Kamis, 04 Agustus 2016

Leonel Messi dan Tim Work


Oleh : Ani Sudaryanti

Leonel Messi mengumumkan keputusannya untuk tidak lagi memperkuat tim nasional Argentina. Mengapa? Usia Leonel Messi masih 29 tahun, untuk perperan sebagai pemain profesional masih bisa mencapai 5 atau bahkan 7 tahun kedepan. Kemungkinan untuk berprestasi sangat besar.

"Timnas bukan untuk saya. Bagi saya, timnas sudah berakhir. Saya sudah lakukan semampu saya, menyakitkan tidak menjadi juara" kata Leonel Messi pada satu kesempatan.  Puncaknya pada turnamen Copa America 2016 yang tidak juga mempu berjaya. Coba bayangkan bagaimana perasaan Messi yang sangat mencintai negerinya, tapi harus hengkang gara-gara tidak mampu menghadiahkan kemenangan.

Jika dilihat prestasinya, Messi adalah pemain yang mampu membawa FC Barcelona meraih delapan gelar juara La Liga dan empat piala Liga Champions. Bahkan, dia terpilih sebagai pemain terbaik dunia dengan meraih penghargaan Ballon d'Or sebanyak lima kali. Lantas, mengapa Messi merasa lumpuh saat di timnas Argentina. Bahkan, Messi menjadi bulan-bulanan bully dikarenakan tidak mampu membawa Argentina menjadi juara.

Messi, Argentina dan Barcelona

Tidak ada yang berani meragukan kemampuan Messi dalam bermain bola. Bukan hanya diakui di Argentina atau Spanyol tapi nama Messi sudah mendunia gara-gara sepak bola. Tapi pertanyaan besarnya adalah mengapa jika di Barcelona Messi adalah dewa, justru di Argentina tempat dimana Messi lahir tidak mampu untuk mengangkat namanya sama jayanya saat di Spanyol.

Banyak yang menyalahkan Messi dengan keadaan yang dialami oleh Argentina. Hingga, saat Messi "Frustasi" dan menyatakan gantung sepatu di timnas. Reaksi yang muncul setelah itu terjadi berragam pula.  Pro dan kontra. Hal yang biasa pada sebuah tindakan orang-orang besar. Dan cukup banyak yang mencoba untuk membuat Messi mengurungkan niatnya. Mungkin juga orang-orang yang tidak puas sebelumnya dengan Messi.

Jika ingin menggali lebih jauh antara Messi, Argentina dan Barcelona, mungkin para pakar atau pengamat sepakbola lebih bisa menggali lebih dalam. Tapi apapun itu bahasannya, tidak semua bisa mewakili kejadian yang terjadi secara utuh.

Tapi jangan pernah lupakan bahwa sepakbola adalah kerja tim. Jika hanya fokus terhadap Messi maka itu adalah salah besar. Barcelona dan Argentina terdiri dari orang-orang yang berbeda, dan Messi berada di dua tim tersebut. Tentu saja hasilnya akan berbeda. Banyak faktor yang menyebabkan kemenangan. Salah satunya adalah Tim.

Messi dan Tim Work

Dalam satu tim percuma jika hanya ada satu orang hebat atau banyak orang hebat tapi tidak berkaloborasi. Masing-masing sibuk dengan kehebatannya. Sebenarnya untuk orang hebat butuh orang lemah, karena untuk dikatakan superior dibutuhkan inferior. Jika kumpulan superiorpun belum tentu menghasilkan tim superior. Karena kemungkinan teriakan superior lebih kuat.

Ulasan ini tidak mengatakan bahwa Messi tidak mampu menjalankan posisinya di sebuah tim. Karena, Messi berada di dua tim dengan kondisi yang berbeda. Tantangan bagi kumpulan superior adalah penundukan ego dan mau mendengar. Tidak semua pendapat dan keputusan mampu diterima. Dan kolaborasi kemampuan dari semua superior adalah penting. Percuma jika kelebihan-kelebihan tersebut justru berbenturan dilapangan. Begitu pula dengan tim yang paduan antara superior dan inferior, bukan tidak mungkin justru tim bisa melesat karena penghargaan dari masing-masing individunya.

Yang menjadi tantangannya, bagaimana seorang superior seperti Messi atau seorang inferior tetap mampu menerbangkan sebuah kinerja tim. Kita Messi atau bukan, tidaklah penting. Yang penting adalah kolaborasi. Jangan sampai sang superior terbang tinggi, sang inferior merangkak tersesat.

Duren Sawit, 04 Agustus 2016
Dari Inferior. Saat ruang diskusi sudah sempit, saat waktu sudah semakin limit.


Minggu, 08 Mei 2016

Apa Warna Rindumu?





Oleh : Ani Sudaryanti
 
Jika divisualisasikan sebuah kata rindu, bisa saja diwakilkan pada warna-warna. Dia bisa kelabu, terang atau lembut. Rindu adalah dari sebuah rasa dari banyak rasa yang ciptakan Tuhan dalam kehidupan manusia berinteraksi atau berekspresi.

Jika ada pertanyaan, apa warna rindumu? Itu sama sekali tergantung dari pristiwa yang melatarinya. Rindu bisa tercipta dari jejak-jejak masa lalu atau bisa juga sketsa masa depan yang menjadi harapan. Dalam salah satu bukunya, Salim A. Fillah menuliskan bahwa Allah senantiasa memberikan kepada kita dua sisi mata uang; apa-apa yang kita sukai dan apa-apa yang menjerihkan hati. Disitulah makna kerinduan. Kalau dunia berisikan segala yang kita inginkan, mungkin kita tak perlu memiliki rasa rindu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rindu berarti sangat ingin atau berharap benar terhadap sesuatu. Mungkin bisa disimpulkan rindu adalah perjuangan. Sebuah rasa yang tidak diundang. Dia muncul dari bagian imajinasi yang bergumul dari pemikiran seseorang. Rindu juga dapat menjadi benang penghubung dengan sebuah mimpi. Motivasi. Tangga gambaran tentang masa depan.

Kisah Rindu Syahdu

Membekas sekali dari sebuah perjalanan hijrah Rasulullah dan para sahabat, mereka diperintahkan berpidah dari Mekah ke Madinah. Sebuah perjalanan yang tidak mudah, tidak ada gambaran tentang Madinah. Dan Mekah adalah tempat segala-galanya yang telah mereka miliki. Bahkan sekelas Abu Bakar dan Bilal tetap saja menggulirkan kerinduan mereka terhadap Mekah. Rindu Rumah. Dalam keadaan demam Abu Bakar pun bersyair :

Kala Pagi. Setiap orang bisa berkumpul dengan keluarga. Namun kematian lebih dekat dari tali terompahnya!

Kisah lainnya, tentang perceraian antara Abdurrahman anaknya Abu Bakar dengan istrinya, Atikah. Mereka bercerai bukan karena ada permasalahan dalam rumah tangganya, bahkan terlalu sempurna. Terlalu besar besar cinta diantara mereka. Dan saat Abu Bakar memerintahkan untuk menceraikannya, Abdurrahman menurutinya. Ini terjadi karena cinta Abdurrahman terhadap Atikah telah melalaikan jihad dan ibadah. Cinta yang dihadirkan dikhawatirkan mengalahkan cintanya terhadap Allah. Dan itu luar biasa.

Keadaan tersebut, melahirkan rintihan rindu dari seorang Abdurrahman bin Abu Bakar. Sesuatu hal yang manusiawi. Hingga pada akhirnya mereka rujuk kembali. Lain halnya dengan Buya Hamka semenjak ditinggal meninggal istrinya. Beliau, jika dilanda rindu maka akan sholat taubat 2 rokaat dan membaca Al Qur’an hingga lelah. Dan ketika ditanya mengapa harus sholat tobat? Karena takut kecintaannya terhadap istrinya lebih besar dibandingkan cintanya kepada Allah. Masya Allah. Sebuah rindu yang coba disekam adalah perjuangan.

Rindu dan Kesempatan

Berjalannya detik sedetik waktu entah lambat, entah cepat meninggalkan adalah pasti. Meninggalkan masa lalu. Rindu pada masa kecil, pada sahabat-sahabat pergerakan dalam kebaikan, teman berbagi cerita dan kemanjaan orang tua. Situasi rindu yang tidak jarang kita rasai. Masa-masa perjuangan, walaupun kadang disela oleh tangis pedih. Maka saat kita dilingkari oleh orang-orang baik, orang-orang yang sholeh, sebenarnya itu rejeki. Itu adalah kesempatan yang harus kita syukuri. 

Rindu pada sebuah perubahan kebaikan, rindu pada ketenangan, rindu tentang peradaban islam dan rindu tentang kejayaan kebaikan adalah hal-hal yang kita harap untuk terjadi dimasa depan. Itu adalah tangga atau bahan bakar kita untuk dapat mengusahakannya. Karena itu tidak mudah, usaha-usaha yang butuh keringat yang dibungkus oleh keimanan. 

Dan mungkin yang paling menyesakan jika kita bayangkan sebuah kata rindu adalah amal sholeh yang kita ingat saat di alam kubur, kebaikan yang tiada dapat terbilang besar saat diakhirat. Rindu untuk kembali ke dunia. Bertekad melakukan seluruh kebaikan. Dan saat itu, rindu sudah tidak berdampak apa-apa. 

Dan jika rindu masih pada sebuah lingkaran dunia. Mari kita sikapi dengan anggun, menikmati rindu sebagai karunia, menyikapi dengan bijak dan membungkus rasa rindu pada kotak hati terdalam. Sampaikan rindumu dalam ranah yang baik, titipkan doa terbaik dari Sang Pemilik rindu.

Saatnya menghargai semua yang kita miliki sekarang, suatu saat nanti kemungkinan kita akan merindui kesempatan ini.

Selamat Merindu

DS, 08 Mei 2016
Long weekend.




Kamis, 25 Juni 2015

Cahaya Hati, Lentera Amanah.


Seorang wanita mulia mendapatkan pesan dari suaminya, ia mendapatkan 30.000 dinar, untuk ia simpan dan pergunakan sebagai mana mestinya. Usai itu, suaminya pergi ke medan jihad hingga tidak kembali beberapa lama.

Amanah padanya tidak hanya dinar tersebut, tapi jabang bayi yang bersemayam di rahimnya. Untuk jangka waktu yang lama, sang penitip amanah tidak juga kembali. Tanggung jawab itu, dia emban dengan baik. Diasuh dan didiknya putra semata wayangnya. Dilihat potensi sang belahan jiwa, dia titipkan pada banyak alim ulama. Mimpinya menjadikan putranya menguasai ilmu kebaikan. Kerena, keshalihan putranya tersebut adalah investasi terbaik baginya.

Sepanjang waktu yang beranjak senja, putranya memiliki ketertarikan yang luar biasa terhadap fiqh. Semakin hari, terlihat begitu cemerlangnya separuh jiwanya itu, banyak yang terpesona dengan ilmu yang membuatnya bangga membuncah.

Seusai itulah, tidak ragu bagi sang ibu untuk memberikan hadiah belipat-lipat kepada ahli ilmu yang membimbing putranya. Ia begitu dermawan. Diberikan berlebihan dari harta dinar titipan suaminya. Bahkan hingga kinipun, sang suami belum juga pulang.

Sang ibu tidak segan-segan untuk menghabiskan hartanya, demi bait per bait ilmu yang didapat oleh sang putra.  Hingga beberapa waktu lamanya, diusia senja sang suami datang padanya. Namun, terbesit kekhawatiran, bagaimana jika sang suami menanyakan amanah 30.000 dinar pada 30 tahun yang lalu. Sedangkan tiada tersisa sedikit pun ditangannya.

Selagi sang ibu mencari jawab atas tanya itu, sang suami menghadiri majelis ilmu. Seorang syaikh yang dilingkari oleh tua, muda, kaya dan miskin. Bahkan wajahnya tidak juga tidak bisa ia lihat dengan jelas. Maka ditanyakannya pada orang sekitar, penjelasannya membuatnya takjub. Membuatnya melelehkan air mata keharuan.

Terburu-burulah ia menemui istrinya, memeluknya. Syaikh yang dilihatnya adalah putranya. Namanya Rabi’ah putra Farrukh. Maka diucapkanlah oleh istrinya, “manakah yang kausukai, uang 30.000 dinar atau ilmu dan kehormatan yang telah dicapai putramu?”

Maka diakuinya bahwa harta 30.000 dinar telah ia habiskan demi kebutuhan putranya. Namun, Farrukh berkata “Demi Allah, bahkan ini lebih aku sukai daripada dunia seisinya”.

Amanah Diri

Selembar jiwa ini bersemayam dalam tubuh sempurna. Dia dilengkapi dengan degup jantung, paru-paru yang dipenuhi oksigen tanpa bayar, panca indera yang mampu menyalurkan keindahan dunia fana. Entah, ia kurus, gemuk, hitam, kuning, cantik, tampan, mempesona ataupu tidak. Ia tetap sebuah karunia yang mahakarya.

Ia diciptakan dilingkupi oleh amanah. Setiap tarikan nafas ini adalah episode mancari jawab. Sebuah jawab dari tanya di akhirat kelak. Dan mampukah jawab itu terlontar dengan sempurna. Kita belajar dari ummu Rabiah soal menjaga amanah. Dinarnya adalah amanah. Namun putranya juga amanah. Menjadikan shalih seorang putra adalah hak baginya.

Ummu Rabi'ah tahu bagaimana memperlakukan sebuah amanah. Dinar yang sirnah karena pencapaian ilmu bagi putranya, adalah jawab dari sebuah amanah sang suami. 

Ilmu adalah cahaya

Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tak mengetahui? Sesungguhnya, Ulul Albablah yang dapat mengambil pelajaran. (Q.s. Az. Zumar :9)

Mencari tahu dan berilmu adalah hak. Dengannya segala kerumitan menjadi mudah. Temaram menjadi terang. Dengan berilmu, mudahlah seorang diri memilah mana baik dan tidak. Ilmu pula yang menenggelamkan keputusasaan. Karena dengan berilmu kita mampu mengenal jauh Tuhan kita. Sehingga tahu bagaimana amanah ini harus dijalankan.

Kita perlu peluh dalam mengkaji ilmu. Anak desa rela mengayuh sepeda hanya untuk menguasi huruf-huruf untuknya bisa membaca. Menguasai sebuah ilmu diperlukan kegigihan sejati. Berilmu dunia bisa begitu masyur. Bagaimana dengan ilmu tentang akhlak dan aturan hidup sebuah titah amanah Illahi (Al Qur'an). Karena dalam keimanan, tiada pemisahan antara urusan dunia ataupun akhirat. 

Dan sebagaimana janjiNya terhadap anak yang mampu menguasai Al Qur’an. Mahkota akan disematkan bagi kedua orang tuanya. Sebab itulah, betapa dinar dunia tidak mampu menandingi seorang anak yang berilmu. Karena hanya bagi orang yang berilmulah pula yang mampu mengerti untuk tidak meninggalkan sebuah generasi pelupa amalan Al Qur’an.

Oleh sebab itu, pendidikan islami adalah sebuah sindikat kebaikan. Konspirasi kesalehan. Disana tersaji bagian-bagian untuk mendapatkan amal jariah. Ini berlaku bagi siapapun yang rela mengusahakannya, walaupun ia hanya sekedar pembersih pelataran dimana ilmu itu ditimba.

Karena tangisan penyesalan, bukanlah jawaban dari sebuah amanah. Walaupun, kita hidup sebenarnya hanya untuk mampu mencari jawab dari segala amanah yang melekat.

Duhai Robbi. Kami mohon cahaya pada hati kami, cahaya ilmu, cahaya amanah, penerang jalan kami di dunia dan akhirat. Generasi Qur’ani adalah beranda surga. Tidak mengapa, walau baru melihat berandanya saja.

Duren sawit, 25 Juni 2015.



Minggu, 14 Desember 2014

Jatuh Cinta



Jika rindu itu gelombang, maka ia bergemuruh. Dan jika cinta itu berwarna maka ia adalah pelangi. Begitu pula jika kasih adalah mendung maka ia menjelma menjadi hujan.

Jatuh cinta. Ia adalah bagian dari riak-riak rasa. Terjadi pada seorang insan yang tiba-tiba terikat pada sebuah pesona. Kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta dengan siapa. Tapi, kondisi jatuh cinta itu karena ada presepsi awal yang tertanam dalam benak anak manusia dalam hal mendefinisikan kekaguman.

Cinta memang bersifat universal, artinya tidak melulu dengan seseorang yang berbeda jenis. Namun, proses jatuh cinta adalah hal yang memang dialami semua orang. Seorang bayi yang baru lahir, akan jatuh cinta pada ibunya. Simplenya adalah ada pesona yang hadir pada sang bayi, yang saat itu dan ia pahami secara sederhana, ibunyalah yang telah memberikan rasa aman baginya. Bagaimanapun juga, proses jatuh cinta itu pasti karena sebuah sebab. Entah disadari atau tidak. Walaupun ada yang bilang kita tidak bisa memilih untuk jatuh cinta dengan siapa dan dengan cara bagaimana.

Cinta Merah Muda

Jatuh cinta adalah sebuah proses yang ajaib. Bisa dikatakan anugrah. Kondisi seseorang yang sedang jatuh cinta menimbulkan prilaku berragam. Menciptakan desiran pada hati dengan ritme degup detak jantung yang tidak stabil. Saya sedang tidak jatuh cinta. Namun, saya pernah merasakannya. Kesempatan ini, saya mengkhususkan menuliskan tentang betapa ajaibnya sebuah aktivitas jatuh cinta. Karena situasi ini sedang terjadi pada sahabat saya. Ia sedang jatuh cinta dan mendamba sangat dalam untuk bisa berdampingan dengan pria tersebut. 

Kondisi jatuh cinta itu menimbulkan banyak pertanyaan baginya. Apalagi cinta itu terjadi hanya kerena satu kali pertemuan. Tapi usai itu, dampak jatuh cintanya membuatnya sedikit limbung.  Prosesnya begitu cepat. Saya dan ia, pernah berfikir bahwa pada rentangan garis usia kami, jatuh cinta dapat ditakar dengan logika. Atau tidak akan mudah bagi kami untuk jatuh cinta lagi, karena usia kami jauh dari usia remaja, dimana usia tersebut tidak terlalu banyak menggunakan logika dalam hal menyukai sesuatu. Selain itu, kami sudah banyak memiliki pengalaman hidup. Sehingga dengan sekuat tenaga berharap jatuh cinta tidak mencincang hati menjadi serpihan kecil-kecil.

Dan ternyata salah. Tepatnya saya yang salah. Kerena hingga tulisan ini saya buat, sebuah keindahan dan keajaiban cinta baru ada pada sebuah film korea. Karena bagi saya proses jatuh cinta adalah sebuah kejadian pagi, sedangkan kita harus menghadapi siang dan malam kehidupan. Jatuh cinta adalah salah satu bagian dari aktivitas hidup. Ia adalah riak-riak rasa, satu dari sekian banyak rasa dalam kalbu seseorang manusia.

Namun, cinta bagi sahabat saya itu membuat saya merenung, cinta adalah fitrah yang tidak terbantahkan. Maka saya katakan padanya, nikmatilah rasa itu. Ekspresikan cinta dengan anggun, dengan aturan Tuhan terhadap yang mengikat kita agar selamat dari kejahatannya. Biasanya patah hati membuat berderai air mata, tapi ternyata bagi dia jatuh cinta membuatnya matanya basah. Dan yang membuat saya kagum, jatuh cinta yang terjadi padanya membuatnya semakin banyak memeluk sajadah. Kami sama-sama menyakini cinta adalah bagian tanda atau serangkaian pesan Tuhan yang ingin Dia sampaikan.

Jatuh cinta adalah kekuatan

Cinta adalah sebuah kekuatan dan akan berakhir pada sebuah tindakan pengorbanan. Maka karena hal itulah, saat tengah di mandikan sebuah rasa bernama cinta, setidaknya kita harus membangun pertahanan. Sehingga cinta tidak mengubur hati kita hidup-hidup. Yang membuatnya tidak bernafas saat jatuh cinta menjadi patah hati. Karena ada kalanya tangan bisa bertepuk hanya sebelah. Atau ada mata kunci yang hilang, sehingga ada ruang dalam hati kita belum bisa terbuka oleh seseorang yang tepat.

Karena walaupun ruangan di hati itu ingin sekali berpenghuni, nyatanya ia hanya bisa diisi oleh seseorang yang ditakdirkan Tuhan untuk mendiaminya selamanya. 

Jatuh cintalah berkali-kali

Seperti yang saya katakan tadi, jatuh cinta adalah pagi. Kondisi tanpa syarat. Bahkan bisa pada kondisi rasa yang klimaks. Oleh sebab itu, kondisi itulah yang bisa disebut buta dan mampu membuat seseorang mengabaikan apapun. Ada energi yang terjadi didalamnya. Dan saat kita melanjutkan ke bagian siang dan malam. Energi pagi seseorang yang sedang jatuh cinta memudar. Maka jika kondisi jatuh cinta dapat dibuat  berulang-ulang, lakukanlah.

Seorang anak akan jatuh cinta berkali-kali dengan orang tuanya. Suami yang jatuh cinta lagi pada istrinya lagi, begitu sebaliknya. Dan buat para single, jatuh cintalah dengan anggun. Sehingga dapat bertindak dengan aturan yang baik. Karena bisa jadi jatuh cinta adalah anugrah. Karena tidak semua orang dapat ditakdirkan jatuh cinta lagi.

DS, 14 Desember 2014

Catatan buat grup kepompong, yang malam ini ribut di grup. I love u, all. :)
This is for ms. Bunny.






Jumat, 05 Desember 2014

Sukses dan Bahagia



Jika kita tidak bermanfaat, maka kita akan dipunahkan alam semesta. Dan lebih menarik lagi dari yang ia temukan saat itu adalah sebuah barisan kata yang mengilhaminya bahkan 50 tahun setelahnya, sebuah pesan yang membuatnya merenung bahwa kalau kita curahkan waktu dan perhatian demi kepentingan sesama maka alam semesta akan mendukung kita, selalu, dan persis di saat-saat kritis.

Buckmister Fuller mendapatkan kata-kata tersebut saat dirinya berniat mengakhiri hidupnya di danau Michigan. Saat perasaan bersalah telah menghukum hari-harinya, usai kematian anaknya. Buckmister Fuller bukanlah seseorang yang tidak beruntung. Ia orang yang cerdas dan sukses namun rasa bahagia seakan terus menjauh.

Bagaimana mendifinisikan sebuah kesuksesan maka akan banyak persepsi soal itu. Masing-masing mendefinisikan berdasarkan sudut pandang berbeda. Satu sama lainpun bisa saling membantahnya. Sedangkan bagaimana soal bahagia? Saya rasa akan banyak definisi lagi tentang hal tersebut. Karena ukuran tingkat kepuasan hidup pun dirasakan berbeda diantara antar personal manusia. Bahagia adalah akhir dari sebuah banyak pinta, impian dan rasa yang begitu dicari dari sebuah proses kehidupan.

Dalam buku The 7 laws of happiness karya Arvan Pradiansyah, Sukses adalah mendapatkan apa yang kita inginkan, sementara bahagia adalah menginginkan apa yang anda dapatkan. Sukses dan bahagia adalah dua jalur jalan yang berbeda. Sukses lebih berdimensi fisik sementara kebahagiaan berdimensi spritual.

Untuk menjadi sukses kita perlu sebuah target, kerja keras dan dengan syarat. Sedangkan bahagia adalah hal yang bisa dimulai kapan saja. Bahagia bisa berada diantara keadaan berjuang. Diantara keringat-keringat yang diusahakan untuk sebuah kebaikan. Jika kita memutuskan bahagia dengan syarat, maka saat kita belum mendapatkan yang kita inginkan, bahagia akan menjadi angan-angan. Bahagia adalah sebuah keputusan hati. Sebuah keadaan yang diciptakan manusia itu sendiri. 

Apa yang kurang dari Buckmister Fuller, seorang ahli geodesic, kaya, cerdas dan dihormati. Namun, ia adalah seorang yang sempat ingin mengakhiri hidupnya. Dia belum menemukan bahagia diantara banyak pencapaiannya. Hingga akhirnya ia mampu menemukan kebahagiaan saat dirinya mengetahui cara untuk mengabdikan diri pada alam semesta. Karena menurutnya jika tidak manfaat, maka akan dipunahkan.

Saya mendapatkan cerita tentang Buckmister Fuller dari bapak Tung Desem waringin dari seminar yang beliau sampaikan yang bertajuk Succes Revolution, beliau adalah seorang pakar marketing.  Salah satu dari empat pembicara hebat yang hadir saat itu. Saya menyimpulkan dari yang beliau sampaikan bahwa saat menggapai sukses atau hal yang ingin kita capai, jangan lupa untuk tetap menyelipkan bahagia dengan syukur yang untuk hal yang telah ditangan. Bahagia dapat dimulai sekarang. Namun, syukur juga jangan membuat kita naif, untuk membuat langkah kita terdiam. Merasa tidak perlu lagi untuk bergerak mencapai sebuah keinginan.

Apa yang saya syukuri, apa yang harus saya pelajari dari kejadian ini sehingga besok menjadi lebih baik dan apa yang saya lakukan sekarang agar merasa lebih baik dan orang lain menjadi lebih baik. Deretan pertanyaan tersebut menjadi kunci untuk kita melakukan pergerakan untuk mencapai sebuah rasa bernama bahagia.

Karena human nature adalah do something. Sebenarnya jika kita lebih mendalami hukum alam, setiap gerakan kita akan mampu selaras. Dan jika kita mencoba memungkiri keadaan hukum alam maka kita tidak akan mampu mengimbangi keadaan hidup. Hal ini mengingatkan saya tentang hukum kekekalan energi, saya yakin segala kelelahan yang kita lakukan akan berdampak pada hidup kita kembali. Energi itu kekal, ia hanya berubah bentuk dan yang pasti akan kembali pada pemiliknya. Seperti kata Tuhan, akan ada balasan bagi sebuah tindakan, bahkan hanya sebesar dzarrah pun.

05 Desember 2014