Senin, 15 Januari 2018

CEMBURU



Pembahasan rasa ini memang sangat unik. Sebuah rasa yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) salah satu pengertian merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dan sebagainya.

Namun, jika pengertian tersebut lebih cenderung negatif, cemburu juga tidak luput dari sebuah rasa yang dibahas dalam islam. Sebuah rasa yang fitrah bagi seorang insan. Bahkan, sesungguhnya Allah cemburu, orang beriman cemburu dan cemburuNya Allah jika seorang mu’min melakukan apa yang Allah haramkan atasnya (HR. Imam Ahmad, Al Bukhori dan Muslim)

Kompleks rasa itu karena berdampak pada sikap yang kadang sulit dimengerti oleh akal sehat. Begitu pula dengan adab. Karena dikuasai rasa itu, adab bisa saja tertabrak. Tidak terpikir pantas atau tidak.
Kecemburuan yang ada terkadang timbul dibumbui oleh situasi yang mendukung dan keadaan yang menimbulkan prasangka datang. Sehingga jangankan heran jika perasaan cemburu ditingkahi oleh sikap yang menimbulkan kondisi tidak nyaman.

Dan apakah kecemburuan yang menguasai seseorang dapat dikendalikan? Malu, akhlak dan kembali adab yang mampu menahannya. Sekelas istri Rosulullohpun pernah dikuasainya. Sehingga sebenarnya kecemburuan itu adalah hal yang wajar. Tapi lebih indah jika usaha menahannya sesuai dengan keindahan sikap.

Sangatlah tidak mudah. Dari banyaknya rasa yang sulit untuk dikendalikan atau butuh ekstra perjuangan untuk mengendalikannya. Yah, tergantung juga dengan tingkat besar tidaknya kecemburuan itu.

Untuk itu penting mengenali rasa cemburu yang mulai terjangkit, mengenali akar mengapa rasa itu tiba-tiba muncul di dalam dada, mengapa seolah-olah kemarahan timbul dari dalam diri yang ingin diungkapkan. Tidak banyak juga, kecemburuan tersimpan rapat. Namun, kecemburuan yang menimbulkan kemarahan bahkan fatalnya bisa juga menimbulkan sikap tidak nyaman dan bahkan mengganggu orang-orang sekitar.

Kecemburuan terbaik meliputi irinya kita terhadap amalnya seorang muslim. Cemburu pada orang-orang yang menjadikan kebaikan di sekitar langkahnya, sedangkan diri kita masih berkelimpangan dengan maksiat.

Terlebih-lebih cemburu ini, pada sikapnya Abu Bakar terhadap Rosululloh, pemahaman hubungan antara Umar dengan Nabi SAW dan simpatinya Rosul terhadap Ustman yang pemalu. Duhai, mana yang lebih indah dari hubungan itu. Dan sunggu hubungan yang mungkin tidak pernah kita temui lagi walaupun sekiranya kita cemburu setengah mati.

#sarapankata
#KMOIndonesia
#KMObatch12
#Day2
#CeritaKertas

ADAB BERADAB

Oleh : Ani Sudaryanti
Apa yang ingin disampaikan. Apa yang menggelitik untuk dinilai dan menjadikan diri resah untuk menjadikan bahan perenungan.

Sebagian mungkin merasakan seperti itu, sebagian lagi sebagai ukuran untuk aktualisasi diri. Karena sejatinya, apa yang terkonsumsi harusnya memang mampu dikeluarkan, disalurkan, disampaikan.
Sampai pagi ini, detik ini, dari banyaknya harmoni kehidupan yang kita nikmati. Banyak sekali, berserakan hikmah-hikmah yang tersaji. Untuk apa? Cara Tuhan sampaikan pesanNya, caraNya mendidik makhluk papa yang memang mudah menyerah atau terlena.
Atau bisa juga cara lain menyampaikan pada yang mengikat pada ambisi tanpa sekat, bahwa keringatmu juga akan mengering jika tujuannya tersungkur pada tamak.
Oleh sebab itu, menjadikan tiada yang benar-benar tahu kebenaran saat berpikir. Dan sulit dihindari, banyak sekali prasangka-prasangka yang mengelilingi kita, terbersit tiba-tiba karena kesimpulan pikiran keterbatasan manusia.
Dan nanti di masa peradilan kelak, dimana tidak ada lagi kepalsuan, satu sama lain saling menggugat. Bahkan saudara lupa siapa saudaranya, darah tidak lagi sekental hubungan dikarenakan serahim. Ah, membayangkannya saja menggenangi air mata. Atau sebaliknya, banyak hubungan yang terbangun tanpa alasan tapi mampu memberikan syafaat.
Untuk itu, pada setiap pertikaian, kecemburuan dan ketidakpuasan, mari menitik lebih jauh, memahami mengapa adab menjadi pelajaran penting. Karena penghargaan tulus menilaimu lebih tinggi.
Jadi bukan hal yang tabu jika manusia tiada boleh sampaikan rasanya. Marahnya, bencinya dan kecewanya. Atau bahagia yang tidak terhingga. Tergelitik diri untuk sampaikan kepada semua khalayak ramai yang pada akhirnya kita akan menyesali jika tidak sesuai adab. Walaupun, itu sebuah puncak bahagia.
Seperti adab yang disuguhkan Abu Bakar ketika sholat berjamaah di kala subuh, dimana saat itu Rosullulloh sedang dalam keadaan sakit tiba-tiba hadir untuk sholat berjamaah, Abu Bakar yang telah bersiap sebagai imam, tertunduk mundur tak mau melangkahi sang Rosullulloh menjadi imam. Walaupun, jika itu terjadi sangatlah tidak bermasalah. Karena Adab yang dicontohkan Rosullulloh lebih luar biasa. Keadaan ini adalah suguhan menakjubkan.
Lihatlah, penilaian dari sebuah kata menakjubkan pun berbeda-beda. Ia bisa dirangkai dari kisah-kisah sederhana para petualang rakyat jelata, dari para pembesar dengan tingkah bersahaja. Semua ternilai menjadi menakjubkan.
Keadaan itu memenuhi ruang hati. Hati yang seperti apa? Seirama, pola pandang yang sejalan. Sehingga setiap adab yang dilakukan, dituai dengan persetujuan dan sepakat saja. Lainnya, disisipi pemakluman.

Kamis, 04 Agustus 2016

Leonel Messi dan Tim Work


Oleh : Ani Sudaryanti

Leonel Messi mengumumkan keputusannya untuk tidak lagi memperkuat tim nasional Argentina. Mengapa? Usia Leonel Messi masih 29 tahun, untuk perperan sebagai pemain profesional masih bisa mencapai 5 atau bahkan 7 tahun kedepan. Kemungkinan untuk berprestasi sangat besar.

"Timnas bukan untuk saya. Bagi saya, timnas sudah berakhir. Saya sudah lakukan semampu saya, menyakitkan tidak menjadi juara" kata Leonel Messi pada satu kesempatan.  Puncaknya pada turnamen Copa America 2016 yang tidak juga mempu berjaya. Coba bayangkan bagaimana perasaan Messi yang sangat mencintai negerinya, tapi harus hengkang gara-gara tidak mampu menghadiahkan kemenangan.

Jika dilihat prestasinya, Messi adalah pemain yang mampu membawa FC Barcelona meraih delapan gelar juara La Liga dan empat piala Liga Champions. Bahkan, dia terpilih sebagai pemain terbaik dunia dengan meraih penghargaan Ballon d'Or sebanyak lima kali. Lantas, mengapa Messi merasa lumpuh saat di timnas Argentina. Bahkan, Messi menjadi bulan-bulanan bully dikarenakan tidak mampu membawa Argentina menjadi juara.

Messi, Argentina dan Barcelona

Tidak ada yang berani meragukan kemampuan Messi dalam bermain bola. Bukan hanya diakui di Argentina atau Spanyol tapi nama Messi sudah mendunia gara-gara sepak bola. Tapi pertanyaan besarnya adalah mengapa jika di Barcelona Messi adalah dewa, justru di Argentina tempat dimana Messi lahir tidak mampu untuk mengangkat namanya sama jayanya saat di Spanyol.

Banyak yang menyalahkan Messi dengan keadaan yang dialami oleh Argentina. Hingga, saat Messi "Frustasi" dan menyatakan gantung sepatu di timnas. Reaksi yang muncul setelah itu terjadi berragam pula.  Pro dan kontra. Hal yang biasa pada sebuah tindakan orang-orang besar. Dan cukup banyak yang mencoba untuk membuat Messi mengurungkan niatnya. Mungkin juga orang-orang yang tidak puas sebelumnya dengan Messi.

Jika ingin menggali lebih jauh antara Messi, Argentina dan Barcelona, mungkin para pakar atau pengamat sepakbola lebih bisa menggali lebih dalam. Tapi apapun itu bahasannya, tidak semua bisa mewakili kejadian yang terjadi secara utuh.

Tapi jangan pernah lupakan bahwa sepakbola adalah kerja tim. Jika hanya fokus terhadap Messi maka itu adalah salah besar. Barcelona dan Argentina terdiri dari orang-orang yang berbeda, dan Messi berada di dua tim tersebut. Tentu saja hasilnya akan berbeda. Banyak faktor yang menyebabkan kemenangan. Salah satunya adalah Tim.

Messi dan Tim Work

Dalam satu tim percuma jika hanya ada satu orang hebat atau banyak orang hebat tapi tidak berkaloborasi. Masing-masing sibuk dengan kehebatannya. Sebenarnya untuk orang hebat butuh orang lemah, karena untuk dikatakan superior dibutuhkan inferior. Jika kumpulan superiorpun belum tentu menghasilkan tim superior. Karena kemungkinan teriakan superior lebih kuat.

Ulasan ini tidak mengatakan bahwa Messi tidak mampu menjalankan posisinya di sebuah tim. Karena, Messi berada di dua tim dengan kondisi yang berbeda. Tantangan bagi kumpulan superior adalah penundukan ego dan mau mendengar. Tidak semua pendapat dan keputusan mampu diterima. Dan kolaborasi kemampuan dari semua superior adalah penting. Percuma jika kelebihan-kelebihan tersebut justru berbenturan dilapangan. Begitu pula dengan tim yang paduan antara superior dan inferior, bukan tidak mungkin justru tim bisa melesat karena penghargaan dari masing-masing individunya.

Yang menjadi tantangannya, bagaimana seorang superior seperti Messi atau seorang inferior tetap mampu menerbangkan sebuah kinerja tim. Kita Messi atau bukan, tidaklah penting. Yang penting adalah kolaborasi. Jangan sampai sang superior terbang tinggi, sang inferior merangkak tersesat.

Duren Sawit, 04 Agustus 2016
Dari Inferior. Saat ruang diskusi sudah sempit, saat waktu sudah semakin limit.


Minggu, 08 Mei 2016

Apa Warna Rindumu?





Oleh : Ani Sudaryanti
 
Jika divisualisasikan sebuah kata rindu, bisa saja diwakilkan pada warna-warna. Dia bisa kelabu, terang atau lembut. Rindu adalah dari sebuah rasa dari banyak rasa yang ciptakan Tuhan dalam kehidupan manusia berinteraksi atau berekspresi.

Jika ada pertanyaan, apa warna rindumu? Itu sama sekali tergantung dari pristiwa yang melatarinya. Rindu bisa tercipta dari jejak-jejak masa lalu atau bisa juga sketsa masa depan yang menjadi harapan. Dalam salah satu bukunya, Salim A. Fillah menuliskan bahwa Allah senantiasa memberikan kepada kita dua sisi mata uang; apa-apa yang kita sukai dan apa-apa yang menjerihkan hati. Disitulah makna kerinduan. Kalau dunia berisikan segala yang kita inginkan, mungkin kita tak perlu memiliki rasa rindu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rindu berarti sangat ingin atau berharap benar terhadap sesuatu. Mungkin bisa disimpulkan rindu adalah perjuangan. Sebuah rasa yang tidak diundang. Dia muncul dari bagian imajinasi yang bergumul dari pemikiran seseorang. Rindu juga dapat menjadi benang penghubung dengan sebuah mimpi. Motivasi. Tangga gambaran tentang masa depan.

Kisah Rindu Syahdu

Membekas sekali dari sebuah perjalanan hijrah Rasulullah dan para sahabat, mereka diperintahkan berpidah dari Mekah ke Madinah. Sebuah perjalanan yang tidak mudah, tidak ada gambaran tentang Madinah. Dan Mekah adalah tempat segala-galanya yang telah mereka miliki. Bahkan sekelas Abu Bakar dan Bilal tetap saja menggulirkan kerinduan mereka terhadap Mekah. Rindu Rumah. Dalam keadaan demam Abu Bakar pun bersyair :

Kala Pagi. Setiap orang bisa berkumpul dengan keluarga. Namun kematian lebih dekat dari tali terompahnya!

Kisah lainnya, tentang perceraian antara Abdurrahman anaknya Abu Bakar dengan istrinya, Atikah. Mereka bercerai bukan karena ada permasalahan dalam rumah tangganya, bahkan terlalu sempurna. Terlalu besar besar cinta diantara mereka. Dan saat Abu Bakar memerintahkan untuk menceraikannya, Abdurrahman menurutinya. Ini terjadi karena cinta Abdurrahman terhadap Atikah telah melalaikan jihad dan ibadah. Cinta yang dihadirkan dikhawatirkan mengalahkan cintanya terhadap Allah. Dan itu luar biasa.

Keadaan tersebut, melahirkan rintihan rindu dari seorang Abdurrahman bin Abu Bakar. Sesuatu hal yang manusiawi. Hingga pada akhirnya mereka rujuk kembali. Lain halnya dengan Buya Hamka semenjak ditinggal meninggal istrinya. Beliau, jika dilanda rindu maka akan sholat taubat 2 rokaat dan membaca Al Qur’an hingga lelah. Dan ketika ditanya mengapa harus sholat tobat? Karena takut kecintaannya terhadap istrinya lebih besar dibandingkan cintanya kepada Allah. Masya Allah. Sebuah rindu yang coba disekam adalah perjuangan.

Rindu dan Kesempatan

Berjalannya detik sedetik waktu entah lambat, entah cepat meninggalkan adalah pasti. Meninggalkan masa lalu. Rindu pada masa kecil, pada sahabat-sahabat pergerakan dalam kebaikan, teman berbagi cerita dan kemanjaan orang tua. Situasi rindu yang tidak jarang kita rasai. Masa-masa perjuangan, walaupun kadang disela oleh tangis pedih. Maka saat kita dilingkari oleh orang-orang baik, orang-orang yang sholeh, sebenarnya itu rejeki. Itu adalah kesempatan yang harus kita syukuri. 

Rindu pada sebuah perubahan kebaikan, rindu pada ketenangan, rindu tentang peradaban islam dan rindu tentang kejayaan kebaikan adalah hal-hal yang kita harap untuk terjadi dimasa depan. Itu adalah tangga atau bahan bakar kita untuk dapat mengusahakannya. Karena itu tidak mudah, usaha-usaha yang butuh keringat yang dibungkus oleh keimanan. 

Dan mungkin yang paling menyesakan jika kita bayangkan sebuah kata rindu adalah amal sholeh yang kita ingat saat di alam kubur, kebaikan yang tiada dapat terbilang besar saat diakhirat. Rindu untuk kembali ke dunia. Bertekad melakukan seluruh kebaikan. Dan saat itu, rindu sudah tidak berdampak apa-apa. 

Dan jika rindu masih pada sebuah lingkaran dunia. Mari kita sikapi dengan anggun, menikmati rindu sebagai karunia, menyikapi dengan bijak dan membungkus rasa rindu pada kotak hati terdalam. Sampaikan rindumu dalam ranah yang baik, titipkan doa terbaik dari Sang Pemilik rindu.

Saatnya menghargai semua yang kita miliki sekarang, suatu saat nanti kemungkinan kita akan merindui kesempatan ini.

Selamat Merindu

DS, 08 Mei 2016
Long weekend.




Kamis, 25 Juni 2015

Cahaya Hati, Lentera Amanah.


Seorang wanita mulia mendapatkan pesan dari suaminya, ia mendapatkan 30.000 dinar, untuk ia simpan dan pergunakan sebagai mana mestinya. Usai itu, suaminya pergi ke medan jihad hingga tidak kembali beberapa lama.

Amanah padanya tidak hanya dinar tersebut, tapi jabang bayi yang bersemayam di rahimnya. Untuk jangka waktu yang lama, sang penitip amanah tidak juga kembali. Tanggung jawab itu, dia emban dengan baik. Diasuh dan didiknya putra semata wayangnya. Dilihat potensi sang belahan jiwa, dia titipkan pada banyak alim ulama. Mimpinya menjadikan putranya menguasai ilmu kebaikan. Kerena, keshalihan putranya tersebut adalah investasi terbaik baginya.

Sepanjang waktu yang beranjak senja, putranya memiliki ketertarikan yang luar biasa terhadap fiqh. Semakin hari, terlihat begitu cemerlangnya separuh jiwanya itu, banyak yang terpesona dengan ilmu yang membuatnya bangga membuncah.

Seusai itulah, tidak ragu bagi sang ibu untuk memberikan hadiah belipat-lipat kepada ahli ilmu yang membimbing putranya. Ia begitu dermawan. Diberikan berlebihan dari harta dinar titipan suaminya. Bahkan hingga kinipun, sang suami belum juga pulang.

Sang ibu tidak segan-segan untuk menghabiskan hartanya, demi bait per bait ilmu yang didapat oleh sang putra.  Hingga beberapa waktu lamanya, diusia senja sang suami datang padanya. Namun, terbesit kekhawatiran, bagaimana jika sang suami menanyakan amanah 30.000 dinar pada 30 tahun yang lalu. Sedangkan tiada tersisa sedikit pun ditangannya.

Selagi sang ibu mencari jawab atas tanya itu, sang suami menghadiri majelis ilmu. Seorang syaikh yang dilingkari oleh tua, muda, kaya dan miskin. Bahkan wajahnya tidak juga tidak bisa ia lihat dengan jelas. Maka ditanyakannya pada orang sekitar, penjelasannya membuatnya takjub. Membuatnya melelehkan air mata keharuan.

Terburu-burulah ia menemui istrinya, memeluknya. Syaikh yang dilihatnya adalah putranya. Namanya Rabi’ah putra Farrukh. Maka diucapkanlah oleh istrinya, “manakah yang kausukai, uang 30.000 dinar atau ilmu dan kehormatan yang telah dicapai putramu?”

Maka diakuinya bahwa harta 30.000 dinar telah ia habiskan demi kebutuhan putranya. Namun, Farrukh berkata “Demi Allah, bahkan ini lebih aku sukai daripada dunia seisinya”.

Amanah Diri

Selembar jiwa ini bersemayam dalam tubuh sempurna. Dia dilengkapi dengan degup jantung, paru-paru yang dipenuhi oksigen tanpa bayar, panca indera yang mampu menyalurkan keindahan dunia fana. Entah, ia kurus, gemuk, hitam, kuning, cantik, tampan, mempesona ataupu tidak. Ia tetap sebuah karunia yang mahakarya.

Ia diciptakan dilingkupi oleh amanah. Setiap tarikan nafas ini adalah episode mancari jawab. Sebuah jawab dari tanya di akhirat kelak. Dan mampukah jawab itu terlontar dengan sempurna. Kita belajar dari ummu Rabiah soal menjaga amanah. Dinarnya adalah amanah. Namun putranya juga amanah. Menjadikan shalih seorang putra adalah hak baginya.

Ummu Rabi'ah tahu bagaimana memperlakukan sebuah amanah. Dinar yang sirnah karena pencapaian ilmu bagi putranya, adalah jawab dari sebuah amanah sang suami. 

Ilmu adalah cahaya

Adakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tak mengetahui? Sesungguhnya, Ulul Albablah yang dapat mengambil pelajaran. (Q.s. Az. Zumar :9)

Mencari tahu dan berilmu adalah hak. Dengannya segala kerumitan menjadi mudah. Temaram menjadi terang. Dengan berilmu, mudahlah seorang diri memilah mana baik dan tidak. Ilmu pula yang menenggelamkan keputusasaan. Karena dengan berilmu kita mampu mengenal jauh Tuhan kita. Sehingga tahu bagaimana amanah ini harus dijalankan.

Kita perlu peluh dalam mengkaji ilmu. Anak desa rela mengayuh sepeda hanya untuk menguasi huruf-huruf untuknya bisa membaca. Menguasai sebuah ilmu diperlukan kegigihan sejati. Berilmu dunia bisa begitu masyur. Bagaimana dengan ilmu tentang akhlak dan aturan hidup sebuah titah amanah Illahi (Al Qur'an). Karena dalam keimanan, tiada pemisahan antara urusan dunia ataupun akhirat. 

Dan sebagaimana janjiNya terhadap anak yang mampu menguasai Al Qur’an. Mahkota akan disematkan bagi kedua orang tuanya. Sebab itulah, betapa dinar dunia tidak mampu menandingi seorang anak yang berilmu. Karena hanya bagi orang yang berilmulah pula yang mampu mengerti untuk tidak meninggalkan sebuah generasi pelupa amalan Al Qur’an.

Oleh sebab itu, pendidikan islami adalah sebuah sindikat kebaikan. Konspirasi kesalehan. Disana tersaji bagian-bagian untuk mendapatkan amal jariah. Ini berlaku bagi siapapun yang rela mengusahakannya, walaupun ia hanya sekedar pembersih pelataran dimana ilmu itu ditimba.

Karena tangisan penyesalan, bukanlah jawaban dari sebuah amanah. Walaupun, kita hidup sebenarnya hanya untuk mampu mencari jawab dari segala amanah yang melekat.

Duhai Robbi. Kami mohon cahaya pada hati kami, cahaya ilmu, cahaya amanah, penerang jalan kami di dunia dan akhirat. Generasi Qur’ani adalah beranda surga. Tidak mengapa, walau baru melihat berandanya saja.

Duren sawit, 25 Juni 2015.