwa akan berat nantinya, terselip optimis dalam diriku. Ku tumpuk semua semangat positif. Kelak, akupun akan menjemput sebuah harapan yang aku telah semai diam-diam.

“Hanya masalah waktu saja!”

Memang benar, Cuma masalah waktu. Sekarang bagimana hatiku ini --yang sebenarnya rapuh—benar-benar mampu meyakininya. Anggaplah ini sebagai terapi penghangat mata yang memanas menahat air yang hampir luruh –kuyakini ini sebagai rasa haru bukan ketakutan akan kesendirian—

Hatiku masih meraba-raba. Bagaimanakah cara dia untuk kompromi dengan keadaan. Apalagi ini adalah sebuah keniscayaan.


Duren Sawit, 08 April 2010

Senin, 05 April 2010

Lelah berarti, berarti lelah

Lelah berarti, berarti lelah


Aku merindu menikmati waktu yang membuatku lelah, saat lelah yang akhirnya menjadi mengasikkan, lelah yang ku keluhkan waktu itu. Masa yang telah lewat, setahun lalu, sebulan lalu, seminggu lalu atau sehari yang lalu.

Aku lelah saat kepalaku pening memikirkan seseorang --karena saat itu cemasku tak kunjung pergi--, lelah menyelesaikan banyak tugas, lelah bagaimana meningkatkan kualitas diri, lelah karena menghabiskan waktu untuk bermain dan lelah dari hanya sekedar menonton televisi –bagiku menonton pun yang pada dasarnya hiburan tetap saja akan melelahkan--. Tapi, ternyata lelah-lelah itu ku rindukan. Karna dari berbagai kelelahan itu, aku merasakan sesuatu dari itu. Cemas hadir, gembira muncul, marah lewat, sedih berlalu dan saat perenungan kini syukurku membanjiri setiap bilik hatiku.

Semakin waktu yang terlewat satu hal yang mengalami degredasi parah yaitu kemesraanku dengan Allah, kemajuanku dalam pertambahan ilmu, dan kedewasaan dalam berfikir yang juga tidak matang. Aku ini memang tak pernah memadai soal itu.
Sudahkah aku berlelah-lelah untuk itu? atau kelelahanku selama ini hanyalah sebuah kelelahan dalam arti sebenarnya.

Saat aku menyadari banyak waktu yang terlewat, di kepalaku seperti tertanam sebuah klakson yang diam-diam mengagetkan…
Ya Allah, jutaan detik telah ku lewati, dan ngeri rasanya jika suatu saat aku menghadapMU, apa yang harus aku bicarakan padaMu.

Seharusnya ada hasil dari rutinitas kelelahan kita selama ini. Aku pun belum tahu apa?

Duren Sawit, 6 April 2010

Jumat, 02 April 2010

Gelembung Malam

Oleh : Ani Sudaryanti


Saat bus itu melaju, pohon-pohon saling berkejaran menyapa. Ada untaian selamat jalan pada setiap dahan yang menjulur. Kesedihan yang belum sepenuhnya di mengerti oleh putri. Sebagian dari dirinya telah pergi. Kematian adalah hal lumrah dalam kehidupan. Dan perpisahan adalah kata pasti di jagad bumi.
“Kamu akan tinggal dengan ibu. Jangan menangis” rambut panjang ibu yang terurai berterbangan menyeka air mata. Senyuman dingin yang selama ini di rindukan bagaikan peti es yang memendam rasa lelah.
“Lalu nenek?”
“Nenek pergi, kita sekarang hanya berdua. Tugas nenek menjagamu sudah selesai sekarang ibu lah yang akan menjagamu.”
Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran gadis sepuluh tahun itu. Dia belum percaya benar dengan janji itu. Karena selama ini tidak ada belaian ketenangan di punggungnya. Bersama angin dan siluet pepohonan di kejauhan, air matanya tiba-tiba membeku. Kerinduan apa lagi setelah ini? Pasti sosok nenek, sawah dan bau pegunungan yang membuat kaki-kaki kecilnya kuat melangkah tanpa alas.
Di luar sana, ada imajinasi yang menari-nari tentang apa yang akan terjadi. Sejauh ini, dongeng tentang tentara di balik gunung adalah cerita yang membuatnya bercita-cita. Berharap suatu nanti dia mampu melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik sana. Sedangkan tentang ibu, hanya sebuah cerita yang di kemas apik oleh neneknya. Bahwa kepergian ibu dari sisinya memiliki alasan kerena demi kelanjutan hidup, seperti pahlawan tanpa bayangan.
Saat rindu yang menyekapnya dalam keheningan malam, putri akan menangis di balik pintu. Melepas segala pedih. Lantas, satu pelukan tua menghangatkan dadanya. Menyerap ke setiap rusuk-rusuk kecilnya. Betapa indah rasa itu.
“Cobalah membuat gelembung-gelembung sabun. Setiap bola-bola air yang membumbung di udara, maka akan ada pesan yang di sampaikan pada ibu”
Putri mendongakkan wajahnya ke langit. Mata bulatnya menatap kehitaman yang berhias banyak cahaya. Matanya berkejap-kerjab dan dia mulai berdoa. Maka dari mulutnya akan ada tiupan kecil yang memunculkan ribuan gelembung-gelembung yang memenuhi malam.
Membuat gelembung hanyalah solusi yang di berikan neneknya. Saat gadis seusianya di penuhi canda ayah dan ibu, putri di penuhi ribuan tanda tanya. Mengapa hingga kini dirinya masih dikukung oleh kesepian. Bahkan, hingga kini dirinya tidak pernah tahu siapa ayahnya.
Kasih sayang tua milik nenek telah di makan kesepuhan. Maka tidak ada pilihan baginya untuk melanjutkan hidup bersama ibu. Ia tidak menyesali itu, tapi setelah dapat bersama ibu, dia kehilangan neneknya. Apakah harus ada yang hilang untuk mendapatkan yang baru. Satu catatan kecilnya, ia meringkas bagaimana ibu begitu ragu untuk mengajaknya untuk tinggal bersamanya. Dia belum mengerti dengan yang di rasakannya. Apakah benar atau tidak.

-***-

Bau farfum memenuhi ruangan. Beberapa baju bertebaran di atas ranjang. Ada aktivitas yang selalu di lakukan ibu. Setiap senja. Ibu akan merubah dirinya bak peri. Gincu berwarna terang, bedak tebal dan bau-bau asing yang menyengat syaraf penciuman putri. Sebagai putri kecil, ia belum mampu mempertanyakan apa yang terjadi pada ibunya. Yang dia tahu hanyanya makanan terbaik, pakaian, dan tercatat sebagai siswa di suatu sekolah. Hidupnya bisa di bilang layak. Dia tidak pernah tahu bagaimana dan dimana ibu mendapatkan semua itu.
Pada setiap malam saat ibunya pergi, kala itu pula Putri menunggu bintang utara bercerita betapa ramainya angkasa. Cahaya berkelap-kelip mengajak matanya berdansa. Kembali ia meniupkan gelembung-gelembung. Di balik jendela sederhana, pentas cahaya bintang mengajaknya berbicara. Dengan gelembung itu dia berharap dapat menyampaikan pesan pada angkasa. Bukan lagi pesan untuk ibunya.
Pesan yang berisi tentang impian dan segala gemuruh yang dia tiupkan masuk ke dalam gelembung-gelembung sabun yang pernah terbawa angin. Dan yang di ketahui pasti olehnya, gelembung itu pecah sebelum mencapai angkasa.
“Mulut ibumu itu beracun!”
“Dia hanya kupu-kupu pembawa penyakit”
“Dasar anak haram!”
Di habiskanlah hidupnya dengan sesegala caci pada setiap ujung gang rumahnya. Berteman dan memiliki teman adalah hal yang mahal. Dia menikmati hidupnya dengan kesendirian. Kesepian.
Kian hari, Putri membaca segala kelelahan ibu pada setiap pagi. Pada sepatu hak tinggi yang bergelantung di pojok ranjang, deru nafas penderitaan ibu, bau baju ibu yang semakin membuatnya muak dan juga tanya yang dia kumpulkan dalam benaknya. Dia masih belum mampu melempar pertanyaan-pertanyaan itu. Termasuk dimana dan siapa ayahnya.
Saat ibunya masih sibuk meninggalkannya di kesepian malam, Putri melakukan hal yang sama. Dia pergi meninggalkan rumah, lalu duduk terdiam di sebuah taman sampai menjelang ibunya pulang. Tanpa sepengetahuan ibu tentunya.
Alam luas yang membentangkan langit tanpa batas. Dengan udara dan angin malam yang menyentuh kulitnya. Menemani keremajaan yang berkembang. Cantik dan lugu. Ia masih saja memainkan gelembung sabun. Selalu di malam hari, di dalam taman.
“Indah, ringan dan jika terkena lampu mereka seperi kunang-kunang,” sesosok pria memecah segala khayal yang terbang bersama gelembung. Putri coba untuk mengabaikannya. Selama ini sudah banyak pendapat orang lain yang di abaikannya, apalagi caci tentang ibu.
“Hai bidadari mengapa sendiri?” tanya pria berjaket hitam. Cahaya purnama dan lampu taman membuat wajahnya jelas terlihat. Putri melihatnya sejenak. Pesona pria itu mampu menarik bibirnya tersenyum. Satu senyuman hangat.
“Aku?”
“Ya, kau bidadari mengapa sendiri?” dia mengulang memanggil Putri dengan sebutan bidadari.
“Aku putri dan kau siapa?” ada kehangatan yang jelas berbeda. Seakan membuka pintu baru di kamar hatinya.
“Oh, putri selayaknya seorang Putri mengapa setiap malam hanya kau habiskan dengan bermain bola-bola sabun. Kau bukan putri kecil lagi” sederet kata-kata yang merubah raut wajah putri menjadi muram. Memang ia bukan lagi putri kecil tapi hanya satu kegiatan itu lah yang mampu menyeretnya ke dalam harapan. Toh selama ini tidak terpikir tentang masa depan.
“Hai, jangan marah. Bisa kita berteman?” dengan ragu Putri mengangkat wajanya. Pandangannya terperangkap dalam mata pria itu. Ada sesuatu dalam dadanya yang tiba-tiba bergejolak.
“Baiklah kita berteman?” katanya setuju. Ini adalah pertama mereka bersama menjadi dua makhluk di kehidupan taman. Di tengah rimbunan pohon. Di tengah malam.
Berlanjutlah pertemuan-pertemuan selanjutnya. Siang terasa lama karena senja yang ditunggunya. Sementara ibunya sibuk dengan urusannya, putri sedang menikmati rasanya menjadi dewasa. Kedewasaan yang baru di sadarinya setelah bertemu dengan pria itu. Gelembung sabun yang menemaninya mengusir kesepian, sudah di tinggalkannya. Kesepian telah hilang berganti dengan tawa dan cahaya.
“Aku akan menunjukan suatu tempat”
“Oh ya, apa?” mata Putri berkejap-kerjap. Seperti bintang-bintang yang bergantian berkelip.
“Tempat bahagia. Tempat tidak ada lagi kesepian. Tapi kau harus merahasiakan ini pada siapa pun” sejenak Putri merenung. Terlalu bodohkan dirinya, hingga dia tidak mempu menterjemahkan kata-kata ‘tempat bahagia’.
Janji itu di simpan Putri. Menjadi bahan bakar baginya untuk terus mempertahankan rasa bahagia ini. Dimanakah tempat bahagia. Sebenarnya dia sudah cukup merasa bahagia. Tidak ada lagi rasa kesepian. Hilang bersama hadirnya pria itu.

-***-
Usai kamar-kamar hati Putri di isi dengan sosok baru. Tiba-tiba kehilangan menyergap. Di taman yang sama dekat pohon akasia dan di kelilingi celoteh binatang malam. Dia tidak datang. Pria yang telah mengajak menari angannya tidak muncul. Sambil terus berharap Putri mencoba untuk menunggu. Kecemasan yang menemaninya semakin meninggi volumenya. Saat hampir fajar yang mewarnai langit timur, dimana ibu akan kembali ke rumah mereka yang kecil. Putri melangkah dengan gontai meninggalkan taman. Separuhnya jiwanya masih mencari sosok itu. Berharap ada panggilan namanya, dan janji untuk terus bersama.
Putri memang terbiasa dengan kecewa. Tapi mengapa kecewa kali ini begitu menghancurkan dirinya. Dua sosok bayangan yang menyilet hatinya hingga berdarah. Tepat di depan rumahnya. Ibu Tepat di depan rumahnya. Ibu gelayut manja di pundak kekar lelakinya. Yaitu pria yang sama di taman. Pria yang mengangkat kodrat kewanitaannya, sebagai wanita dewasa. Saat ia menyadari bahwa ia memang dewasa.
Terlalu pedih rasanya. Segala caci di sepanjang penghuni gang kembali terniang di cuping hatinya. Tapi haruskan dia menjadi bagian dari mereka. Terlalu kejam setelah apa yang ia terima selama ini. Hal itu lah yang membuatnya mengerti mengapa ia tidak pernah tahu siapa ayahnya. Baginya lelaki lebih hina di bandingkan ibunya.
Tanya yang ia simpan dalam gelembung sabun yang terbang bersama angin, kembali ingin di pecahkan. Ingin muntahkan tapi sulit sekali menyampaikannya.
“Seandainya kebahagianku begitu cepat berganti duka. Aku ingin seperti dulu saja, tidak tahu apa pun. Seperti gambaranku tentang ibu, ia akan tetap menjadi wanita suci tentunya”
Putri terus berlari meninggalkan dua sosok itu. Sementara cahaya di timur berangsur membuka pagi. Doa-doa orang bahagia membahana. Bersama air matanya yang luruh itu. Putri telah menghadapi derita dunia. Kedewasaan membuatnya mengerti akan kesulitan. Gelembung sabun yang menemaninya pecah satu-satu bergesekan dengan benda bumi yang di hampirinya. Setidaknya gelembung itu pernah berjaya walaupun akhirnya menghilang.

Duren Sawit, 10042008